Review Film DAWN OF THE PLANET OF THE APES (2014)

"Dawn of the Planet of the Apes (2014)" movie review by Glen Tripollo
Sebelumnya, gue mesti bilang kalau review ini murni untuk film ini aja tanpa mengaitkan film-film sebelumnya, soalnya jujurly, gue belum nonton film "Rise of the Planet of the Apes (2011)". Ah, tapi kabar baik bagi kita semua, selain Mas Tin yang kini sukanya memerah kulit manggis, ternyata film ini bisa banget dinikmati sama semua penonton tanpa harus mengikuti kisah-kisah sebelumnya. Yep, film yang mungkin berkesinambungan tapi konfliknya nggak terlalu saling berkaitan. Here we go, review film Dawn of the Planet of the Apes (2014).

"Dawn of the Planet of the Apes (2014)" dibuka dengan suara narator yang menjelaskan secara rinci apa yang sebenarnya tengah terjadi dengan setting di film ini. Jadi, singkat cerita ilmuwan menciptakan sebuah virus sebagai senjata biologis yang diujicobakan kepada monyet-monyet. Ternyata, oh ternyata, monyet-monyet ini kabur dari lab dan menebarkan virus dahsyat ini ke manusia di seluruh kota hingga menyebar ke penjuru dunia. Populasi manusia berkurang drastis hingga tersisa beberapa ratus orang aja yang secara genetis berhasil beradaptasi dan kebal terhadap efek virus tersebut. Sejak saat itu, manusia jadi hidup nomaden (pada awalnya) karena struktur negara udah kacau balau, mereka meninggalkan kota mati di mana-mana. Lalu apakah penyebaran virus ini atau minimal penanganan virus ini menjadi konflik utama dari film ini? Jawabannya adalah nggak. Itu hanya latar belakang setting, sementara virus dan sebagainya hanya (kalo nggak salah inget) dua kali disebut sepanjang film berdurasi 2 jam 10 menit ini.

Tersebutlah Caesar, seekor monyet (simpanse) yang bisa bicara bahasa manusia karena dia sendiri dulunya juga semacam monyet percobaan, tapi dirawat sama manusia baik hati. Caesar udah gede dan membentuk kelompoknya sendiri jauh dari peradaban manusia di daerah hutan pegunungan dekat dengan bendungan. Di sana Caesar sebagai pemimpin mendidik para monyet lainnya agar memiliki sikap yang baik, kompak, dan cinta damai. Dengan slogannya "Apes not kill apes" (kera tidak membunuh kera), Caesar berusaha agar sistem kehidupan para monyet ini jauh lebih baik dari kehidupan sosial antar manusia yang suka saling membunuh antar sesama dan sebagainya.


Suatu ketika ada manusia (sebenernya satu keluarga) yang berjalan-jalan ke hutan dengan tujuan ngecek bendungan di atas, karena menurut mereka bendungan itu kalo diaktifkan kembali bisa menjadi sumber energi yang bisa digunakan manusia. Salah satu manusia yang panik karena ketemu langsung sama beberapa monyet langsung nembak mati tanpa pertimbangan matang. Akhirnya, monyet-monyet yang dipimpin Caesar ini mengusir manusia dari tempat itu. Seperti kata Caesar, monyet tak mau berperang, karena beresiko membunuh banyak anggota keluarganya yang lain.

Manusia menanggapi pertemuan dengan para monyet ini secara beragam, ada yang berniat menyerang saja dan bunuh semua monyet demi bendungan, ada yang merasa (karena tahu Caesar bisa bahasa manusia) memilih untuk menggunakan jalur perdamaian dan bernegosiasi dengan monyet-monyet itu. Tentu aja yang punya niat kedua dianggap gila, tapi itulah yang akan dilakukan si tokoh utama, dengan nekat dia dan keluarga kembali ke hutan untuk negosiasi.

Negosiasi awalnya lancar, hingga Koba (salah satu monyet yang dulunya korban penyiksaan manusia dan masih menyimpan dendam pada manusia) menekan Caesar untuk membunuh manusia-manusia itu demi kepuasan pribadinya membalas dendam. Tentu Caesar menolak, hingga terpecahlah konflik di dalam tubuh para monyet ini dengan cara mengkambinghitamkan manusia.

Konflik yang sebenernya nggak rumit, tapi karena pelakunya ini monyet bikin feel terasa lebih beda dan fresh. Secara keseluruhan, kisahnya agak mudah ditebak berhubung karakterisasi antar setiap tokoh dan apa-apa yang kira-kira bakal mereka lakukan dalam menghadapi masalah terbaca jelas. Tapi, bukan berarti hal ini menurunkan kulaitas film dan membuatnya jadi nggak menarik, justru pembangunan karakter dan konflik di sini jadi lebih enak untuk dinikmati dengan santai.

Untuk masalah special effect, gue ngga bisa banyak komentar selain bilang kalo gambarnya awesome banget. Tingkat ketajaman gambar, kehalusan, dan detail gambarnya luar biasa. Bulu-bulu monyetnya itu berasa kayak beneran banget. Sistem komunikasi yang dibangun antar para monyet ini, memadukan unsur bahasa isyarat dan sedikit-sedikit potongan bahasa Inggris, bikin greget. Keren banget. Well, gue suka sama karakter Caesar yang sangat berwibawa dan berjiwa kepemmpinan. Tapi, menurut gue sih pemilihan nama 'Caesar' untuk seorang pemimpin itu terlalu klise.

Nah, perkembangan konflik yang dibangun di film ini terhitung cukup lambat dan akan bikin bosen di beberapa bagian. Tapi gue bisa jamin kalo solusi yang diambil nggak mengecewakan dan epicly done! Ending-nya gue nggak tahu bakal dibawa ke mana, tapi memang bakal ada kemungkinan kelanjutan film ini yang lebih menonjolkan perang besar-besaran antar manusia dan monyet.

Film ini cocok buat ditonton sama keluarga di masa-masa liburan (sayangnya liburan udah mau abis :P), adegannya gak ada yang gimana-gimana kok. Justru gue bilang film ini menyimpan banyak banget pesan moral, antara lain pesan agar manusia tidak memperlakukan makhluk hidup lainnya dengan semena-mena, terutama monyet yang sering kali dipakai bahan percobaan secara ilegal. Kasian masbro... :'(

The Most Favorite Scene:
Final battle-nya keren! Terus adegan ketika anak Caesar yang masih bayi ngehampirin kru manusia yang akan membangkitkan bendungan itu so cute banget. Sayang mesti ditutup sama adegan ngeselin yang dilakuin sama Carver (tokoh manusia paling tengil di dalam kelompok mereka yang hendak membangkitkan sistem di bendungan).

The Most Favorite Quotes:
Gue suka sama kata-kata yang diucapkan sama Caesar, karena FUCK THE GRAMMAR! XD~
Caesar: "Apes ... together ... strong!"
Caesar: "Apes ... not ... kill ... Apes!"

NB: Ada banyak sebenernya kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam film. Tapi yang paling berasa banget buat gue adalah plothole yang mana si tokoh utama mendadak tahu kalo nama pemimpin monyet-monyet tersebut bernama Caesar, padahal di awal pertemuan mereka nggak ada yang nyebutin nama. :)

Score: 8/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

2 komentar:

  1. Terima kasih udah kasih review-nya... jadi tertolong nih. Mesti nonton dulu episode sebelumnya

    BalasHapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team