Review Film YOGA HAKWON (2009)

"Yoga Hakwon (2009)" movie review by Glen Tripollo
Kebetulan gue belum lama nonton film ini di salah satu channel TV kabel yang khusus menayangkan film-film horor mancanegara. Well, kesempatan yang super jarang, berhubung sekarang ini berat banget bagi gue duduk santai nonton TV di rumah. Pas lagi iseng sambil makan siang, eh, kebetulan juga film ini baru mulai ditayangkan.

Alasan awal gue nonton film ini adalah karena ada Kim Yoo-jin (Eugene)aktris yang gue kenal pertama kali lewat drama seri "Baker King Kim Tak-goo"jadi tokoh utama dalam film ini. Walau perannya di film drama seri tersebut cukup menyebalkan, tapi tampangnya yang lumayan cute bikin gue penasaran sama sepak terjangnya di film ini. Alasan yang kedua, udah tentu karena ini film horor dan mengangkat tema yang menurut gue sederhana tapi memang berpotensi banget diangkat versi mistisnya. So, kesan pertama memang menggoda. Tapi, apakah rasa penasaran gue bener-bener terobati? Yuk, baca lebih lanjut review gue kali ini..

"Yoga Hakwon (2009)" atau biasa disebut "Yoga Class" atau "Yoga" saja menceritakan tentang seorang wanita bernama Hyo-jeong yang bekerja sebagai pembawa acara jual-beli interaktif khusus onderdil wanita di TV, tapi ternyata pamornya makin berkurang sejak wanita baru yang lebih cantik dan lebih muda muncul untuk menggantikan perannya. Hyo-jeong jadi emosi dan mengalami tanda-tanda depresi, hingga akhirnya seorang senior menyarankannya untuk berlatih Yoga di sebuah tempat khusus yang katanya dimiliki (dan menjadi rahasia kecantikan awet muda) seorang aktris senior Kan Mi-hee. Tanpa curiga, Hyo-jeong pun mendaftarkan diri di kelas Yoga tersebut, bersama dengan empat wanita calon peserta lainnya (dengan beragam latar belakang dan sifat yang berbeda-beda). Sebagai pelatih Yoga mereka, adalah Na-ni, seorang wanita cantik yang bersikap dingin dan strict terhadap aturan.

Sistem kelas Yoga berupa latihan intensif dengan beberapa level yang dilakukan selama seminggu. Hal itu mengharuskan pesertanya untuk tinggal di tempat tersebut selama waktu yang ditentukan (jadi semacam asrama). Selama kelas berjalan, ada lima peraturan aneh yang wajib untuk mereka patuhi. Hingga akhirnya satu persatu peserta yang nggak tahan sama peraturan tersebut melanggarnya dan mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang sulit dijelaskan dengan akal sehat manusia.


About the 5 rules
Penasaran 'kan sama peraturan apa aja yang harus diikuti sama peserta kelas Yoga tersebut sepanjang masa pelatihannya? Nah, berikut ini peraturannya:
  1. Setiap peserta dilarang membawa handphone dan berhubungan dengan dunia luar.
  2. Setiap peserta dilarang untuk makan sembarangan. Pada bagian ini, ada adegan di dalam film yang mana kamera menyorot tajam ke arah sebuah plakat raksasa yang berisikan tulisan yang artinya begini: "Orang bijak makan di pagi hari, binatang makan di siang hari, dan hantu makan di malam hari." Yes, it's kinda creepy, y'know!
  3. Setiap peserta dilarang meninggalkan bangunan tempat kelas Yoga itu dilaksanakan.
  4. Setiap peserta dilarang untuk mandi dalam sebelum lewat satu jam setelah pelatihan harian selesai dilaksanakan.
  5. Setiap peserta dilarang untuk bercermin.
Sebagai konsekuensi dari kelima aturan tersebut, semua peserta wajib menyerahkan ponsel dan cermin yang mereka bawa kepada Na-ni untuk disimpan di tempat khusus yang tersembunyi.

Premis seram, namun kurang dalam hal logika
Oke, setelah gue kasih tau inti cerita dan aturan-aturan yang diterapkan di tempat pelatihan Yoga milik Kan Mi-hee tersebut, efek creepy mulai menjamur dan perlahan-perlahan merayapi kulit (lu pikir panu?). Suasana menekan yang tercipta karena dekorasi tempat Yoga itu yang remang-remang, penuh dengan ornamen menyeramkan, dan suasana sepi. Damn, kalo gue jadi mereka, gue bakal mikir dua kali untuk bener-bener ikut kelas tersebut, terlebih setelah dikasih lima aturan yang beberapa poinnya dirasa nggak masuk akal.

