Review Film LUCY (2014)

Lucy (2014) movie review by Glen Tripollo
Science-fiction ditambah adegan aksi, awalnya itulah yang gue pikir sebelum nonton film "Lucy" ini. Nama Scarlett Johansson mungkin makin melambung semenjak dirinya berperan sebagai Black Widow, heroine dari Marvel Universe. Sayangnya, menurut gue perannya sebagai Black Widow sedikit merugikan baginya, kasus serupa kayak Daniel Radcliff yang terlalu nempel image Harry Potter-nya. Jujur aja, waktu gue nonton film "Lucy" ini, sekalipun dia udah mengubah warna rambut dari redhead ke blondie, tetep aja masih ada jiwa Black Widow terpancar di sana. Which is berpotensi menimbulkan dampak tidak terlalu baik untuk keseluruhan film.

Untuk sebuah film yang didapuk sebagai film bergenre sci-fi dan action, persentase aksi dalam film ini menurut gue sangat kurang. Jadi, gue berpikir untuk lebih menggolongkan film ini ke dalam genre thriller. Kadar bag big bug sampe berdarah-darah nyaris nggak ada, kebanyakan malah menggambarkan betapa berbahayanya kekuatan yang dimiliki Lucy tanpa perlu berantem, sehingga efek nge-thrill pun lebih terasa di sebagian besar adegannya. Nah, anehnya dengan kadar aksi yang terlampau sedikit itu, kenapa gue tetep melihat "Lucy" ini seperti Black Widow? Satu alasan masuk akal yang membuat gue berpikir ke arah sana adalah tokoh Lucy ini memiliki sifat dan kemampuan yang gak jauh beda sama Black Widow, misalnya dalam hal kejeniusannya dan strategi yang digunakannya dalam melawan dan melarikan diri. Dari segi akting yang dimainkan oleh Scarlet pun nggak ada yang memberi kesan beda. Banyak artis lain yang mampu menggantikan posisi Scarlet sebagai Lucy. Sedangkan, perbedaannya cuma dua, yaitu kemampuan Lucy meliputi juga telekinetis yang terus menerus berkembang hingga dirinya mampu untuk ber-teleport, serta awal mula kekuatannya muncul. Kalo Lucy karena efek obat, maka Black Widow adalah seorang agen rahasia SHIELD yang memang sudah terlatih dan berprestasi sejak awal kemunculannya.

Ada beberapa poin penting yang gue jadikan pertimbangan setelah melihat dari awal sampai akhir. Semuanya bakal gue coba rangkum di bawah ini:

The Theory vs The Depiction
Inti kisah yang dibangun dalam film "Lucy" sebenarnya sederhana, yaitu mendasar pada sebuah pertanyaan pelik ini: "Bagaimana bila seandainya manusia yang rata-rata hanya mampu mengakses 10% dari total kemampuan otaknya, ternyata mampu menguasai hingga 100%?" Dalam pembukaan film, terlihat Morgan Freeman, yang berperan sebagai seorang profesor, menggambarkan secara mendetail dalam presentasinya di depan mahasiswa mengenai hal tersebut. Sampai pas banget di akhir pertemuannya, seorang mahasiswa menanyakan pertanyaan yang gue tulis barusan.


Pada prakteknya, yang dialami Lucy ini menurut gue agak lebay dan nggak masuk akal. Okelah, pada penggambaran awal gue masih ngerasa kemampuannya tergolong wajar bagi orang yang kemampuan otaknya super, tapi sampai bisa memecah sel dan beregenerasi dengan cepat, menurut gue agak out-of-topic. Sebenernya, menggunakan premis semacam ini nggak masalah, seorang cewek biasa dikasih obat terlarang nyaris overdosis, membuat dirinya berkemampuan super, terus berusaha membalas dendam pada orang yang telah membuatnya demikian dan menghentikan peredaran obat tersebut ke seluruh dunia. It's superhero-like story, tapi karena nggak ada embel-embel kalo ini adalah film superhero yang diangkat dari komik, makanya muncul deh tanggapan-tanggapan negatif dari para penggemar film, termasuk juga dari para penggemar komik superhero.

Untuk bagian ini, gue sendiri sebenernya nggak mau mempermasalahkan lebih jauh. Gue cuma menyayangkan perkembangan kemampuan Lucy yang lama-lama menjadi terlalu lebay atau out-of-topic dari pengembangan kemampuan otaknya itu sendiri. Menurut gue sih ngga ada yang namanya pengetahuan secara instan, mentang-mentang otak udah berkembang, nggak berarti juga mendadak jadi tahu segala hal, tetep harus melalui proses pembelajaran dan pengalaman. Seenggaknya itu sih menurut pendapat gue yang cuma pakai otak 6% ini.

The Cinematography
Penggambaran adegan demi adegan menurut gue awalnya oke. Tapi di bagian awal, ada beberapa hal penggambaran yang agak kurang jelas apa maksudnya. Okelah, mungkin maksudnya mau memberi gambaran secara konotatif lewat adegan surealis harimau mengejar mangsa, but still, gue masih belum bisa nemu di mana keterkaitan jelas antara adegan perburuan tersebut dengan apa yang dialami Lucy. Jadi, menurut gue daripada bikin penonton bingung, penggambarannya juga nggak bagus, lebih baik adegan surealis itu dihilangkan saja dan dialokasikan untuk pematangan karakter. Jujurly, menurut gue durasi film ini kependekan dan terkesan terburu-buru. Mungkin itu juga sih salah satu faktor yang bisa mendorong penonton kalo film ini terasa lebay di beberapa adegannya.

Penggunaan unsur CG pun menurut gue standar banget. Terlihat jelas bohongannya di beberapa bagian, sayangnya bagian tersebut adalah yang terpenting, alhasil menurunkan derajat film ini. Bahkan gue sempet membuat joke di akhir film dengan mengatakan, "ya, teman-teman~ jadi inilah kira-kira awal mula terciptanya Internet. Oh, shit! Kok nggak kepikiran ya?" :))

Kesimpulan yang bisa gue petik dari review ini adalah film ini masih bisa dinikmati di saat santai dengan pikiran yang open mind. Gak perlu banyak menuntut soal kelogisan karena pastinya bakal kesel kayak gue. Just enjoy the flow dan ikuti petualangan Lucy sampai selesai. Bayangin aja lagi nonton film superhero. Kalau belum menonton film ini di bioskop, gue ucapin selamat. Adegannya juga nggak ada yang "menyeramkan" bagi anak-anak, kecuali keterlibatan senjata api, dan obat-obatan terlarang. Intinya, film ini masih bisa dinikmati segala umur namun tetap harus dengan bimbingan orangtua.

My favorite scene:
Adegan favorit dalam film ini justru adalah adegan yang bikin gue ngakak saking maksanya. Yaitu, persis adegan menjelang ending yang mana nggak mungkin gue tebar spoiler di sini. Tonton dan kalian bakal tahu adegan mana yang gue maksud.

NB: Film standar yang menarik untuk dinikmati, namun sorry, gue nggak bakal rela ngabisin waktu untuk menontonnya dua kali.

Score: 6/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

1 komentar:

  1. Klu sya lihat film lucy..ni sbenrnya ada hubungannya dengan spiritual

    BalasHapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team