Review Film THE RAID: REDEMPTION (2011)

"The Raid Redemption (2011)" movie review by Glen Tripollo
Waktu itu November 2011, berbagai media secara gila-gilaan menggembor-gemborkan THE RAID: REDEMPTION (2011), mulai dari Facebook dan Twitter. Poster-poster bertebaran, teaser trailer dari YouTube dibagikan sama banyak banget temen-temen dunia maya gue. Gue yang dahulu kala terkesan kuper dan malas ngikutin berita pun akhirnya merasa gatal buat nyari tahu.

Sebagian besar dari mereka bilang kalau film Indonesia yang kerennya luar biasa bakal hadir bentar lagi. Filmnya brutal tapi juga keren."FULL ACTION, MY BRADER!!" they said. Kampret, gue kan termasuk salah satu penikmat genre action. Ngedenger mereka teriak-teriak soal action flick, gue langsung kebayang film Thailand, TOM YUM GOONG (2005) Apalagi kalau bener adegan berantemnya intens. So, gue ngecek juga deh trailer resmi film "The Raid" ini. Hasilnya? Gue langsung bertekad buat nonton langsung dalam mode full movie. Di bulan tersebut, dengan kocek yang agak pas-pasan, ditambah juga rasa skeptis gue terhadap film lokal, gue nekat beli tiketnya.

Awalnya, gue ngeduga film ini bakal nggak jauh beda sama TOM YUM GOONG (2005) berhubung menurut gue film yang bener-bener terasa action-nya ya cuma itu, adegan brutal, keras, dan pace cepat. Tapi, ternyata gue terpaksa menelan ludah sendiri karena THE RAID secara keseluruhan sangat-sangat sukses membius gue buat nggak berkedip sepanjang adegan pertarungan demi pertarungan tangan kosong yang disuguhkan di dalam cerita. Ini adalah film action terbaik sepanjang gue nonton film action dari berbagai negara di belahan dunia. Gue boleh nyebutin banyak judul, tapi yang terlintas di benak gue pertama kali pastilah THE RAID ini. Yang bikin gue makin takjub adalah, gue nggak pernah nyangka kalo film action terbaik ini dilahirkan di negeri kita tercinta ini.

Tema yang diusung sama film ini, sebenernya tergolong biasa-biasa saja. Nggak ada yang istimewa dan malah cenderung klise. Tapi, Guys! Gue memaklumi semua itu karena gue bener-bener dimanjakan aksi pertarungan berdarah sepanjang film. Bikin napas tertahan dan jantung berdegup cepat. Puas banget. Puas!
Menceritakan tentang seorang polisi rookie bernama Rama, orang yang taat beragama, jago silat, dan terpilih ke dalam satuan khusus yang dikirim ke sebuah rumah susun kumuh yang di dalamnya tinggal banyak sekali para pelaku kriminal (kebanyakan pengedar dan pemakai narkoba), untuk melakukan ambush dan menangkap mereka semua satu per satu.

Awalnya, kelompok polisi ini bisa menyerang lantai demi lantai tanpa hambatan, hingga akhirnya mereka mencapai lantai tertentu di mana tanpa sengaja kepergok seorang anak kecil (udah pasti merupakan anak dari seorang kriminal juga) yang melaporkan keberadaan mereka lewat alat komunikasi kepada bos pemilik rumah susun itu, Tama. Tama yang terlihat sangat badass dengan penampilan bak bapak-bapak yang hobi main gapleh itu akhirnya memberi tahu semua penghuni rumah susun dan menjanjikan gratis biaya sewa bagi siapa saja yang berhasil membantai polisi-polisi tersebut. Mulai dari sini, misi penyergapan pun berubah menjadi ajang penyelamatan diri dan bertahan hidup. Para penjahat berbondong-bondong datang silih berganti.

Karakter Rama awalnya memang kurang menonjol, karena karismanya masih kalah sama Jaka (Joe Taslim), which is good, yang mana karakter Rama ini akan berkembang sendiri seiring plot yang mengalir. Penonton mungkin nggak langsung disuguhin sama aksi brutal pertarungan tangan kosong, karena di awal cerita hingga setengah jam pertama, kebanyakan adegannya berupa tembak-tembakan dengan sound effect yang terasa banget real-nya. Nggak kayak film Hollywood sana yang suaranya keliatan banget editan bin lebay.

Intense! Full packed action! Mungkin gue bisa bilang kalau apa yang dikatakan sama mereka-mereka campaign whore nggak main-main. Secara keseluruhan film ini sangat-sangat membuka mata akan beberapa hal. Pertama, film lokal nggak selamanya jelek. Sekalipun film horor mesum bertebaran di bioskop, bagaikan permata di dalam tumpukan jerami, "The Raid" hadir membawa pencerahan bagi para penikmat film. Kedua, ini yang dinamakan film action sejati. Yang mana plot tidak harus ribet, cukup dikasih intrik sederhana dan tambahkan porsi pertarungan, tentunya dengan koreografi yang sangat baik.

Gue dulu sempet ikutan Pencak Silat, tapi berenti di tengah jalan, dan lewat "The Raid" gue baru sadar kalo beladiri ini ternyata sangat indah. Keras tapi juga halus dan mengalir. Gue sampe terpukau ngeliat aksi Rama menjitak satu persatu musuh yang datang. Nggak ada sama sekali gerakan yang sia-sia, seluruh bagian tubuh bisa dipakai nyerang, kecuali satu bagian tubuh yang itu, karena kalau dipakai nyerang juga khawatir malah jadi film dewasa yang digilai sama para fujoshi. :))

Dua jempol tangan + dua jempol kaki gue (total empat jempol) buat Gareth Evans, sang sutradara yang udah berhasil mengeluarkan potensi sesungguhnya dari aktor-aktor di Indonesia. Benar-benar menginspirasi bahkan bagi para produser film di Amrik sana. Satu-satunya kekurangan dalam film ini adalah akting Iko Uwais yang kurang greget dan cenderung kaku. Tapi gue masih maklum sama hal ini, karena rata-rata ahli beladiri yang bermain film memang nggak dibarengin sama bakat akting hingga bermain watak.

Terus banyaknya aksi yang keras dan sadis, dengan darah-darah yang muncrat, film ini tampaknya lebih baik dinikmati kalangan dewasa yang memang mencintai film action dengan sentuhan gore saja. Karena bisa berdampak buruk bagi mereka yang paranoid, takut darah, atau anti-kekerasan. So be wise, adult people~!

My favorite scene:
Saat pembukaan cerita, di mana ada seorang penjahat yang hendak ditembak kepalanya, udah tegang-tegang, eh pelurunya abis. Alih-alih ngambil peluru cadangan, malah ngambil palu. Dafuk! :D

NB: Soundtrack film ini dinyanyikan sama Mike Shinoda from Linkin Park. Cocok banget, nambah kesan kalo film ini cuma diperuntukkan bagi cowok-cowok macho. :)) Film lokal yang bercita-rasa Hollywood.

Rating: 9.2/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team