Nah, di sinilah gue bilang kenapa film ini punya premis yang bagus, namun kurang bila dilihat dari sisi logisnya. Manusia normal yang cerdas pasti akan langsung merasa janggal sejak awal mereka mengikuti kelas ini, sejak melihat bangunannya, sejak menerima beberapa aturan absurd tersebut. Tapi, apa yang terjadi? Para peserta seolah menganggap itu hal yang biasa dan nothing to fear about. Mereka cenderung bersikap so, what? Let's do this fucking Yoga class! dengan muka ceria ketimbang muka bingung penuh tanda tanya. Kalo aja dibuat semacam kondisi khusus yang menjadikan mereka yang telah mendaftar tak bisa mundur lagi dari pilihannya, mungkin bakal jadi lebih logis.

Nice camera-work!
Yes, seperti biasa. Yang menjadi kekuatan utama dari film-film Asia, khususnya Korea dan Jepang adalah sisi art yang mereka terapkan dalam melakukan penyorotan adegan. Angle yang diambil pas, dengan dark tone yang kental namun nggak bikin mata kita menyipit karena nggak jelas. Tapi, menurut gue ada sedikit kekurangan pada bagian sound, sehingga efek mencekam yang mengandalkan suara-suara kurang maksimal dirasakan. Nggak kok nggak, ini bukan gegara sound TV gue yang ngaco.

Standard plot development
Perkembangan plot cerita ini memang menarik, namun masih dalam lingkup yang biasa, belum bisa dikatakan keluar jalur dan anti-mainstream. Keseluruhan misteri yang tersimpan dapat dengan mudah ditebak. Satu persatu peserta akan mengalami tekanan batin dan berkonflik dengan pikirannya sendiri yang menentang aturan-aturan dalam kelas. Seolah ada energi negatif yang perlahan-lahan menyerap jiwa mereka hingga bertindak di luar kewajaran. Mereka pun akhirnya melanggar aturan-aturan sakral di sana. Agak dipaksakan sih menurut gue. Seolah, karakternya sudah dipersiapkan untuk mati karena mengalami konflik sesuai dengan kekurangan-kekurangan yang dimiliki sehingga akhirnya terbaca siapa akan menghadapi masalah apa di sana, hingga menuju ending. Suatu kesimpulan yang sangat terduga di awal mula cerita.

Tekanan demi tekanan dalam film memang terasa, tapi nggak seserem itu kok. Kebanyakan hanya saat pertengahan cerita. Sama seperti film-film horor pada umumnya, yang mana justru saat konflik terakhir kesan horor semakin memudar, dan tayangan mencekam berubah jadi sekedar seru aja buat ditonton. Tapi, tenang aja. Karena, film ini bener-bener mampu menghibur penontonnya. Dengan mengangkat tema Yoga, film ini berhasil menyajikan cerita yang nggak bikin ngantuk. Selain itu, penonton juga dimanjakan dengan gerakan-gerakan Yoga yang indah dengan sorotan yang berseni.

Tenang aja, nggak ada adegan yang melibatkan nudity secara frontal di sini, so, aman-aman aja ditonton sama keluarga. Tapi tetep waspada sama adegan berdarah-darah di dalamnya. Bagi yang nggak suka film horor atau lemah jantung, menurut gue nggak masalah kok menonton film ini karena nyaris ngga ada efek jumpscare di sini, semua adegan disajikan dengan cara yang halus. Bukan tipe film horor super ngagetin macem "Annabelle (2014)".

Akhir kata, film ini sukses membawa pesan moral bagi kehidupan kita, yaitu jangan terlalu terlena dengan semangat mempercantik diri demi kepentingan duniawi, tapi cobalah untuk berlaku kebaikan agar kecantikan fisik terpancar dari dalam jiwa yang sehat secara alami. Satu lagi, jangan ambil resiko melakukan sesuatu di lingkungan yang udah jelas-jelas mencurigakan! Ini penting! :))

Score: 7,4/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

2 komentar:

  1. Endingnya itu gmna sih??

    aku kurang ngerti,bsa dijelasin gk?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya Yoga "kecantikan" ini sumbernya berasal dari "orang cantik" lainnya. Selebihnya, gue agak lupa sih. Kudu nonton ulang kayaknya.

      Hapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team