Review Film JOURNEY TO THE CENTER OF THE EARTH (2008)

"Journey to the Center of the Earth (2008)" movie review by Glen Tripollo
Udah sejak lama, gue nganggep Brendan Fraser itu sebagai aktor film bergenre adventure terbaik sepanjang masa (versi gue), yang kedua Harrison Ford, lalu Dwayne Johnson. Pertama kali lihat dia itu di film jadul GEORGE OF THE JUNGLE (1997) sebelum akhirnya tampil di franchise THE MUMMY (1999). Petualangan yang epik, bikin teringat sama franchise macam INDIA JONES bukan "Indiana Jomblo Ngenes" yak!

Back to the topic, gue nggak nonton film JOURNEY TO THE CENTER OF THE EARTH (2008) di bioskop. Bahkan, gue nggak pernah inget apakah film ini pernah tayang di bioskop Indonesia atau nggak. Mungkin ada yang tahu dan bersedia menyadarkan gue dari amnesia gak penting ini? Jadi, gue nonton film ini pertama kali di channel HBO pas lagi nongkrong di rumah sodara di Lampung, kira-kira 5 atau 6 tahun lalu. Tentu aja, sebelum gue nulis review ini, gue nyoba tonton ulang biar tiap-tiap adegannya kembali tergambar jelas dan merangsang perkembangan jaringan otak gue. :D

Film ini diangkat dari novel karya Jules Verne yang berjudul sama, hanya saja adaptasinya ini versi yang lebih bebas. Menceritakan tentang seorang om-om bernama Trevor Anderson (Brendan Fraser), seorang profesor ahli tanah dan bebatuan yang tiba-tiba aja didatengin keponakannya, Sean Anderson (Josh Hutcherson). Ayah Sean diduga hilang, dan karena ibunya tengah sibuk mengurus segala sesuatunya, Sean dititipkan ke Trevor. Tanpa sengaja Sean yang ngoprek-ngoprek barang peninggalan ayahnya nemu satu buku novel karya Jules Verne "Journey to the Center of The Earth" yang mana bagian dalemnya udah penuh sama coretan-coretan sang ayah. Mengindikasikan kalau apa-apa yang diceritakan dalam novel benar adanya. Mereka mengambil kesimpulan bahwa ayah dari Sean kini sedang berada di dunia antah-berantah yang letaknya di perut bumi. Misi pencarian pun dilaksanakan secara diam-diam oleh mereka berdua.

Berbekal analisis nekat dan uang pas-pasan, akhirnya Sean dan Trevor memutuskan pergi ke utara, mencari jalan masuk ke perut bumi. Dengan menyewa seorang wanita yang juga ahli dalam pendakian, mereka bertiga pun akhirnya masuk hingga melebihi batas. Di ujung batas, mereka pun jatuh bebas hingga ke dasar jurang yang dipenuhi kolam berair jernih dan (sulit dipercaya) ada sebuah dunia di dalam bumi yang ditinggali oleh makhluk-makhluk yang telah punah.

Sekilas gue ngeliat CGI effect untuk penggambaran dunia bawah ini seperti dunia Avatar, di mana suasananya yang indah dan dipenuhi makhluk-makhluk unik purbakala, bikin merinding ngeri tapi juga terasa pengen banget bisa ada di sana. Sayangnya, di beberapa adegan, penggunaan CG terasa kurang maksimal. Gue nggak tahu kenapa, tapi adegan waktu Trevor, Sean, dan si cewek pemandu berlayar pakai rakit, itu terasa banget bohongannya dan kelihatan sekali shooting dilakukan di dalam studio. Mungkin gara-gara keterbatasan biaya yang bikin bagian editing males-malesan ngegarap bagian itu. Bagian kedua yang agak mengecewakan adalah adegan ketika Trevor dikejar-kejar T-Rex. Selain latar belakangnya yang terkesan animasi tempelan, gerakan lari Trevor pun kurang natural, alias seperti lagi lari di atas treadmill.

Tapi, tunggu dulu. Itu kan cuma dua adegan dari sekian banyak adegan di dalam film. Kayaknya nggak bisa juga kalo gue ngejudge film ini jelek hanya berdasarkan dua adegan di atas. Karena jujur aja, sepanjang cerita yang mengalir, sampe-sampe nggak kerasa kalo filmnya udah abis, berbagai adegan keren tersaji di sini. Gaya khas Brendan Fraser dari film THE MUMMY (1999) pun ada di sini. Bener-bener terasa banget seru-serunya. Oh ya, inti kisah ini kan sebenernya misi pencarian atas ayah Sean yang hilang. Gimana nasibnya ya? Apakah mereka berhasil menemukannya? Well, jawabannya bakal kalian dapatkan kalo udah nonton sendiri. :)

Nilai plus dari kisah petualangan ini adalah isinya yang sangat aman ditonton oleh segala umur. Bikin hari Minggu bersama keluarga bakalan nikmat dan terhibur banget ngeliat aksi seru dan kocak dari paman-keponakan ini. Karakterisasinya menurut gue udah cukup tergali, kecuali chemistry antara Trevor dengan cewek pemandu yang gue rasa agak sedikit kecepetan. But, overall, film ini bagus dan layak untuk ditonton.

The Most Favorite Scene:
Adegan ketika Sean Anderson menyeberangi jurang memanfaatkan batuan magnet yang melayang-layang di udara. Itu bener-bener bikin merinding.

Score: 7,7/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

2 komentar:

  1. woogh, salah satu film favorit sepanjang masa..!! Saya masih inget dulu, ini film pertama yang saya sewa di tempat penyewaan DVD (sayang sekarang udah gak ada) dan ternyata filmnya seru abis!

    kekurangannya menurut saya sih karena pace ceritanya yang agak terlalu cepet, soalnya baru juga nyampe di bawah tanah tau2 udah harus keluar lagi gara2 gunung berapi. Scene favorit yang pas anak kecilnya harus ngelewatin jurang yang penuh batu magnet raksasa, epic banget rasanya >_<

    request film sekuelnya dong, yang Journey to the Misterious Island :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeaaay, scene favorit kita sama... :D
      Iya, nih sequelnya lagi saya tulis. Tunggu aja bentar lagi... :)

      Hapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team