[18+] Review Film GUN WOMAN (2014)

Gun Woman (2014) movie review by Glen Tripollo
Ini bukanlah film yang pantas ditonton sama anak di bawah umur. Yes, biar yang di bawah umur nggak nekad lanjut baca review ini sampe selesai baiknya gue kasih peringatan di awal. Selanjutnya, ya tanggung jawab masing-masing aja deh yah. Film ini mungkin termasuk ke dalam kategori film berbudget rendah alias B-class movie yang biasanya bisa dibedakan jelas lewat cara penggarapannya yang penuh dengan keterbatasan. Kamera terasa kurang tajam, mirip kayak dokumenter walau sebetulnya bukan film bergaya found footage.

Tapi, nggak semua B-class movie itu 100% jelek. Nggak. Ada loh komunitas pecinta B-class movie, karena biasanya film dengan kategori ini digarap bener-bener vulgar dan apa adanya dari segala sisi. Bisa dibilang sebagai exploitation film, dan jenis yang dieksploitasi beragam. Contoh yang paling sering adalah adegan berdarah (gore) dan adegan yang berhubungan dengan aktivitas seksual yang ditampilkan secara berlebihan tapi masih berada jauh di bawah level kevulgaran film porno.

GUN WOMAN (2014) menceritakan seorang penjahat kelamin yang narsis, psycho, dan necrophilia. Kegemarannya cuma satu, bersenang-senang dengan menindas orang lain. Dia suka memperkosa dengan kejam bahkan di depan kekasih si korban. Nah, salah satu kekasih korban ada yang dendam kesumat sama nih penjahat karena bukan cuma memperkosa pacarnya di depan mata, tapi juga udah ngegebukin dia sampe babak belur, hingga terpaksa kehilangan sebelah mata dan kaki kanannya jadi cacat permanen.

Untuk memuaskan hasrat balas dendamnya, beberapa tahun kemudian si korban ini membeli seorang cewek junkie (alias pecandu narkoba parah). Cewek ini dia rawat dengan kejam layaknya binatang, diajarin berantem dan menggunakan senjata api. Dilatih juga untuk kuat menahan sakit dan patuh sama perintah tanpa ba bi bu. Yes, Asami berperan sebagai sang cewek junkie, yang mana kalo nggak salah Asami ini termasuk ke dalam jajaran artis JAV di Jepang sono. So, nggak usah dibayangin lagi, gue kasih tau kalo doi banyak bertelanjang dada di film ini.

Nah, ketika si cewek junkie ini lepas dari kecanduan narkobanya, udah ahli menggunakan senjata, jago berantem, dilepaslah dia ke dalam sebuah misi penyergapan. Si cewek disamarkan menjadi mayat, tubuhnya dioperasi untuk menyembunyikan rangkaian handgun di bagian tubuhnya, seperti di balik payudara dan di perut. Peluru disembunyiin di bawah lidah, dan parahnya magasin diselipin ke dalem miss V. Misi dia adalah berpura-pura jadi mayat. Ketika si penjahat necrophilia itu datang ke tempat tersebut, si cewek harus segera bangun, ngeluarin potongan demi potongan senjata dari badannya sendiri (well, buat yang gak suka gore, adegan di sini bakal membuat kalian pusing ngeliat darah merembes keluar gila-gilaan), selanjutnya tinggal ngerangkai tuh senjata jadi satu dan ngebunuh si penjahat.

Apa semudah itu? Nggak lah. Karena pastinya ada hal-hal yang nggak terduga yang bakal mempersulit si cewek menyelesaikan misinya. Sambil bertarung melawan anak buah si penjahat (Asami berlumuran darah merah dan ... 100% bugil. Canggung banget rasanya ngeliat cewek telanjang berantem lawan cowok kekar berbaju militer lengkap) berusaha mempertahankan diri tetep sadar dan berlomba dengan waktu untuk segera bunuh target sebelum dia sendiri mati kehabisan darah. Berhasil atau nggak silakan lihat sendiri filmnya.

Gue menilai film ini bukan dari banyak dikitnya adegan vulgar, gore yang kacau, atau kualitas sinematografinya karena poin-poin tersebut nggak cocok dipakai untuk menilai B-Class movie seperti GUN WOMAN (2014) ini. Biar greget gue menilai lewat logika cerita dan alurnya aja. Untuk sebuah B-class movie, film ini terlihat banget digarap dengan penuh niat dan tujuan jelas. Cerita memang sederhana, sekedar pembalasan dendam, namun di film ini kita diperlihatkan dengan jelas bagaimana si cowok korban "memasak" seorang wanita hingga menjadi mesin pembunuh andal bagi dirinya. Proses yang diperlihatkan tidak terburu-buru, sehingga terasa mengalir dan real. Yes, secara psikologi perkembangan karakter Asami di dalam film ini bisa saja benar-benar terjadi di dunia nyata. Sadis namun masih ada sudut pandang science yang memperkuat kelogisan setiap adegan. Selalu ada sebab-akibat dan penjelasan sehingga percaya atau nggak, plothole di film ini sangat minim.

Akting Asami di film ini juga nggak main-main. Bagaimana dia bisa memerankan seorang wanita junkie stress yang perlahan-lahan sembuh hingga berhasil jadi pembunuh. Aktingnya bener-bener mengalir walaupun nggak banyak dialog yang Asami ucapkan. Doi nggak cantik, terrible malah di awal-awal film, tapi entah kenapa pas doi berlumuran darah, rambut jatuh basah, bawa pistol, dan bertarung sengit, rasanya jadi HOT BANGET! Bagaikan melihat cabe raksasa (karena merah) yang menari goyang cabe-cabean.

Kesimpulan yang bisa gue petik dari film ini adalah pelajaran bahwa nggak semua B-class movie itu jelek, nggak semua exploitation movie itu hanya menjual kevulgaran, karena gue jujur aja sepanjang nonton film ini sama sekali nggak berpikiran mesum dan malah excited sama action dan penyelesaian konfliknya. Menurut gue film ini menyiratkan seni motion graphic yang tinggi (well, walaupun seni jenis begini pastinya bakal langsung dihakimi FPI kalo dilakukan di negara kita tercinta ini, karena isi cerita yang terlalu amoral).

Inget ya, film ini bukan untuk anak-anak di bawah umur. Download aja duluan gak apa-apa, tapi tonton begitu kalian genap 18 tahun. :)

My most favorite scene:
Absolutely, epic battle scene di kamar mayat. Luar biasa. Darah yang dipakai pun rasanya real sekaleeeee~

Score: 6,5/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team