Review Film TRANSFORMERS 4: AGE OF EXTINCTION (2014)

"Transformers 4: Age of Extinction (2014)" movie review by Glen Tripollo
"Transformers 4: Age of Extinction" mungkin memang bisa juga dibilang sebagai awal dari trilogi yang baru. Entahlah, walaupun cerita mengambil setting empat tahun setelah kekacauan besar di Chicago yang tergambar dalam film "Transformers 3: Dark of the Moon" seluruh feel yang tersaji beserta karakter yang udah nggak ada sangkut pautnya sama film terdahulunya memberi kesan baru pada film ini. Tapi tenang aja, yang baru nggak berarti lebih jelek dari pendahulunya, karena menurut gue tingkat keepikannya malah meningkat drastis.

Jadi, Guys, empat tahun setelah pertempuran di Chicago, manusia merasa tidak lagi aman memanfaatkan kekuatan Autobots, hal ini karena Decepticons yang mengerikan itu selalu terbayang-bayang akan kembali ke bumi dan mengacaukan segalanya lagi. Demi menunjukkan siapa yang berkuasa di bumi, pemerintah pun mulai memberikan perintah untuk menghancurkan para Transformers, tak peduli Autobots atau Decepticons pokoknya hancurkan. Nah, Optimus Prime sempat ngasih komando ke Autobots yang tersisa untuk menghindari segala bentuk kontak dengan manusia dan bersembunyi. Yah, walau hal ini sia-sia aja sih, satu per satu Autobots yang kita kenal dari film-film terdahulu semuanya mati, kecuali Bumblebee, tenang aja.

Nah, bagaikan ada dua cerita yang dijadikan satu terus dengan tujuan akhir yang sama, saat itu ada seorang ahli robotik miskin bernama Cade Yeager, hidup berdua sama anak ceweknya, Tessa Yeager yang masih berumur 17 tahun. Sebagai seorang ayah, Cade tergolong bokap yang kolot dan over-protective sama anak cewek satu-satunya itu. Cade berusaha menciptakan suatu robot memakai rongsokan yang dia beli demi menghasilkan uang buat biaya kuliah Tessa. Well, Cade juga melarang Tessa berpacaran sebelum lulus SMA, tapi emang dasar Tessa ini tipe anak cewek yang hobi nentang bokap, diem-diem dia udah punya pacar, seorang pembalap mobil (yang baru aja hendak jadi profesional) bernama Shane Dyson.


Cade Yeager menemukan mobil container yang udah rongsok, kemudian dia coba benerin. Saat itulah dia baru sadar kalo container itu bukanlah mobil biasa. Yep, dia menemukan Optimus Prime. Intel langsung mencium keberadaan Optimus di sana, dalam waktu singkat, rumah Yeager diinvasi oleh mereka. Kekacauan pun akhirnya terjadi, ayah-anak Yeager lari sampai akhirnya ada orang yang nyelametin mereka pake mobil. Tak lain adalah Shane Dyson. Drama keluarga antara ayah-anak dan pacar yang tak diharapkan sang ayah pun terjadi, beberapa adegan disajikan secara kocak, yang mana Shane dengan kurang ajarnya berani ngomong ke Cade mengenai masa depan putrinya sendiri. 

Tentu saja kehadiran drama ayah-anak ini membawa suasana baru yang sangat fresh dalam kisah Transformers. Biasanya, yang terdahulu peranan Sam Witwicky, seolah-olah sang terpilih yang harus melakukan segala upaya untuk membantu perjuangan para Autobots, beda dengan Cade yang sebetulnya terlibat sama Autobots secara tak sengaja. Apabila rumah Cade rusak, sehingga gak ada pilihan lain selain melakukan perjalanan bersama para Autobots demi keamanan. Mereka juga soalnya jadi diincer sama intel.

Pokoknya, di sini ada beberapa twist yang menarik. Manusia mencoba menghancurkan para Transformers, karena diam-diam mereka sudah bisa menciptakan Transformers versi mereka sendiri memanfaatkan unsur bernama Transforium yang bisa berubah-ubah bentuk menjadi apa pun. Tak ada yang menduga siapa dalang di balik rencana tersebut. Manusia telah dibodohi oleh ketamakannya sendiri akan pengetahuan.

