[West-Movie Review] As Above So Below (2014)

"As Above, So Below (2014)" movie review by Kinudang Bagaskoro
Film ini sempat saya singgung di-review film The Pyramid (2014), karena memang secara premis, kedua film ini memiliki inti cerita yang sama, tentang beberapa orang yang terjebak dalam suatu ruangan/tempat mengerikan dan harus menemukan jalan keluar.

Film diawali dengan penyusupan ilegal seorang turis wanita ke Negara Iran untuk pergi ke sebuah terowongan, terowongan ini rencananya akan diledakkan saat matahari terbenam entah karena apa. Di dalam dia dibantu oleh seorang penduduk lokal bernama Reza, dia mulai berlari dan mencari sesuatu yang ternyata ialah prasasti. Singkat cerita, turis tersebut berhasil keluar dengan selamat, adegan pun berganti. Lalu diketahuilah bahwa turis tersebut bernama Scarlett, dia dan kameramennya yang bernama Benji, memutuskan untuk bertemu dengan George di sebuah gereja. Mereka bertiga pun sepakat untuk mencari Batu Flamel, perjalanan mereka untuk mencarinya membawa mereka menuju Geng Papillon yang memandu mereka untuk menelusuri Catacomb lewat jalan pintas yang memaksa mereka masuk jauh lebih dalam.

MANY GHOSTS
Lupakan tentang jebakan, lupakan tentang lorong yang sempit, lupakan tentang cerita-cerita rakyat Mesir. LUPAKAN ITU SEMUA! Maaf pembaca, tapi memang harus diakui, dari awal cerita sudah banyak ‘manusia-manusia aneh’ yang berkeliaran. Mulai saat tim Scarlett masuk secara ‘resmi’ dalam catacomb, ada seorang cowok ABG yang menyarankan mereka untuk bertemu dengan Papillon di sebuah diskotik. Kemudian saat tim Scarlett mengantre di pintu masuk, terdapat seorang cewek ABG dengan lingkaran hitam yang mengelilingi mata dan kulit pucat. Saat tim Scarlett dan geng Papillon masuk ke dalam catacomb sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Tentu saja hal ini sangat menyegarkan untuk dipandang mata ketika sepanjang tahun 2014 hanya disuguhi boneka hidup dan tetek bengeknya, bisa dibilang, film ini sangat anti-mainstream untuk para hantunya. Nice! But, it’s not enough for terrifying me.

BLOOD?
Oh, well, mari sejenak kita istirahat dengan darah-darah yang membuncah. Sudah saya katakan di poin 1, bahwa film ini memang anti-mainstream. Kalau anda mengharapkan adanya banjir darah, maka anda akan kecewa karena kadar darahnya di bawah 50%. Apa? Pembunuhan? Sama sekali tidak ada.



STORY
Kalau anda pecinta sejarah, teori kabbalahisme, The Sacred Sextum dan bumbu-bumbu sejarah lainnya yang terkait dengan kabbalah dan simbolisme seperti film-film yang berasal dari novel-nya Dan Brown. Maka, cerita di film ini sebenarnya fine-fine saja untuk kamu ikuti. Tapi, kalau kamu gak tertarik dengan teori-teori diatas karena pusing mikirin skripsi, berarti film ini sangat tidak disarankan buat kamu.

Dan perlu diingatkan lagi, kalau kamu bukan pecinta found-footageyang kameranya terlalu bergoyang, maka jangan tonton film ini! Meski menurut saya, goyangannya pas karena tidak membuat pusing kepala saya.

AMANAT
Iya, saya tahu bahwa ini bukan bab ‘menganalisis unsur intrinsik cerita’ tapi toh, di film yang sangat anti-mainstream ini terselip suatu amanat yang bisa dipetik bagi kehidupan kita. Seperti apa amanatnya? Silakan ditonton sendiri.

Memorable Scene
Hmm, tidak ada adegan menarik yang patut diingat dalam film ini, ini karena saya agak kecewa dengan film ini.

Memorable Quote
"Just keep moving"
~Scarlett Marlowe

Rating: 6/10

Share on Google Plus

Review by Kinudang Bagaskoro

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team