[West-Movie Review] Deliver Us From Evil (2014)

"Deliver Us From Evil (2014)" movie review by Nazmysti Nm
Secara personal, kami bukanlah penggemar film horor. Satu-satunya yang membuat kami sedikit melirik film ini adalah karena label crime di jajaran genrenya. Dan begitu kami melihat sinopsisnya, rasanya seperti, 'Wow, it could be something!'

Film besutan sutradara Scott Derrickson ini menceritakan mengenai sebuah kisah nyata yang dialami seorang petugas kepolisian bernama Ralph Sarchie. Sarchie sebelumnya dikenal sebagai seseorang yang tidak percaya pada alam gaib. Bahkan pada Tuhan. Meskipun demikian, insting dan intuisi Sarchie sering tepat. Ia selalu tahu kasus mana yang sangat genting dan perlu segera ditangani. Hingga kemudian, ia tiba pada suatu kasus yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar. Seperti kasus suami yang memukuli istrinya sendiri tanpa alasan dan seorang ibu yang melemparkan anak balitanya sendiri ke parit kandang singa. Mulanya, Sarchie beranggapan bahwa ia hanya sedang menangani orang-orang yang berpenyakit mental. Akan tetapi, kemunculan seorang pastur yang menyatakan kalau ia kenal salah satu dari orang-orang ini, dan yakin kalau sebelumnya orang itu tidak gila, Sarchie mulai dibuat bingung. Ia kemudian memutuskan untuk menyelidikinya lebih lanjut; mengamati rekaman CCTV, mendatangi orang-orang yang berkaitan dengan para tersangkanya, dan segala hal berbau investigasi lainnya. Dan penyelidikan inilah yang kemudian membawanya ke hal-hal yang selama ini tak ia percaya.

Dari cover-nya sebenarnya terasa sekali kalau ini film pure horror. Begitupun dari sinopsis yang kami bagi di atas. Tapi, tidak. Ini bukan film horor murni. Well, ada banyak hal mengerikan dan tak bisa dijelaskan dengan akal pikiran manusia, yang mana merupakan prasyarat suatu film horor sesungguhnya. Tapi, jangan salah, ini sebenarnya film crime atau thriller yang bernuansakan horor. Inti ceritanya lebih ke arah kriminalitas dan ketegangan yang terjadi karena kejadian-kejadian mengerikan. Kalau kalian mengharapkan kemunculan hantu, penampakan makhluk-makhluk gaib yang tidak seperti manusia, itu tidak akan ada di sini. Di sini kalian akan disuguhkan oleh gambaran orang-orang kesurupan dan benda-benda yang bergerak sendiri, darah dan sayatan saja.

Kelebihan film ini adalah penggambaran ceritanya yang runut dan detail. Barangkali karena ini berdasarkan kisah nyata, semua gerakan dijelaskan sebab-musababnya dan penonton dapat melihat sebab-akibat dari tiap tindakan tokoh. Kecuali mungkin tokoh iblisnya, Jungler, yang bahkan tak pernah ketahuan bentuknya seperti apa. Hal ini membuat film ini dapat tercerna dengan baik dan kita terasa benar-benar masuk ke dalam cerita. Namun, di situ juga letak kekurangannya, karena penceritaannya runut, mau tidak mau tempo ceritanya lambat--bahkan cenderung statis. Dan ini menimbulkan kebosanan yang sekali-sekali timbul ketika menontonnya.

Secara keseluruhan, film ini dapat dikatakan bagus. Ide ceritanya yang mempertemukan dua hal yang selama ini kurang sejalan, dunia polisi yang segalanya harus dijelaskan dengan akal beserta dunia iblis yang tidak masuk akal. Sinematografinya cukup baik. Ketegangan dan hal-hal menakutkannya cukup mencekam, dibantu oleh musik pengiring yang tepat--hal paling penting yang harus ada di film-film menyeramkan. Akting para aktornya juga mumpuni. Eric Bana yang kelihatan paling menonjol kekuatan aktingnya di sini, bukan karena dia sorotan utama, melainkan karena dia kelihatan begitu menghayati perannya sebagai polisi yang terganggu kehidupannya oleh dunia gaib. Seolah-olah dia memang pernah menjalani kehidupan Ralph Sarchie itu sebelumnya.

Film ini kami rekomendasikan, bagi pencinta film thriller dan crime yang bernuansa horor. Tapi bagi yang mencari film pure horror, sebaiknya sewa atau beli DVD-nya saja.

Oh, dan film ini berkategorikan R, dikarenakan banyaknya kekerasan, darah, hal-hal menakutkan dan bahasa kasar. Disarankan bagi yang berusia tujuh belas tahun ke ataslah yang menontonnya.

Adegan Favorit: 
Adegan eksorsisme, pengusiran setan, di ruang investigasi.

Kutipan Favorit (yang kira-kira begini): 
Butler: "Pintunya dikunci dan tak ada yang menjawab ketukan kita. Kita dobrak?"
Sarchie: "Tidak."
Butler: "Kumohon?"
Sarchie: "Tidak. Ayo lewat pintu belakang."

Rating: 6/10

Share on Google Plus

Review by Mysti Adelliza

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team