Review Film THE EQUALIZER (2014)

"The Equalizer (2014) movie review by Glen Tripollo
Bisa dibilang Denzel Washington ini aktor laga yang datar-datar aja, nggak tenar banget (di Indonesia), tapi juga nggak bener-bener terlupakan. Ngomong-ngomong dirinya juga cukup sepi dari pemberitaan miring atau gosip-gosip nggak penting Hollywood loh. Aksi laganya yang terakhir gue tonton sebelum film ini adalah "The Book of Eli (2010)", yang mana ciri khasnya mulai terlihat di sana. Berantem dengan gerakan cepat, simpel, tapi to the point. Gue golongkan gaya berantem cepetnya ini sekaliber sama Steven Seagal di "Under Siege (1992)" dan Liam Neeson di film "Taken (2008)".

"The Equalizer (2014)" sendiri bisa dibilang sebagai film aksi dengan tokoh utama yang berciri khas. Jadi, bukan mentang-mentang film action, terus karakternya dibikin sekedar jago berantem, berjiwa pahlawan, dan memakai kemampuannya itu buat nolong orang, tanpa banyak penggalian karakter dari segi kepribadiannya. Well, ini nggak se-mainstream itu sih. It's not a superhero movie by the way. Biar lebih jelas lagi, gue bakal bahas film ini menggunakan beberapa poin yang menurut gue paling menarik buat diulas. Yuk, lanjutin bacanya!

Unique characters and fighting style
Yep, Denzel Washington di sini berperan sebagai Robert. Seorang bapak-bapak paruh baya yang menderita penyakit mental yang disebut OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) menyebabkan kehidupannya serba teratur-cenderung-membosankan, mulai dari makanan, pengaturan tata ruang, meja makan, dan kebiasaannya sehari-hari. Hampir setiap kegiatan dia kasih batasan waktu. Penampilannya juga bapak-bapak biasa pada umumnya yang klemer-klemer menikmati masa pensiun dengan baca buku sambil minum teh di kafe setiap malam. Tapi, siapa sangka kalo ternyata Robert adalah mantan agen. Masa lalunya memang nggak begitu dijelaskan, tapi kita langsung mendapat pemikiran kalo masa lalunya bukan suatu hal yang baik. Bapak-bapak yang terlihat perfeksionis ini ternyata jago berantem. Bukan cuma jago, tapi juga bijak dan penuh perhitungan dalam setiap aksinya.

Sedikit mengingatkan gue sama Sherlock Holmes yang sebelum berantem selalu mengandalkan analisa supernya yang digambarkan dalam bentuk slowmotion dan sangat detail. Terlalu detail sampe pertarungan ala Sherlock ini sedikit kurang logis bagi gue. Beda sama Robert yang lebih mengandalkan pola baca situasi, kelemahan musuh, jumlah, dan benda-benda apa yang ada di sekitarnya tanpa harus digambarkan secara visual dalam bentuk slowmotion. Sehingga penonton tetep merasa penasaran dalam adegan hening sepuluh detik sebelum Robert mulai menyerang, menduga-duga apa yang bakal dia lakuin. Menurut gue, terlepas dari mungkin nggak mungkin, adegan di film ini lebih terlihat realistis dan logis.


Satu lagi yang menarik perhatian gue adalah karakter yang diperankan sama Chloe-Grace Moretz. Tau sih dia udah cukup sering dapet peran nyeleneh menjurus, semisal Hit Girl, bitchy-naughty young girl yang jago banget berantem di film "Kick-Ass (2010)" dan "Kick-Ass 2 (2013)", tapi perannya di sini lebih berat walaupun cuma tampil sedikit di bagian awal dan akhir. Perannyalah yang paling penting sebagai alat pengembangan plot. Chloe berperan sebagai Teri (nama aslinya Alina), seorang gadis remaja Rusia yang terjerat dunia prostitusi. Di sini, karakter Teri ditampilkan lemes, dandanan lumayan menor, dan muka pasrah seolah tengah menikmati beban hidupnya yang udah terlampau besar bagi gadis seumurannya (tapi kampretnya tetep aja dia keliatan imut. Iya, gue lagi fanboying). Efek pita suara yang sengaja dibikin serak juga bagus banget. Nah, ternyata di balik hitam dunianya, dia antusias banget ngedengerin cerita Robert soal buku-buku yang lagi dibacanya di dalem kafe. Berdiskusi soal kehidupan dengan cara yang filosofis. Banyak quotes keren yang maksudnya adalah motivasi dilontarkan sama Robert buat nyemangatin Teri. Jadi, di sini kita juga disuguhin hal-hal yang cukup mendidik.

