[West-Movie Review] Annabelle (2014)

"Annabelle (2014)" movie review by Kinudang Bagaskoro
Oktober datang! Bulan Oktober biasanya identik dengan Halloween yang tentunya horor. Bertepatan dengan bulan ter-horor ini, Warner Bros dan New Line Cinema merilis film baru mereka yang disebut-sebut sebagai spin off dari film The Conjuring (2013) dimana bertajuk : Annabelle 

Film ini dimulai dengan sebuah kalimat yang menyatakan bahwa sejak awal peradaban, boneka sangat dihargai dan diminati oleh semua kalangan masyarakat termasuk kolektor, boenka juga dipakai oleh acara ritual keagamaan. Adegan beralih ke sebuah gereja dimana Romo-nya sedang berkhutbah, dimana kalimat yang disampaikan sebenarnya adalah inti cerita dari film ini. Dari gereja tersebut kita mengenal pasutri yang bernama John dan Mia juga pasutri lain--kita sebut saja, keluarga Higgins--dimana mereka adalah tetangga dari John dan Mia.

Mia ini sebenarnya sedang hamil tua, dan Mia pernah keguguran sejak kehamilan pertama-nya. Malamnya, John memberi Mia sebuah hadiah, yakni boneka gadis kecil berkepang 2 dan memakai gaun putih, Mia pun meletakkan boneka itu di kamar anaknya. Tak lama berselang dan malam sudah semakin larut, saat Mia dan John sedang tidur, Mia di kagetkan dengan suara teriakan tetangganya. Singkat cerita, John langsung berlari ke rumah tetangganya, lalu keluar memberi tahu Mia untuk menelepon 911. Setelah Mia menelepon 911, Mia ditusuk perutnya oleh seorang lelaki misterius, Mia kemudian ambruk dan suaminya datang bersamaan dengan seorang gadis yang bertindak anarkis seperti kesetanan. Tak lama setelah itu, polisi datang dan menembak mati lelaki misterius itu, sementara gadis anarkis tadi ditemukan sudah tewas bersimbah darah dengan sebuah boneka gadis kecil berkepang 2 di pangkuannya.

Dari sinilah masalah dimulai.

Dan dari sini pula-lah review saya mulai.

Sinematografi

Gak usah diragukan lagi, sinematografi disini emang udah keyen banget, penggunaan framing dan efek bokeh untuk adegan judul sangat ciamik, ditambah perpaduan warna mozaik dari jendela gereja menjadikan sebuah adegan dengan komposisi yang unik. Saya yakin, pasti kameramennya handal banget. 1 hal yang sangat unik di film ini adalah ya perpaduan warna itu, ini mengingatkan saya terhadap film Insidious Chapter 2 (2013). Kalau kamu memperhatikan, susunan warna di jendela gereja hampir mirip dengan cat interior rumah di Insidious Chapter 2 (2013). Penggunaan komposisi framing yang diberi efek bokeh pada sebuah film memberikan sentuhan yang fresh karena jarang ada yang menggunakan komposisi seperti ini, selain itu, POI (Point Of Interest) juga lebih terlihat.

Kekurangannya justru menjadikan film ini menjadi lebih feminim dan kurang gahar. Lalu ada sebuah kejanggalan, yakni adanya patung seorang pria berwajah buruk rupa dengan 1 tanduk, patung ini berada di dalam dan di luar gereja, apa gitu maksudnya? Kemudian, cahaya yang dihasilkan kesannya kurang vintage, mengingat setting film ini jauh lebih lama dari The Conjuring (2013).

Alur dan Latar Cerita

Sebenanya sungguh sangat brilian idenya untuk memanjangkan cerita dari boneka Annabelle ini, boneka ini sebenarnya aman-aman saja saat ia baru saja dibeli oleh John, hingga setetes darah dari Annabelle Higgins--seorang gadis anarkis tadi--masuk melalui mata si boneka hingga menjadikan boneka yang mengerikan. Sangat brilian pula saat adegan pembuka dari film ini adalah adegan pembuka yang sama di film The Conjuring (2013) tanpa The Warrens tentunya. Adegan pembuka ini akhirnya ditarik mundur saat pertama kali boneka itu masih menjadi 'boneka saja'.

Jadi kita bisa simpulkan bahwa alur dari film ini adalah maju-mundur-maju. Namun dengan alur yang seperti, Pak Leonetti sebagai sutradara menuntut kita untuk berpikiran slow saja, tidak terlalu rumit dan mudah dipahami kok.

Latar ceritanya kesannya terlalu modern dan, padahal, se-modern-modernnya kota, kalau setting-nya tahun sangat jebot, juga enggak bakalan se-modern film ini. Padahal, di film pendahulunya, seluruh-nya serba vintage dan sangat berasa classic-nya.

Musik dan Jumpscare

Agak terkejut ketika saya menemukan nama Joseph Bishara sebagai penata musiknya, pantas saja musiknya agak jedar-jedor. Yang belum tahu siapa doi ini, Joseph Bishara adalah orang yang sama untuk penata musik dari film Insidious (2010), Insidious Chapter 2 (2013), dan The Conjuring (2013). Nah, kebayang kan? Betapa jedar-jedornya film ini, semoga ini juga menjadi salah satu poin buat kamu yang penakut untuk kembali berpikir sebelum menonton film ini.

Untuk jumpscare-nya, kendati James Wan duduk di bangku produser, tapi rasa-rasanya masih ada ciri khas dari James, ada sebuah adegan saat kaki Mia ditarik dan ini mengingatkan kita pada salah satu adegan di film The Conjuring (2013). Mau tau yang mana? Nonton sendiri. Meski begitu, kebanyakan jumpscare di film ini sangat original dan fresh from the oven. Jadi setiap scene-nya kalian harus berhati-hati dan meneguhkan hati.

Memorable Quote:

I like your dolls ....

~Annabelle Higgins

Memorable Scene:

Saat Mia ada di ruang penyimpanan, adegan ini terbukti membuat seluruh penonton mendadak terserang asma, karena Pak Leonetti hanya memberi jeda 1 kali--sebentar banget pula--untuk bernafas sepanjang adegan ini berjalan.

Rate: 8/10

NB: Sorry to say, tapi film ini--menurut saya--masih berada 1 tingkat di bawah The Conjuring (2013), ada beberapa alasan saya menyebutkan seperti ini, tapi entar malah jadi spoiler dan very long post. Namun, saya masih bisa standing applause dan membuka harapan pada Pak Leonetti untuk menyutradari The Conjuring 2 ataupun film horor lainnya lagi, good job buat sutradara baru kita, John R. Leonetti.

Share on Google Plus

Review by Kinudang Bagaskoro

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team