Review Film X-MEN: DAYS OF FUTURE PAST (2014)

"X-Men: Days of Future Past (2014)" movie review by Glen Tripollo
Kalo gue ditanya, film superhero Marvel mana yang paling biasa aja bagi gue? Gue bakal jawab X-Men. Yep, jawaban tersebut berdasar pada film-film pendahulunya yang memang gue masukin ke dalam kategori biasa aja. Tapi, semenjak "X-Men: First Class (2011)", perlahan-lahan rasa penasaran gue terhadap film ini pun datang kembali. Kebetulan gue juga penggemar Hugh Jackman dan James McAvoy.

Gue mesti bilang kalau Bryan Singer memang brilian dalam membawakan film terbaru dari X-Men ini. Kalau di "X-Men: First Class" cerita di-direct langsung sama Matthew Vaughn, kali ini Bung Vaughn cuma fokus pada penulisan script dan menyerahkan segala urusan di lapangan pada Bryan (lagi). Yap, berhubung Bryan Singer adalah sutradara yang menggarap "X-Men (2000)", jadi kesannya kayak reunian. Hasilnya? Menurut gue ini termasuk salah satu film superhero terbaik di tahun 2014. Penyajiannya santai, rapi, tapi juga epic banget, terutama pada adegan akhir dan beberapa sisipan adegan yang bikin gue berdecak kagum.

Apakah kita wajib nonton film X-Men terdahulu sebelum makan yang satu ini? Gue bilang, nggak harus. Walaupun memang bakal lebih terasa greget kalau mengikuti semua film X-Men, tapi nggak pun tak apa-apa (mendadak teringat lagu Dhea Ananda).

"X-Men: Days of Future Past" memiliki plot yang bisa dikatakan time skip jauh di masa depan di mana bumi sedang dilanda perang hancur-hancuran antara manusia (dengan menggunakan teknologi robot Sentinel) dan para Mutan. Sentinel ini nggak main-main loh canggihnya, bisa meng-copy setiap kemampuan Mutan dan menggunakannya untuk melawan mereka, teknologi yang dibuat sama Dr. Trask dengan meniru kemampuan Mystique. You know what? Para Mutan ini makin lama makin terpojok. Nah, di tengah-tengah chaos, serta berkali-kali berpindah tempat dengan memanfaatkan kekuatan teleportasi Blink dan menjelajah waktu Kitty Pride, Professor Xavier muncul dengan membawa sebuah gagasan, dia harus kembali ke masa lalu, tepatnya ke masa di mana teknologi Sentinel masih berupa proposal yang menunggu di setujuin sama pemerintah. Tapi, karena menurut Kitty walaupun kekuatan otak Xavier luar biasa, tetep nggak cukup menahan efek perpindahan waktu tersebut. Saat itulah Wolverine menawarkan diri menggantikannya, berhubung cuma dia yang punya kemampuan penyembuhan secara instan. So, dengan waktu yang terbatas, Wolverine harus begegas memikirkan segala cara untuk mencegah terciptanya Sentinel di masa lalu. Salah satu langkah awal, dia membutuhkan bantuan dari Professor X dan Magneto yang masih muda, Beast dan juga Raven yang pada saat itu lagi galau dan ngambek sama Xavier.


Sebetulnya dari sini keklisean cerita amat terasa, yaitu bagaimana seseorang yang berasal dari masa depan harus melakukan segala cara untuk meyakinkan orang-orang di masa lalu untuk melakukan sesuatu demi masa depan yang lebih baik. Tapi, emang dasar pengelolaan cerita yang baik, bikin keklisean menjadi tak berarti lagi. Semua adegan berasa asyik buat dinikmati. Uniknya lagi, tokoh yang dijadikan pemersatu di sini justru tokoh paling temperamental dan nggak jago sama sekali bernegosiasi (Wolverine).

Keseruan demi keseruan perlahan-lahan memuncak, ngebikin penonton menebak-nebak terus apa yang bakal terjadi selanjutnya. Mulai dari pertengkaran yang sebenernya serius tapi cenderung kekanakan antara Xavier muda dan Erik muda yang sebenernya nggak jauh dari dilematis cinta dan persahabatan mereka dengan Raven/Mystique. Ekspresi Wolverin pun terbilang kocak ketika menghadapi keabsurdan tersebut. Satu karakter yang munculnya cuma sebentar tapi meninggalkan banyak sekali bekas yang luar biasa adalah Peter/Quicksilver. Ada adegan yang super kocak saat penyelamatan Erik dari penjara super solid di Pentagon.


