[J-Movie Review] Saint Seiya: Legend of Sanctuary (2014)

"Saint Seiya: Legend of Sanctuary (2014)" movie review by Wildan Hariz
Mungkin bagi kalian yang gemar menonton anime di TV di tahun 90-an, khususnya para laki-laki, sudah tidak asing lagi dengan serial Saint Seiya. Serial anime ini sempat ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi di Indonesia. Lagu temanya yang terkenal yaitu "Pegasus Fantasy" pun sempat dijadikan parodi dan diaransemen ulang oleh band-band seperti Sastromoeni, Jafunisun, Animetal, dan Animetal USA. Di tahun 2014 ini serial Saint Seiya mendapat kesempatan untuk dijadikan sebuah computer-animated film. Tidak jauh berbeda dengan serial TV-nya, film CG ini masih berkisar tentang perjuangan para saint Athena dengan pertarungan yang sarat akan jurus-jurus mematikan dan semangat pantang menyerah. Semua itu demi kesetiaan dalam melindungi Athena yang cantik jelita.

Ada lima saint yang ditugaskan untuk melindungi Athena. Masing-masing mewakili rasi bintang tersendiri. Rasi bintang yang mereka emban adalah Pegasus, Draco, Cygnus, Andromeda dan Phoenix. Mereka memiliki kekuatan yang disebut "cosmo" dan armor yang disebut "cloth". Dengan itu semua mereka dapat menjelma menjadi kesatria-kesatria tangguh yang siap bertempur demi Athena.

Berlatar di era modern Jepang tidak membuat film ini melenceng jauh dari alur cerita aslinya. Malahan, latar modern yang ditampilkan di film ini terbilang cukup singkat. Sisa durasi film dihabiskan pada sebuah lingkungan bernama Sanctuary, tempat para saint emas menjaga kuilnya masing-masing. Di sana pula tempat yang menjadi latar para saint pelindung Athena bertarung melewati kuil demi kuil.

Film dibuka dengan adegan sepintas tentang seorang saint emas yang berseteru dengan saint emas lainnya. Dia berusaha mati-matian melindungi seorang bayi yang belakangan diketahui sebagai reinkarnasi Athena. Menjelang ajalnya, saint emas itu memercayakan sang bayi kepada seorang konglomerat Jepang untuk menjaganya dan membesarkannya agar suatu saat bayi itu dapat kembali ke Sanctuary.

Setelah 16 tahun berlalu, bayi itu tumbuh besar menjadi seorang gadis cantik. Sementara itu, Sanctuary kala itu dikuasai oleh Pope, yang selama 16 tahun memperdaya para saint emas menggunakan Athena palsu. Pope merencanakan pembunuhan terhadap Athena yang asli dengan mengirim beberapa anak buahnya. Namun usaha itu tandas di hadapan para saint pelindung Athena. Walaupun kelas saint pelindung Athena adalah perunggu, tidak seperti para saint emas yang lebih kuat berkali-kali lipat, mereka memutuskan pergi ke Sanctuary untuk menantang para saint emas dan membuktikan bahwa Athena yang mereka lindungilah yang asli.

Salah satu hal baru yang ditemukan pada desain para saint selain penyesuaian bentuk rambut dan armor adalah penggunaan helm topeng keren yang menutupi wajah mereka. Riset yang untuk mendesain helmnya sepertinya dilakukan dengan sangat baik. Terutama terlihat dari helm Saint Pegasus Seiya, yang sangat kentara dengan suasana Yunani, layaknya para prajurit Sparta di film "300".

Poin menarik lainnya adalah ekspresi dan keluwesan gerakan karakter yang agak mirip karakter dari Disney, terutama pada adegan komedi. Efeknya, gerakan Seiya saat berbicara terlihat lebih lincah. Jika dibandingkan dengan film-film CG dari seri Final Fantasy, Tekken, atau Appleseed yang lebih serius ("Appleseed Alpha" punya pengemasan humor yang sedikit berbeda sebenarnya, yaitu lebih menekankan pada dialog daripada gerakan), sangat terlihat jelas perbedaannya. Bagaimanapun, hal ini hanya terjadi di beberapa adegan awal dan semakin sedikit terlihat seiring berjalannya alur film ke arah yang lebih serius. Selebihnya, di film ini karakterisasinya masih setia pada versi aslinya. Contohnya Saint Draco Shiryu yang apik dan siaga (sampai-sampai dia terus memakai armor setiap saat), Cygnus Hyoga yang kalem, dan Andromeda Shun yang lembut. Seiya tentu bersemangat seperti biasa. Agak lain dari mereka adalah Phoenix Ikki, yang digambarkan lebih serampangan dari versi animenya.

Suguhan pemandangan menakjubkan dan adegan pertarungan yang memanjakan mata pun tidak dapat terelakkan saat menonton film ber-genre fantasi ini. Suasananya benar-benar seperti menonton serial animenya yang klasik dengan peningkatan grafis 3D. Ini membuat adegan-adegannya lebih keren dari yang dulu. Alur dari versi anime yang notabene menghabiskan puluhan episode pun dikemas dalam ringkasan yang baik dalam satu film, meskipun adegan pertarungan kebanyakan berakhir dalam tiga sampai lima menit saja karena banyaknya karakter yang terlibat dengan batasan durasi film yang tidak terlalu lama.

Rating 10/10 mungkin pantas bagi yang pernah menonton animenya. Apalagi jurus-jurus yang ditampilkan di film ini sukses mengundang nostalgia. Sebut saja "Pukulan Meteor Pegasus", "Rantai Nebula", dan "Tinju Naga Mendaki Gunung". Bagi yang belum pernah menonton pun mungkin hanya akan sedikit merasa janggal dengan alur, karena kualitas grafis animasi yang disajikan sangatlah luar biasa. Adegan pertarungannya juga tidak kalah seru. Untuk itu, adalah hal yang pantas kiranya jika film ini diberi rating 9 untuk general audience.

Rating: 9/10

Share on Google Plus

Review by Wildan Hariz

1 komentar:

  1. gak pernah liat tp keren kayaknya hehe
    jgn lpa mmpir ke imajininasiku bersama Toyota Rush ya, salam blogger :)
    https://deviens29.wordpress.com/2014/11/20/bertualang-bersama-mobil-toyota-rush/

    BalasHapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team