Unique plot development, from drama to brutal action-flick
"The Equalizer" menceritakan tentang Robert McCall, pria paruh baya yang menderita OCD. Sehari-hari bekerja di supermarket bahan bangunan, masa lalunya misterius. Robert yang punya kebiasaan duduk minum teh di kafe setiap malam itu kenal sama seorang remaja PSK bernama Teri/Alina, yang ternyata sedang mengalami konflik hidup yang berat (walau selalu tampil seolah dirinya kuat). Dia suka cerita yang ada di dalam buku, tapi gak pernah baca sendiri, jadinya dia seneng pas Robert dengan humble-nya mau menceritakan apa-apa yang lagi dia baca. Suatu hari, Robert ngeliat Alina digamparin sama germonya, sampe tersiar kabar kalo Alina masuk rumah sakit gegara babak belur. Di sanalah Robert mencari cara buat ngebantu Alina. Dia datengin deh tuh tempat germo high-class punya orang Rusia bernama Slavi, dia kasih tawaran 9800 dollar demi kebebasan Alina. Tapi, Slavi malah ngeyel and ngeremehin Robert. Karena merasa udah ngasih kesempatan dengan jalan damai namun ditolak, Robert terpaksa menumpas semuanya. Di sanalah uniknya Robert, sebelum memutuskan untuk melawan atau nggak, dia selalu memberikan pilihan jalan terbaik lebih dulu. Salah pilih, maka siap-siap menyesal.

Nah, ternyata, Slavi ini cuma cecunguk kecil yang menjalankan bisnis sampingan Pushkin, bratva Rusia. Pushkin pun ngirim orang kepercayaannya yang bernama Teddy buat menyelidiki siapa yang udah menghambat bisnisnya di Amrik dan ngebunuh Slavi. Penyelidikan terhadap Robert pun dilakuin, mereka penasaran sama bapak-bapak yang terlihat biasa aja itu.




Singkat kata, Teddy yang berniat menyingkirkan Robert, ternyata lebih dulu diselidiki sama Robert. Robert jadi tau kalo Teddy ini anak buah Pushkin, dan demi kebaikan semuanya, dia pun terpaksa kembali ke dirinya yang dulu dan ngebasmi bratva tersebut sampe ke kepala-kepalanya, terlebih anak buah Pushkin udah berani mengancam keselamatan orang-orang terdekat Robert, seperti Ralphie, pria gendut yang udah susah payah minta bantuan Robert buat diet supaya bisa lolos tes jadi sekuriti.

Mungkin sampe sini terkesan mainstream yah, ada tokoh jagoan yang mencoba menghabisi suatu gembong penjahat sampe ke tingkat teratas. Tapi, kalo kamu nonton film ini tanpa pernah liat poster ataupun trailer-nya, pasti selama setengah jam pertama bakal nggak nyangka kalo ini film action yang brutal. Tapi lebih ke kesan film drama motivasi yang menyentuh lintas generasi antara Robert dan Teri. Pace di awal cerita cukup lambat dan terkesan hati-hati dan mendetail dalam menampilkan karakterisasi tokoh-tokoh pentingnya. Membosankan di awal? Nggak juga kok. Malah bagus menurut gue, adegan aksi terasa bagaikan twist. Terus kenapa gue bilang film ini menyuguhkan aksi yang brutal? Soalnya, karakter Robert nggak kayak tokoh film aksi lain yang udah khas dengan senjata-senjata tertentu, Robert lebih lentur dan bertarung menggunakan benda apapun yang bisa dia gunakan di sekitarnya. Mulai dari pembuka wine, alat bor, kawat berduri, tombak gergaji, sampe ke pistol paku. Belum lagi gerakan-gerakan menusuk lawan pake belati atau pecahan kaca yang cepet dan kesannya enak banget gitu, CLEP CLEP CLEP! Damn!

Plot yang menurut gue udah berkembang bagus ini tetep aja sih menyimpan beberapa kekurangan. Misalnya, kita semua tau kalo karakter Robert ini sangat cerdas, tapi strategi yang dipakai Teddy untuk menjatuhkan Robert (di final battle) malah terkesan bodoh banget. Kalian bisa liat sendiri nanti kalo ngecek film ini. Walau kekurangannya jelas, tapi aksinya tetep bisa jadi pemanja mata.

About the duration
Satu lagi kekurangan film ini adalah durasi yang agak terlalu panjang. 125 menit, terlalu panjang untuk ukuran film action. Beberapa bagian menurut gue bisa ditekan durasinya, termasuk bagian awal yang sengaja dibikin dengan pace lambat, bisa dipercepat dan mengurangi adegan-adegan kosong, bengong, atau dialog yang ngga terlalu penting. Kecuali dialog antara Robert dan Teri/Alina, itu bagus untuk pematangan karakter.

Nah, walaupun film ini mengambil tema yang cukup berat, prostitusi kelas atas dan bratva Rusia, tapi nggak ada adegan yang terkesan porno kok. Semuanya aman, kecuali dari segi sadisnya pertarungan yang ditampilkan. So, tetep gue golongkan film ini untuk 16 tahun ke atas atau dengan bimbingan orangtua.

My favorite scene:
Ketika Robert yang tengah berdiam diri di dalam rumah, mendadak mendengar sesuatu seperti langkah kaki menelusuri tangga. Robert pun kemudian membuka pintunya persis berbarengan dengan sampainya orang tersebut (yang ternyata Teddy) di depan pintunya.

My favorite quote:
Robert McCall: "When you pray for rain, you gotta deal with the mud too."
Robert McCall: "Don't doubt yourself. Doubt kills."
Robert McCall: "Progress. Not perfection."

Score: 8,2/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team