Review Film JU-ON: THE GRUDGE (2002)

"Ju-On: The Grudge (2002)" movie review by Kinudang Bagaskoro
Hai, readers! Jadi ceritanya saya nemu film lama ini di suatu tempat, sebenarnya dari dulu juga pengen nonton ini, tapi males—baca: takut—karena film lama. Dan setelah melakukan salat hajat dan salat dhuha, juga membulatkan tekad hingga benar-benar terlihat seperti—tubuh saya—bola, akhirnya saya lulus UN!

Oke-oke, tadi kesalahan teknis, balik ke review. "Ju-On : The Grudge", sejatinya rilis sebagai reboot—atau melanjutkan, mungkin—dari seri-seri sebelumnya, yakni : "Ju-On : The Curse 1 dan 2". Tetap disutradarai orang yang sama, yaitu Takashi Shimizu.

Bercerita tentang sebuah keluarga yang mati mengenaskan di rumah mereka, setelah kejadian tersebut, rumah itu menjadi terkutuk. Siapapun yang berani masuk ke rumah itu maka mereka akan dihantui oleh arwah seorang ibu-ibu bernama Kayako dan anaknya yang tubuhnya belum ditemukan alias menghilang, bernama Toshio, berumur 5 tahun.

Ya sebenarnya sih emang ide itu udah dipakai di genre horor, selama bertahun-tahun hingga berabad-abad yang lalu—ini hiperbola—tapi seperti yang saya tekankan, dibalik ide yang sudah mainstream, terdapat eksekusi yang masih fresh

Keunikan film ini adalah film ini dikemas seperti cerita berbingkai—hampir mirip seperti film omnibus—tapi masih ada keterkaitan antara tokoh-tokohnya, dan cerita tidak berdiri sendiri. Keseluruhan cerita dan masing-masing tokohnya bertemu pada satu titik, tidak lain dan tidak bukan, ya di rumah terkutuk itu.

Film dibuka dengan title: Rika, menceritakan seorang wanita yang bekerja sebagai pembantu dari sebuah pihak instansi. Ia diberi tugas untuk pergi ke rumah keluarga Tokunaga untuk mengurusi seorang nenek. Lalu dia dikagetkan dengan munculnya seorang anak kecil yang tidak diberitahukan atasannya.


Kemudian dilanjutkan dengan Katsuya, pemilik rumah kedua setelah keluarga Kayako meninggal, bercerita sebelum Rika datang ke rumah itu. Setelah itu dilanjutkan dengan Hitomi, adik ipar dari Katsuya. Kemudian maju kembali ke Rika dengan title: Toyama, lalu anaknya yang bernama Izumi, dan yang terakhir adalah Kayako, dimana title yang terakhir ini bercerita sebelum title Izumi.

Dari penjelasan alur di atas—di mana saya sendiri juga bingung mendeskripsikannya—dapat kita temui lagi keunikan filmnya, yaitu alurnya menggunakan alur campuran, di mana di title Toyama terdapat 2 alur yang ditumpuk seperti film "Oculus (2014)". Mungkin, Takashi garap film ini mendekati deadline, jadinya film ini belum disusun secara urut, tapi ya, justru karena ‘carut-marut’nya yang memberikan sensasi saat nonton film ini.

Sinematografinya dark, jadi sense horornya berasa, lalu akting para pemain juga cukup mendukung keseraman film ini. 

Ekspresinya bikin mampus!

Kekurangan? Apa ya kekurangannya? Pemainnya? Bukan, pemainnya gak ada yang kurang, adanya kebanyakan. Lebih lucunya lagi saya gak menemukan adanya plothole sana-sini, jadi bisa dikatakan kekurangan film ini adalah tidak memiliki celah untuk dikritasi, film macam apa ini!

Memorable Scene:
Waktu Kayako merangkak pelan dari tangga sambil mengeluarkan suara gemelutuk tulang dan suara mengerikan dari mulutnya.

Rating: 10/10

Share on Google Plus

Review by Kinudang Bagaskoro

2 komentar:

  1. Kayaknya sangat seram. Apalagi pas maljum kliwon :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. rasakan sensasinya, saya aja nontonnya jumat sore merinding :s

      Hapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team