Review Film MIDNGHT FM (2010)

"Midnight FM (2010)" movie review by Glen Tripollo
Gue cukup sering nonton drama Korea di TV, tapi belom pernah sekalipun nonton film bioskopnya yang bergenre thriller kayak gini. Berhubung waktu itu kuota internet masih oke, terus juga lagi kehabisan hiburan, poster film ini jadi salah satu yang menarik minat nonton gue. Then, dengan mempersiapkan segala kemungkinan terburuk--jujur aja gue sempet mikir kalo film ini pasti bakalan terkesan norak--akhirnya gue tonton juga deh. Terus gimana sih sebenernya film yang satu ini? Yuk, simak review film Midnight FM (2010) berikut ini!

Adegan pembuka menampilkan sebuah taksi yang mengangkut seorang wanita yang tampak seperti ketakutan, waktu itu malam hari, radio taksi menyala dan terdengar suara seorang wanita siaran. Isi siarannya semacam cerita pendek tentang thriller yang mana tokohnya seorang psikopat sadis. Nggak lama kemudian, taksi berenti di tempat terpencil, wanita yang diangkut diajak keluar secara paksa. Terus, yah, kita bisa tebak apa yang terjadi walau nggak diperlihatkan, karena suara radio yang terus disorot. Gue bisa tebak di awal ini pasti ada hubungannya antara si supir taksi yang terkesan sedang membunuh si wanita, dengan isi siaran yang disampaikan. Terinspirasi mungkin. Tapi, dalam cerita seperti ini, foreshadow semacam ini sangatlah bagus. Jadi, penonton ga bakal kehilangan grip sama isi cerita yang hendak disampaikan, atau tidak jadi terkesan tiba-tiba kalau ini adalah film thriller.

Film thriller memang jarang banget diawali dengan adegan "damai". Hampir selalu langsung menampakkan misteri utamanya tanpa me-reveal siapa pelakunya. Membuat penonton terangsang untuk nonton film ini hingga selesai.

"Midnight FM (2010)" atau dalam bahasa Korea berjudul "Simya-ui FM", menceritakan tentang seorang penyiar radio wanita terkenal bernama Go Seon-yeong--yang biasa membawakan kisah-kisah thriller sambil memutarkan lagu-lagu yang enak banget--yang akan melakukan siaran terakhirnya sebelum kepindahannya ke Los Angeles, Amerika, bersama anaknya yang masih kecil dan kasihannya, bisu. Pada saat siaran, rumahnya yang hanya ditempati oleh adik perempuannya, anak perempuan adiknya, dan anaknya sendiri, didatangi sama orang nggak dikenal. Badannya tinggi, kepalanya botak, tapi giginya nggak taring semua kok. Dia bawa-bawa kunci inggris buat senjatanya. Yep, pembunuh di film ini emang agak sadis dan hobinya gebak-gebuk orang pake tuh perkakas besi.


Seo-yeong yang sibuk bersama dua orang asistennya, dan ada juga seorang tamu yang kalo gue bilang ini semacam om-om wota, tapi udah masuk level paling gila, alias fanatik berlebihan sama Seo-yeong, soalnya bisa sampe nginget segala hal dan kebiasaan yang dilakuka Seo-yeong sejak pertama kali dirinya siaran. Keberadaan dia di sini untuk apa? Well, untuk yang satu itu gue ngga bisa kasih tahu karena bakal ada hubungannya sama konflik utama kisah ini.

Konflik mulai terbangun saat adik Seo-yeong disandera sama pembunuh gila tersebut. Si pembunuh ngirim ponsel ke tempat siaran pakai pos, ditujukan pada Seo-yeong. Lewat video call, pembunuhnya mengancam akan membunuh adik Seo-yeong dan anggota keluarganya yang lain kalau nggak mau menurut sama kemauan si penjahat.Yep, tekanan dan ancaman gila ini perlahan-lahan membangun tensi film ini sampai ke batas maksimal.

Tone yang dipakai dalam film ini cenderung soft dengan saturation yang agak dinaikkan, sehingga kesan santai namun kelam bener-bener berhasil tercipta. Cinematography-nya juga khas Asia, indah dan sederhana tanpa perlu special effect ngasih kesan hidup. Beberapa adegan bakal mengajak penonton mengalami ketegangan yang naik-turun. Bener-bener mempermainkan adrenalin. Kabar baiknya, di sini nggak ada adegan "mengagetkan", hanya adegan yang terkesan creepy dan miris secara tersirat. Karakterisasinya juga bagus dan masuk akal. Karena tokoh-tokohnya memang bisa jadi ada di dunia nyata.

Gue bisa bilang kalau film ini sadis, tapi tetep bisa menjaga kevulgarannya. Lewat adegan-adegannya kita bisa merasa adegan tersebut sadis, tapi sebetulnya darah yang bermuncratan, atau adegan tusuk-menusuk tidak disajikan secara gamblang. Which is, film ini tergolong relatif aman bagi 15 tahun ke atas. Jadi ini termasuk film thriller dan nggak ada muatan slasher-nya, hanya "rasanya" seperti itu.

Durasi film ini cukup panjang, gue sempet mengira adegannya hanya akan terjadi di stasiun radio dan di rumah Seo-yeong aja, tapi ternyata bisa juga meluas sampe ke kejar-kejaran mobil dan berantem. Film ini menurut gue pribadi sih masih banyak kekurangan di sana-sini, misalnya akting si tokoh utama (yang mungkin karena memang mukanya tanpa ekspresi) jadi agak kaku dan kurang menyiratkan ketegangan. Ketegangannya digantikan dengan menunjukkan tindakan-tindakan yang nggak biasa. Ada banyak pihak yang terlibat untuk sebuah kisah yang sederhana, seperti produser acara radio, asisten penyiar, penggemar fanatik, wartawan menyebalkan, dan juga polisi.

Gue bakal kasih film ini acungan jempol, karena berhasil bikin gue penasaran sama film-film Korea lainnya. Sama sekali nggak mengecewakan. Ekspresi si pembunuh gila juga badass tanpa perlu dandanan aneh-aneh kayak ciri khasnya Hollywood.

My most favorite scene:
Ketika si pembunuh mengancam bakal bunuh Seo-yeong kalo nggak mau muterin lagu yang sama dengan saat pertama kali dirinya siaran. Seo-yeong lari-lari kayak orang kesurupan ke tempat penyimpanan rekaman lagu-lagu lama. Tensinya gila-gilaan, gue sampe ikutan deg-degan karena berhasil merasakan feel si tokoh utama di sini.

NB: Gue nggak hapal nama-nama aktor Korea, tapi pemeran penjahatnya tampak sangat familiar.

Score: 8/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team