Review Film SABOTAGE (2014)

Sabotage (2014) movie review by Glen Tripollo
Siapa sih yang nggak kenal Arnold Suasanasegar? Semenjak film-film masa mudanya yang penuh dengan adegan aksi bergerak lambat (karena badannya yang terlampau gede) dan adegan tembak-tembakan ala militer, nama beliau ini bersanding dengan aktor-aktor film aksi kawakan lainnya. Pernah dianggap saingan berat Sylvester Stallone, dan sempat berenti dari dunia seni peran karena dirinya menjabat gubernur California. But, hei, HE'S BACK! Seperti kutipan fenomenalnya di film "Terminator", I'll be back, and he proved that!

Eh, tapi ini kan postingan buat nge-review film Sabotage (2014), bukan biografi. LOL. So, lemme tell you about this movie.

"Sabotage (2014)" mungkin berbeda dari film-film action yang biasa dimainkan oleh Arnold Schwarzenegeer, hal ini bisa diduga sejak pertama kali gue liat posternya. From the writer of "Training Day" and the director of "End of Watch", sedikit banyak gue jadi berspekulasi akan seperti apa film ini nantinya, so, gue nggak berekspektasi secara berlebihan. Karena:

  1. Arnold Schwarzenegeer tak bisa dipungkiri lagi, sudah terlalu tua dan bukan saatnya lagi bagi beliau main film action yang penuh dengan adegan bag big bug.
  2. "End of Watch" adalah sebuah film investigasi dengan teknik found footage, yang mana teknik pengambilan gambar, feel tiap adegan, dan sebagainya-sebagainya itu udah terpatri jelas di dalam imajinasi gue, not really my cup of tea.

"Sabotage (2014)" sendiri menceritakan tentang satuan khusus polisi yang bertugas membasmi kriminalitas bidang penyelundupan dan pengedaran narkoba. DEA namanya. Nah, Arnold berperan sebagai Breacher, seorang leader dengan masa lalu suram, yaitu istri dan anaknya diculik sama "musuh" dari Meksiko (yes, polisi yang terkenal biasanya punya banyak musuh yang mengincar keluarga terdekat demi balas dendam), kemudian sambil direkam kamera, istri dan anaknya itu disiksa, diperkosa, kemudian dibunuh perlahan. Potongan tubuh istrinya satu persatu dikirim ke Breacher dengan maksud mengejek. Gimana perasaan Breacher? Udah pasti dia dendam banget kan sama teroris Meksiko ini?

Nah, ceritanya kemudian skip beberapa tahun sejak masa suram itu. Breacher sama timnya dapat tugas buat menyergap tempat kediaman seorang kaya raya pengedar narkoba. Berdasar perjanjian, tim Breacher disuruh ngambil duit di brankas si penjahat senilai sepuluh juta dollar (disimpen di septic tank biar aman) sebelum meledakkan tumpukkan uang lainnya. Misi itu sukses, yes! Tapi ada satu yang aneh, yaitu ketika tim hendak mengambil sepuluh juta dollar yang mereka sembunyiin di septic tank, uang itu udah menghilang entah ke mana.


Di sinilah akhirnya gue menyadari film seperti apakah "Sabotage" ini. Daripada fokus ke adegan action, film ini lebih menjurus kepada investigasi, pemecahan misteri (ya, ala-ala cerita detektif dengan ranah militer), dan penuh intrik. Ibarat kita mau nonton film aksi macam "The Raid", eh ternyata malah dapet "Sherlock Holmes", walau di sini kisah misterinya nggak setajam dan seepik "Sherlock Holmes" sih, tapi lumayan puter otak juga awalnya menebak-nebak siapa pelaku pencurian sepuluh juta dollar tersebut.

Secara keseluruhan cerita, sebenernya suspense yang dibangun dalam film ini cukup bagus. Gue bener-bener penasaran sama siapa pelaku sebenarnya, masing-masing karakter punya alasan untuk melakukan kejahatan. Tapi, awal gue nonton film ini kan niatnya mau liat film action, bukan film bergenre misteri, so, di bagian ini gue cukup dikecewakan. Karena artinya, gue udah tertipu sama poster. Poster film ini sama sekali nggak menggambarkan apa yang kira-kira terjadi di dalam film. Dari poster gue cuma nganggep film ini tentang satuan polisi melawan penjahat, padahal BUKAN!

Secara sinematografi, sedikit banyak sesuai dugaan gue sih. Banyak pengambilan gambar yang berciri khas found footage, terlebih pada adegan jalan raya yang seharusnya bisa lebih epik dengan teknik pengambilan lain. Ini cerita dengan POV 3, penggunaan teknis macam found footage ngebikin film ini terkesan amat murahan di beberapa adegan. Tone yang dipakai juga old skool banget, lumayan bikin mata mengantuk terlebih di awal-awal cerita emang banyak banget dialognya.

Untuk script yang dipakai, well, gue nggak tahu harus bilang apa. Too much kata-kata kasar yang sebenernya nggak perlu. Banyak dialog mesum bin jorok yang dibuat dengan tujuan dark comedy tapi jadinya malah super garing dan terasa banget dibuat-buat. Gue sampe kaget, setahu gue Arnold adalah figur ayah yang baik hati dan berwibawa di keluarganya, tapi mendengar beliau banyak ngomong kata-kata kasar di film ini, menurunkan image-nya tersebut. Poor, Arnie~

Satu lagi yang harus diwaspadai adalah, film ini sangat banyak menampilkan unsur-unsur negatif seperti adegan ranjang yang sebenernya nggak perlu secara vulgar, tapi yang terparah adalah adegan di dalam strip bar. Beberapa adegan juga menampilkan kesan gore yang berlebihan, darah muncrat dengan kapasitas yang lebay, dan yah, intinya ini R-rated, jadi jauhkan anak-anak di bawah umur ketika menonton film ini.

Kesimpulannya, film ini sebenernya menyajikan inti kisah yang nggak jelek, hanya saja eksekusinya yang seolah tanpa perhitungan matang, banyak selipan hal-hal nggak penting, dan sinematografi yang nggak pas, membuat film ini jadi terkesan kelas B, murah, dan membosankan. Buat penggemar berat Arnold Schwarzenegeer pun belum tentu film jenis ini bakal bisa mereka lahap dengan senang hati, karena beda banget sama film-filmnya yang biasa. Penasaran? Silakan tonton, tapi gue jamin film ini bukan jenis film yang mau kalian tonton berulang-ulang.

Score: 6,2/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team