[C-Movie Review] The Monkey King (2014)

Satu lagi kisah klasik tentang ‘perjalanan ke barat’ yang diadaptasi menjadi sebuah motion picture. Di Indonesia, kisah ini sempat tayang dalam bentuk serial TV berjudul “Kera Sakti”. Namun berbeda dari kisah perjalanan ke barat yang biasanya, adaptasi layar lebar yang satu ini menceritakan asal-muasal sang monkey king, Sun Wukong, yang mengacau di kayangan sebelum bertemu dengan teman-teman seperjuangannya dalam perjalanan ke barat. Penasaran dengan aksi Sun Wukong di film The Monkey King? Simak dulu ulasannya di sini.

Alkisah, Sun Wukong adalah seekor monyet yang secara mistis terlahir dari sebuah batu ajaib. Dia punya kekuatan yang luar biasa. Sun Wukong pun bertemu dengan gadis siluman rubah yang menjadi teman baiknya. Namun kehidupan damainya dirusak Bull Demon King yang menculik si gadis siluman rubah. Sun Wukong pun terprovokasi dan sontak mengacau kayangan. Jade Emperor dan pasukan kayangan akhirnya terpaksa harus turun tangan untuk mengatasi ulah Sun Wukong.

Kalau waktu di serial TV yang tayang di Indonesia Sun Wukong diperankan oleh Dicky Cheung, Sun Wukong kali ini diperankan oleh Donnie Yen yang sudah terkenal di film “Ip Man”. Donnie Yen sebagai pemeran sebenarnya sudah mumpuni. Apalagi dia punya banyak keterampilan bela diri dari mulai gaya hapkido, wushu, sampai wrestling. Walaupun begitu, sayangnya grafis komputer yang menghiasi film ini masih lebih mencolok dibandingkan aksi keterampilan bela diri yang dilakukan para karakternya. Ada satu adegan pertarungan Sun Wukong dan Bull Demon King yang terasa seperti adegan di “Dragon Ball”. Dan ini digambarkan dengan baik.

Chow Yun Fat dan Aaron Kwok masing-masing berperan sebagai Jade Emperor (Raja Kayangan) dan Bull Demon King (Siluman Kerbau). Dari segi cast mestinya sudah cukup untuk membuat orang penasaran untuk menonton film ini. Namun sayang, tidak banyak emotional gimmick yang bisa ditunjukkan dari karakterisasi setiap karakter yang terlibat. Hanya sedikit feel yang terasa. Contohnya hanya di penggambaran hubungan Wukong dan gadis siluman rubah serta di saat Bull Demon King dikutuk oleh Jade Emperor.

Cerita pun berlangsung singkat dengan minimnya dialog. Kalau lebih banyak dialog mungkin setiap adegannya bisa lebih memberikan penjelasan dan sentuhan sentimental di alurnya yang cepat. Kabarnya sih cerita di film ini diambil dari bab-bab pilihan versi asli novelnya. Akan tetapi tetap saja secara narasi, bisa disimpulkan bahwa rangkuman ceritanya masih terkesan setengah jadi, yang kemudian ditutupi dengan besarnya porsi pertarungan dan pemandangan grafis yang ‘wah’.

Filmko Entertainment merekrut David Ebner yang pernah menangani “Alice in Wonderland” dan “Spider-Man 3” bertanggungjawab untuk penampilan grafis di film ini. Maka dari itu, tidak heran jika kualitasnya setara dengan film-film Hollywood. Mendekati akhir film, sangat banyak adegan pertarungan dengan efek visual yang memang bagus. Jadi secara keseluruhan grafisnya sudah oke. Hanya cerita dan karakterisasi yang perlu digarap dengan lebih apik lagi.

Film ini dikabarkan akan menelurkan sekuel. Produksinya dimulai pada bulan November kemarin. Pemeran biksu Tang Sangzang nantinya akan diisi oleh Louis Koo. Kita tunggu saja apakah sekuelnya nanti bisa lebih baik dari ini.

Rating: 6/10

Share on Google Plus

Review by Wildan Hariz

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team