Review Film THE RAID 2: BERANDAL (2014)

"The Raid 2: Berandal (2014)" movie review by Glen Tripollo
Setelah adegan aksi yang keras sekaligus juga indah di THE RAID: REDEMPTION (2011), berita tentang adanya sequel dari film tersebut bikin gue ketar-ketir nggak sabar. Masalahnya, gue sempet gak bisa bayangin bakal kayak gimana sequel-nya, apakah bakal mengusung kasus yang serupa? Atau bagaimana? Yang ada di pikiran gue sebelum nonton film ini adalah kata-kata Tama dan Wahyu di bagian ending film. Cuma kata-kata itu aja yang bisa jadi petunjuk kalo (sepertinya) ada sesuatu yang lebih besar lagi di balik semua kejadian dan perjuangan bertahan hidup di sarang penjahat.

Gue juga sempet mikir perpisahan Rama dengan kakaknya sendiri (yang kebetulan berjalan di dunia yang beda) bakal lebih banyak dibahas di sequel-nya, entah bakal ketemu lagi atau bahkan team-up sama Rama dan mengincar lawan yang lebih besar lagi. Satu petunjuk tambahan dari THE RAID: REDEMPTION (2011) adalah bahwa di dalam markas kepolisian terdapat petinggi yang korup bernama Reza. Dan yah, ternyata dugaan gue bener (walau nggak sepenuhnya bener), di sequel-nya ini, incaran utama dari Rama adalah Reza. Tapi, kenapa gue nggak sepenuhnya bener? Karena, sang kakak langsung mati di pembukaan film. Damn it! Padahal bakal keren kalo duo kakak-adik ini balik lagi. Tapi kalo nggak begitu nanti nggak ada motivasi bagi karakter Rama jadi lebih badass dari sebelumnya sih. LOL.

THE RAID 2: BERANDAL (2014) ini mengambil setting beberapa jam setelah penyergapan di rumah susun kumuh milik Tama. Rama dan temennya yang luka, Bowo, dijemput sama petinggi polisi yang berambisi menuntaskan segala kasus korupsi dengan cara menyingkirkan para petinggi yang melakukannya, Bunawar namanya. Salah satu incaran dia adalah Reza, seorang petinggi polisi yang diam-diam punya "main" dengan mafia bernama Bejo. Mafia Bejo ini punya musuh, yaitu kelompok mafia Bangun yang banyak berdamai dengan mafia Jepang, Goto.

Bunawar melihat kemampuan Rama dan meminta dirinya mengemban tugas berbahaya tersebut. Salah satu cara untuk bisa berkonfrontasi langsung dengan Reza dan menangkap basahnya adalah dengan memasuki lingkaran hitam tersebut. Tentu awalnya Rama menolak karena dia nggak pengen membahayakan anak istrinya kelak. Tapi, setelah Rama tahu soal kematian sang kakak yang ternyata dibunuh sama Bejo, akhirnya Rama bersedia mengikuti misi dengan syarat keamanan istri dan anaknya harus terjamin.

Strateginya, Rama harus masuk ke penjara, mencari orang bernama Uco yang merupakan anak dari Bangun, menjalin pertemanan dengannya dan bergabung dengan kelompok Bangun. Nah, dari situ inti kisah ini jadi terlihat. Rama mendekati Uco, agar kemudian setelah keluar dari penjara direkrut menjadi tangan kanan Uco di kelompok mafia Bangun. Uco kebetulan punya kepribadian yang ambisius sama kekuasaan. Menurutnya, kinerja sang ayah nggak bagus dengan berbagi wilayah sama Jepang. Uco pun terhasut sama muslihat Bejo yang berniat merebut kekuasaan dari tangan Bangun.

Kejadian demi kejadian membimbing kedua kubu mafia ke arah konflik yang mengerikan dan panas, membuat Rama akhirnya ikut turun tangan dalam konflik tersebut, berusaha untuk menghancurkan mafia Bejo dan menangkap Reza.

Dari segi cerita yang diangkat, jelas THE RAID 2: BERANDAL (2014) ini lebih berisi ketimbang THE RAID: REDEMPTION (2011), yang mana hal ini sangatlah bagus, kenaikan level yang signifikan. Penonton nggak cuma disuguhin adegan bag big bug buat nyelamatin diri, tapi juga ada cerita yang cukup rumit, membangun karakter Rama ke jenjang yang lebih lagi, membuat dia harus terjebak dalam kasus yang mengharuskan dirinya memilih sendiri tindakan apa yang terbaik untuk mencapai misi utamanya. Apalagi emosinya sedikit terganggu karena dendam yang dia rasakan sama Bejo yang udah ngebunuh kakaknya.

Porsi adegan tembak-menembak memang lebih banyak dari yang pertama, tapi so what? Gue pernah baca beberapa review tentang kekecewaan mereka menonton film ini, padahal menurut gue nggak ada jeleknya kok. Semuanya keren. Termasuk karakter Prakoso, pembunuh bayaran yang berencana pensiun, entah kenapa justru adegan paling menyentuh dan bikin miris hati terasa pada adegan yang dimainkan pemeran "Mad Dog" ini.

Film ini berdurasi dua jam lebih, dengan kurang lebih 90 menit untuk adegan aksi, dan sisanya untuk build-up konflik, karakterisasi, hingga akhirnya motivasi menuju sebuah solusi. Ini perfect! Semua unsur lengkap ada di film ini. Terlihat sekali kalau Gareth Evans pengen menampilkan kisah yang jauh lebih matang. Menurut gue sih ini berhasil. Sangat berhasil. Bukan cuma tendang dan tonjok, tapi juga ada adegan berantem di dalem mobil yang ngebut sampe lompat nabrak halte busway. Mungkin ngeliat adegan tabrak-tabrakan keren begitu udah biasa di film Hollywood, tapi kalo film lokal kan nyaris belum ada, makanya gue norak banget ini. :v

Keluhan terbanyak dari penonton itu adanya adegan turun salju. Padahal menurut gue itu sah-sah aja. Namanya juga film. Dan lagi konsep salju turun berfungsi untuk mendalami emosi saat adegan tersebut berjalan. Berhasil kok. Cuma orang nggak ada kerjaan yang ngeributin hal sepele macam begitu. :3

Nah, seperti biasa, yang terbaik disimpan hingga akhir. Pertarungan akhirnya bener-bener bikin gue merinding. Brutal banget dan bikin deg-degan. Betapa pertarungan sengit itu menarik perhatian para penonton sampai-sampai penonton di dalem bioskop bersorak heboh secara kompak saat selesai.

Kekurangan yang gue rasakan dalam film ini, mungkin cuma beberapa adegan dewasa yang sebetulnya nggak perlu juga diadain. Misalnya, adegan di dalam karaoke itu, saat Uco memarahi escort girl dengan memaksanya nyanyi pakai mulut "yang lain". Terus juga adegan penyerangan seorang diri Rama di markas Bangun yang terkesan imba banget. Staminanya udah kayak superhero.

Tapi, semuanya terbayar puas kok. THE RAID: REDEMPTION (2011) adalah masterpiece, tapi THE RAID 2: BERANDAL (2014) berhasil menyuguhkan sesuatu yang jauh lebih baik dari pendahulunya.

My favorite scene:
Epic final battle scene!!!

NB: Waktu gue beli tiket buat nonton film ini, gue disuruh nunjukkin KTP. Well, gak perlu gue sebutin lagi kan kalo film ini khusus untuk 18 tahun ke atas? ;)

Score: 9,7/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team