Review Film THE SECRET LIFE OF WALTER MITTY (2013)

"The Secret Life of Walter Mitty (2013)" movie review by Glen Tripollo
Kalo kamu ngerasa capek dengan genre-genre film yang lagi sering beredar saat ini, baik lokal maupun interlokal, dan pengen ngerasain nonton film yang bener-bener berkesan beda, baik dari segi cerita, penokohan, konflik, dan pesan moral yang disampaikan, dengan kata lain inspiratif dan memotivasi, gue rasa film terbaru Ben Stiler ini cocok jadi menu santap siang kamu. Hal yang perlu diperhatikan sebelum nonton film ini adalah kamu harus dalam keadaan yang sangat rileks atau kamu bakal ketinggalan intisari yang penting dari film ini.

"The Secret Life of Walter Mitty (2013)" adalah film drama comedy yang diberi bumbu adventure dan sentuhan surealisme. Diadaptasi dari sebuah cerpen inspiratif karya James Thurber yang berjudul sama. Gue nggak tahu ini film ke berapa Ben Stiler sebagai sutradara, yang jelas dia lumayan banyak sutradarain film komedi seperti "The Cable Guy (1996)" dan "Zoolander (2001)". Tapi, bagi gue film terbarunya ini kayak berlian di antara film-film klise yang beredar jaman sekarang.

Film ini menceritakan tentang seorang karyawan LIFE Magazine bernama Walter Mitty. Bos besarnya nggak pernah ada di kantor dan sibuk berpetualangan memburu foto-foto alam liar secara ekstrim (sumpah, ada adegan yang kocak abis saking lebaynya perihal gaya motret si bos ini). Sedangkan, Mitty sendiri berada di bagian cetak negatif film untuk dijadikan bahan cover majalah. Yap, posisi yang sepertinya berada di ujung tanduk untuk masa-masa sekarang yang semuanya udah pakai teknologi digital.

Ceritanya LIFE Magazine ini (karena tuntutan jaman) berganti pimpinan dan berniat mengubah sistem majalah cetak menjadi majalah digital dan website, itu artinya Mitty bener-bener udah nggak diperlukan. Tapi, ada satu pesan dari bos besarnya yang harus dipenuhi sama pimpinan baru tersebut, yaitu majalah cetak edisi terakhir harus menggunakan cover dari foto yang sudah dia tentukan. Negatif foto nomor 25 yang mana sudah dipaketkan langsung ke Mitty untuk dicetak. Namun, masalah besar terjadi, negatif nomor 25 ternyata tidak ada. Hanya ada secarik surat, se-roll film tanpa negatif ke-25, dan sebuah dompet. Semacam hadiah Pak Bos untuk Mitty.


Mitty ini bisa dibilang orang yang unik, dan orang seperti dia di dunia nyata mungkin banyak, Gue pun sebenernya termasuk salah satunya. Tipe seorang yang hobi mengkhayal melakukan sesuatu yang besar, sesuatu yang hebat, namun nggak punya cukup keberanian untuk melakukannya. Mitty naksir temen sekantornya, Cheryl Melhoff, yang setelah diusut ternyata udah punya anak satu dan baru cerai sama suaminya.

Banyak komedi plesetan dari beberapa film yang dipakai dalam mode khayalan Mitty. Penggarapannya pun nggak tanggung-tanggung. Efek CG kualitas mahal, super niat untuk penggambaran sebuah khayalan semata. Jujur, ngeliat poster film ini dan juga awal cerita, gue ngira ini film tentang seorang culun yang nantinya jadi superhero. Ternyata gue bener. Superhero, tapi dalam artian yang berbeda.

Penggambaran dasarnya gini, Mitty itu pekerja keras dan setia sama perusahaan walaupun jabatannya nggak seberapa. Tapi, impiannya tinggi, dia pengen segalanya menjadi lebih indah bagi dia, dia ngerasa bakalan keren kalo bisa menjalani hidup kayak bosnya yang berkeliling dunia dan bertualang di alam liar dengan gagahnya. Yep, karena dia suka bengong, jadilah dia di-bully sama temen-temen kantornya. But, Mitty adalah orang yang sabar, gak pernah marah dan selalu go with the flow, walaupun itu membuat hidupnya terasa membosankan dan gitu-gitu aja.



