Review Film 300: RISE OF AN EMPIRE (2014)

"300: Rise of an Empire (2014)" movie review by Glen Tripollo
Gue termasuk orang yang menggemari film-film dengan genre seperti ini, istilah kerennya tuh historical fantasy, yang mana inti kisah sebenernya mengambil setting kejadian yang memang ada di dalam sejarah, namun ditambah bumbu-bumbu fantasy biar kemasannya semakin seru. Biasanya cerita model begini punya satu kesamaan, yaitu adanya adegan perang secara besar-besaran yang brutal ditambah adegan gore yang membuat penonton tercengang. Tebas sana, tebas sini, darah muncrat kayak sirup ABC rasa cocopandan. Pemandangan yang sangat indah bagi para penggemar darah (bukan vampire).

"300: Rise of an Empire (2014)" merupakan sequel dari "300 (2006)". Yap, rentang waktu yang cukup panjang bagi suatu film untuk kemudian digarap sequel-nya, yakni delapan tahun. Nah, walaupun rentang penggarapannya jauh, timeline atau setting waktu yang dipakai dalam film ini masih sama dengan film sebelumnya. Jadi, kalo di film sebelumnya menceritakan tentang Leonidas, pemimpin perang bangsa Sparta yang berjuang ngelawan kaum Persia, yang ini menceritakan tentang Themistokles, seorang politikus dan jenderal perang kota Athena yang berperang melawan pasukan armada laut Persia yang dipimpin sama seorang wanita asli Athena, namun terbuang dan dirawat oleh kaum Persia bernama Artemisia.

Sebelum perang, di sini diceritakan juga kalo Themistokles sempat mengunjungi desa Sparta untuk meminta bantuan pasukan memerangi Persia yang menurut kabar sudah siap menyerang Athena. Namun, mereka menolak dan memilih memerangi Persia di jalur lain. Nah, itulah awal mula dari kisah "300 (2006)". Karena penolakan tersebut, akhirnya Themistokles harus menerima kenyataan kalau dirinya hanya bisa bergantung pada pasukan Athena saja yang jumlahnya sedikit. Sangat jauh bila dibandingkan dengan armada laut Persia yang gila-gilaan. Terlebih orang Athena nggak sekuat kaum Sparta yang sama sekali nggak takut mati.


Perang pertama pun terjadi di laut. Dengan kepintaran Themistokles membuat perangkap, mereka berhasil memukul mundur pasukan Persia, tapi itu hanya sementara, karena Persia nggak menyerah. Dengan sedikit tipu daya dan usaha negosiasi (yang sayangnya gagal), Persia pun berhasil memojokkan pasukan Athena. Nah, Themistokles kehilangan banyak banget di sini. Mulai dari kapal yang memadai, persenjataan, pasukan dan juga seorang teman yang begitu dia sayangi.

"300: Rise of an Empire" merupakan tontonan yang menghibur. Adegan pertempurannya luar biasa. Strategi perangnya pun keren. Bagaimana kita bisa ngeliat pasukan kecil Athena bisa menghancurkan beberapa kapal laut besar hanya dengan mengandalkan setting pertempuran. Bagaimana mereka yang hanya bermodalkan pedang, tameng dan pedang tanpa baju besi yang memadai, berhasil memukul pasukan yang kebanyakan mengenakan baju besi yang rapat.


Tapi, Guys! Ada beberapa kekurangan dalam film ini dibandingkan dengan film sebelumnya. Pertama, di film ini sudut pandang berpindah pada Themistokles, tokoh yang tiba-tiba muncul begitu saja sebagai pemimpin perang Athena. Keberaniannya memang luar biasa, tapi penggalian karakter terhadap dirinya ini gue rasa masih sangat kurang. Jadi kayak liat cerita yang tiba-tiba ada satu orang, entah kenapa mendadak menonjol, terus perang ngelawan pasukan raksasa. Udah gitu doang. Sama sekali tak ada rasa simpati yang bisa gue rasain ketika pasukan Themistokles ini terpojok, karena gue nggak kenal siapa sebetulnya Themistokles ini. Harusnya sih dikasih juga sedikit background masa lalu Themistokles, pandangan-pandangan hidupnya, dan bagaimana akhirnya dia bisa jadi orang penting di Athena. Dengan begitu penonton bisa lebih mengenal dan menyelami tokohnya. Nggak ada rasa simpati, means adegan tempurnya berefek biasa saja.

Kedua, dari segi sinematografi yang sangat-sangat menurun kualitasnya dibandingkan edisi pertamanya. Sinematografi "300 (2006)" itu memiliki nilai seni, menggunakan elemen warna noir dan tone yang agak dark, ditambah dramatisir emosi dengan memanfaatkan slow motion yang tepat pada tempatnya. Hal seperti ini gak bisa ditemukan dalam sequel-nya. Mau nggak mau penonton pasti ngerasa kecewa, karena rata-rata mereka nonton film ini karena rindu dengan keindahan tragis yang disajikan di film pertamanya.


Gue malah bersimpati sama tokoh Artemisia di sini. Di mana pemimpin pasukan laut Persia ini lumayan tergali dengan baik masa lalunya yang kelam, tertindas sama bangsa Athena hingga dirawat sama orang Persia, membuatnya wajar kalau merasa begitu dendam sama Athena dan memilih setia sampai mati dengan Persia. Ditambah akting luar biasa Eva Green, membuat karakter ini benar-benar terasa hidup. Gue mesti acungin jempol buat Eva Green. Cantik lagi! :3

So, as usual, sebagai penutup gue bilang kalau film ini nggak bakalan sebagus film pertamanya, tapi masih seru kok untuk dinikmati. Versi bioskop sih udah disensor ya, kalo nonton versi DVD kayaknya bakal ada adegan nudity di atas kapal perang Artemisia. Kejadian saat Artemisia ngundang Themistokles untuk bernegosiasi, malah *uhuk* begituan *uhuk*. So, perhatikan anak-anak, jangan sampe ikutan nonton. Terus kalo kamu seorang cewek yang sukaaaa banget ngeliatin abs cowok-cowok macho, film ini jawabannya. Dasar kamu mesum! :P

My favorite quote:
Themistokles: "Better we show them, we chose to die on our feet, rather than live on our knees!"

Score: 7/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team