Pemilihan aktor dan aktrisnya menurut gue bagus banget. Mark Wahlberg memerankan Cade Yeager dengan gayanya yang biasa, berhasil menghidupkan peran ayah yang over-protective namun juga bisa bijaksana di saat-saat tertentu. Hubungan emosional yang kuat antara manusia dan Autobot di sini lebih ke arah Cade-Optimus. Beda dengan versi terdahulunya yang menitikberatkan pada persahabatan Sam-Bumblebee. Mungkin karena Optimus adalah pemimpin yang bertanggung jawab terhadap anak buahnya, hampir sama dengan tugas seorang ayah seperti Cade. Sebagai Tessa adalah Nicola Peltz, cewek manis yang gue kenal lewat film seri "Bates Motel (2013)". Sebagai anak cewek yang mandiri dan bersikap dewasa, sesekali juga butuh perhatian dan perlindungan. Perannya bukan sebagai wanita tangguh, tapi juga nggak manja-manja amat. Intinya menggemaskan. :3

Ngomongin soal special effect, gue rasa udah tahu semua lah yah. Karena setiap film Transformers, selalu berhasil mencengangkan penonton dengan teknik CG dan banyak sekali ledakan, bangunan hancur, dan banyak lagi chaos lainnya. Tapi, kehancuran yang terjadi di sini jauh lebih keren ketimbang film sebelumnya, yang gue bilang sih konfliknya nggak jauh beda sama perang di New York ala "The Avengers (2012)". Kalo Sam Witwicky cuma bisa lari-lari, kali ini Cade Yeager ikut turun ke lapangan untuk perang tembak-tembakan sama Decepticons. Nah, soal desain Transformers, di sini semua robot raksasa itu tampil sangat memukau dan keren. Bentuk badan Optimus lebih proporsional, demikian juga dengan mode tempur Bumblebee yang ngasih kesan lebih badass daripada film-film sebelumnya yang terkesan manja sama Sam.
yang terpenting adalah kehadiran Dinobot yang menakjubkan. Purba dan nyeremin. Tapi, apakah mereka kawan atau lawan? mendingan tonton sendiri aja yah buat tau jawabannya. :D

Akhir kata, gue cuma heran sama plot yang tidak memunculkan Sam Witwicky sama sekali (oke jangan bicarain masalah kontrak peran, gue cuma masalahin kenapa gak dijelasin dalam plot). Kalo mengingat jeda waktu 4 tahun itu bukanlah waktu yang cukup lama untuk melupakan orang yang bener-bener penting bagi kehidupan kita, kenapa Bumblebee sama sekali nggak menyinggung soal Sam. Dan kenapa Sam Witwicky nggak dihadirkan beberapa detik hanya untuk mengatakan "HEI, BUMBLEBEE!!!" seenggaknya penonton gak bakal bertanya-tanya soal ke mana perginya Sam. Atau sebetulnya dikasih tau tapi guenya yang miss? Entahlah. Terus baku tembak secara gila-gilaan namun tak ada satupun yang mengenai para tokoh utama juga agak bikin senyum-senyum sih.

But, great movie is great! Film ini berdurasi tiga jam (dengan budget yang luar biasa besarnya) dan gue nonton ini tanpa rasa bosan. Artinya, kisah sangat mengalir, sisipan komedinya fresh, dan bertebaran innuendo. Nggak usah takut bakal banyak omong di awal, karena setengah jam pertama, ketegangan udah langsung intense. Dijamin seru banget. Gue nggak ngerti sama review yang beredar di dunia maya, kebanyakan mengatakan kalau film ini jelek. Tapi, Guys, percaya deh, film ini nggak bakalan mengecewakan kalian, kecuali kalo kalian penggila Super Junior. :P

My favorite scene:
Kemunculan perdana para Dinobots di hadapan Autobots, dan pertempuran di Cina yang serunya nggak ketulungan.

NB: Kalo mau tonton ini versi 3D, gue rasa nggak bakal ada ruginya, kecuali kualitas gambar di beberapa bagian ada yang sedikit blur dari sananya.

Score: 9/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

2 komentar:

  1. Yak, saya kurang lebih setuju sama reviewnya
    semalam nonton ini film dan menurut saya, dibandingkan yang ketiga, ini masih lebih baik.
    Efek 3Dnya jempol lah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayang banget dapet Razzie... padahal banyak yang jauh lebih jelek. LOL

      Hapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team