Nah, karena isu tadi, soal negatif film nomor 25 yang hilang entah ke mana, Mitty pun memutuskan untuk mencari langsung ke mana bosnya pergi dan bertanya, mungkin saja negatif filmnya ketinggalan waktu pengiriman atau apalah. Ditambah dengan dorongan semangat dari Cheryl (walau sebenernya Cheryl gak ngasih dorongan beneran, cuma khayalan dia aja), Mitty pun pergi ke Greenland menelusuri jejak bosnya. Dari sini petualangan hebat yang bahkan melebihi apa pun yang pernah dikhayalkannya terjadi.

Gue bisa bilang kalo "Walter Mitty" bukanlah film yang bisa dinikmati sama segala jenis manusia. Pertama, penggambarannya inti cerita agak berat untuk dipahami langsung, khayalan-khayalan absurd yang bakal bikin beberapa jenis penonton ngerasa jengah, dan lain-lainnya. Tapi, nggak bagi gue. Film ini menyimpan banyak edukasi. Seperti tagline-nya "Stop Dreaming, Start Living", mendorong penonton untuk menggebrak kebiasaannya bermimpi tinggi saja, dengan semangat untuk sesekali keluar jalur kebiasaan demi mendapatkan apa yang kita impikan.

Seriously, it's a brilliant drama. Ceritanya menyentuh. Belum lagi twist di ending yang sangat mengharukan. Akting tokoh-tokohnya kelas atas semua, membuat film ini berasa real banget (walau banyak hal-hal absurd) dan mampu membangkitkan semangat siapa pun yang menontonnya (dan mengerti). Yep, wajib open mind yak!

My favorite scene:
Adegan khayalan Mitty waktu rebutan boneka karet sama bos barunya, udah kayak film-film superhero, berselancar di jalanan (agak sedikit melayang) sambil tarik-tarikan.

NB: Gue kasih rating agak rendah bukan karena filmnya jelek, tapi karena film ini memang bukan konsumsi semua tipe penonton.

Score: 7,8/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

4 komentar:

  1. woogh, thanks udah dibikin reviewnya, ini film bener2 gak bikin bosen walau di tonton berkali-kali. Tapi ada beberapa bagian yang gak ditunjukin di review ini, misalnya music yang dipakai dalam film ini juga bener2 mempengaruhi feel saat menontonnya. Misalnya lagu "Ground control to major tom" pas si Mitty ragu buat naik pesawat, dan juga ending themenya "Stay alive" Liriknya bener2 bikin bulu kuduk merinding.

    Tapi yang bener2 biin saya kagum adalah pemakaian setting filmnya yaitu Greenland dan Iceland, jarang2 ada film yang pakai setting pojokan dunia gitu, dan keindahan alamnya juga bikin mata dan hati seger :D

    Well, mengesampingkan banyaknya adegan absurd dalam film jenis drama gini, Walter Mitty benar2 kado terindah yang ditayangkan pas hari natal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih tambahannya, Bro. Iya bener, musiknya emang bikin feelnya makin berasa. Masalah Greenland dan Iceland, yep bener juga. Gue juga ngerasa hal yang sama waktu film ini make setting di sana. Tapi kalo Iceland, sebenernya gak begitu aneh sih, abisnya gue nonton apa gitu sebelum Walter Mitty, settingnya juga Iceland. Damn, gue beneran lupa film apaan... =__=

      Adegan absurd di sini nilai positif kok. Justru adegan surrealism-nya itu yang menarik, ada banyak pesan yang mau disampaikan penulis lewat adegan2 tersebut.

      Dan hey, kocak banget pas Pak Bos motret gunung meletus berdiri tegak gitu di atas pesawat. :v

      Hapus
    2. pas bagian si Sean motret di atas pesawat itu saya langsung melongo sambil bilang "Itu gimana caranya bisa berdiri?" Di tambah lagi gunung meletus bukannya kabur malah maju :v

      emang edan itu bosnya XD

      Hapus
    3. Mentang-mentang Pak Bos dianggap sosok yang cool abis, sampe segitu lebaynya digambarin. XD
      Tapi gak apa-apa justru adegan-adegan kayak gitu gampang banget ngundang tawa penonton. XD~ pengen ngejengkang rasanya... jhahahah

      Hapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team