Special effect yang dipakai di film ini terbilang sedikit, karena fokus penggunaan CGI hanya pada adegan yang ber-setting di masa depan saja. Gue kagum sampai muntah pelangi ngeliat gimana Blink bertarung melawan Sentinel dengan menciptakan portal-portal dengan cekatan. Grafiknya halus dan terasa nyata. Pokoknya gue acungin dua jempol deh untuk kualitas CG. Pokoknya semua adegan keren dibikin gila-gilaan penggarapannya untuk adegan perang di masa depan ini.

Nah, selanjutnya adalah Mystique. Kalo yang gue inget, pemeran Mystique jaman "X-Men (2000)" kan pakai CG, yang mana si artis, Rebecca Romijn, ternyata nggak pakai apa-apa di tempat shooting. Beda dengan Mystique versi Jennifer Lawrence yang ke mana-mana memakai body painting (salah satu alasan kenapa "X-Men: Days of Future Past" ini dikasih Rated R). Tapi, bagi young adult seperti gue, ini termasuk hiburan yang luar biasa. :) Gue juga kayaknya langsung kesambet cinta pas pertama liat Bingbing Fan jadi Blink. Cantiknya subhanallah! :D

Oh ya, kalo kalian mengharapkan film X-Men ini bakal intense dengan adegan action, maka kalian salah besar. Porsi pertarungan di film ini sedikit dan memang lebih banyak diisi dengan obrolan, adegan kabur-kaburan, dan komedi yang pas waktu dan tempatnya. Di sini juga akan ada beberapa adegan flashback singkat sekedar memperkuat link antara film ini dengan film-film sebelumnya. Misalnya, "X-Men Origin: Wolverine (2009)" dan adegan final battle di "X-Men: The Last Stand (2006)". Memang luar biasa deh nyambung-nyambungin timeline-nya. Herannya walau adegan battle sedikit, film ini bisa dinikmati tanpa rasa bosan sedikitpun. Eh, ini kata gue yang nggak begitu nge-fans sama X-Men loh, apalagi kata mereka yang nge-fans berat coba? :D

Intinya sih, film ini sebetulnya cocok ditonton sama remaja 15 tahun ke atas. Untuk anak-anak kayaknya belum bisa, karena alasan yang udah gue kasih tahu sebelumnya (masih nahan mimisan). Denger-denger kabar juga film ini bakal ada lanjutannya lagi di tahun 2016 dengan judul "X-Men: Apocalypse". Well, I really can't wait. Pesan terakhir, kalau kemarin nggak sempet nonton di bioskop, bisa tunggu versi DVD-nya. Ada adegan menarik after credit!

My favorite scene:
Ketika Xavier muda yang stress ngebaca pikiran Logan (Wolverine) hingga akhirnya menjalin komunikasi langsung dengan Xavier di masa depan. Keren abis!

Score: 8,8/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

4 komentar:

  1. banyak yang bilang klo film yang ini benar2 ngancurin franchise X-men, entah kenapa, saya juga gak ngerti soalnya gak ngikutin komiknya. Penasaran juga sih sama film ini, mungkin bakal saya coba tonton nanti klo udah keluar.

    Dan sepertinya fans film di barat merasa seluruh film2 yang too much sekuel atau remake hasilnya so dumb or just suck, lol.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena ending film ini merupakan "awal baru" seolah-olah X-Men sebelum-sebelumnya itu nggak pernah ada. Semua karakternya nongol lagi.

      Menurut saya sih bukan ngancurin franchise. Tapi yang ngancurin itu nanti, di sequelnya ini, "X-Men: Apocalypse (2016)"

      Saya nggak setuju kalo film ini dianggap jelek. Ini keren banget. :)

      Hapus
  2. Satu-satunya kekurangan di film ini menurutku adegan battlenya..
    Cuma dikit banget... rasanya cuma di bagian awal sama pas bagian penyelamatan Magneto..
    Hehe.. tapi cuma itu aja.. sisanya emang keren..
    Aku penggemer X-Men juga dan kebetulan enggak ngikutin komiknya, jadi terima aja sama alurnya..

    Notes : di ending lumayan sedih, gak tega ngeliat Storm mati.. merinding aja pas liat anggota terakhir X-Men di bantai satu-satu sama Sentinel.. wkwk.. mungkinkah ini efek karena aku ngikutin filmnya dari awal sampe yg sekarang? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iya inti dari film yang ini lebih ke arah drama dan solusi aja sih ketimbang action flick...tapi hebatnya hal itu nggak menurunkan kadar epiknya cerita... :D

      by the way, adegan mati itu emang ngenes banget, tapi kan endingnya bisa bernapas lega karena .... (spoiler alert) :))

      Hapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team