[West-Movie Review] Night at The Museum 3: Secret of The Tomb (2014)

"Night at The Museum 3: Secret of The Tomb (2014)" movie review by Glen Tripollo
Jujur aja gue belum pernah nonton dengan benar film "Night at The Museum 1 & 2", dan gue rasa nggak bakal mempengaruhi feel gue ketika nonton seri terakhirnya ini. Yang penting udah tau aja inti cerita sebelumnya mengenai apa, dan kebetulan semua berfokus pada tablet emas yang secara ajaib mampu menghidupkan semua figur-figur di dalam museum setiap kali matahari terbenam.

"Night at The Museum 3: Secret of The Tomb" masih menceritakan petualangan seorang sekuriti shift malam di sebuah museum, Larry namanya, yang secara ajaib menjadi saksi mata hidupnya makhluk-makhluk di dalam museum. Sebagaimana seri sebelumnya, Larry udah bersahabat baik dengan mereka dan bekerja sama menciptakan pertunjukkan museum yang menakjubkan untuk mengundang banyak pengunjung. Suatu ketika Ahkmenrah (salah satu makhluk museum) ngelapor ke Larry kalo tablet emas mengalami korosi. Selang beberapa waktu kemudian, ternyata korosi itu merupakan masalah serius. Tingkah laku makhluk museum jadi aneh dan nggak terkendali. Berhubung tablet emas itu asalnya dari Mesir Kuno, Larry pun menelusuri jejaknya hingga membawa kawan-kawan museum kita ini London. Museum di sana lebih luas dan lebih lengkap. Tablet yang dibawa ke sana pun akhirnya menghidupkan makhluk-makhluk di dalamnya. Sebagaimana first time yang sempat juga dialami makhluk museum teman-teman Larry, petualangan mereka menjadi tidak mudah karena beberapa makhluk baru masih banyak yang enggak terkendali.

Masih menggunakan plot yang simpel, namun dikemas dengan sangat baik. Komedi yang ditawarkan juga segar dan bikin gue susah buat berenti ketawa. Padahal muka aktor Ben Stiler itu datar, nyaris tanpa ekspresi, tapi entahlah, komedi terasa amat mengalir. Selebihnya, ada banyak kejutan di dalam film ini, karena beberapa di antaranya sama sekali nggak disorot di trailer, jadi membelalak sendiri saking takjubnya sama kejutan yang ditampilkan.

Ada beberapa karakter baru di sini yang sepertinya perlu dikasih tau, karena masing-masing mereka membawa peranan penting dalam terciptanya efek komedi dalam film ini.






Laa the Caveman (Ben Stiler)
Yes, kocaknya Laa bukan main-main. Pertama, pemerannya Ben Stiler sendiri, berasa ngeliat kepribadian lain dari Ben Stiler di sini. Larry yang bermuka datar, sedangkan Laa lebih bergaya lebay. Justru lewat karakter Laa ini Ben menunjukkan kemampuan aktingnya. Gue ngakak ngga berenti tiap adegan di mana Larry and Laa berada dalam satu frame. Yang terkacau adalah karena Laa merasa Larry mirip sama dia, dia langsung nganggep Larry sebagai Daa Daa... alias bokapnye. :))

Hal terkocak yang terjadi di antara keduanya menurut gue ada pada adegan ketika Larry dan Laa dikunci di dalem ruangan. Di mana Larry mendadak curhat sama Laa, yang kemudian ditanggapi Laa dengan bahasa tubuh yang diartikan Larry sebagai "open your mind" gegara Laa sibuk megang-megang kepalanya. Nyatanya, maksud Laa adalah menyeruduk kaca di pintu pakai kepalanya supaya bisa keluar dari sana. Oke, oke never tell the comedy, so, mendingan kalian liat sendiri adegannya biar ngakak.

Tilly the Night Watcher (Rebel Wilson)
Dia ini night watcher, sama kayak Larry. Bedanya doi kerja di museum di Inggris. Figurnya sebagai seorang cewek berbadan gempal yang merasa dirinya forever alone jadi agak-agak lebay and stres gitu. Karakter yang bisa dianggap sebagai semi antagonis, karena lumayan memperlambat Larry menyelesaikan misinya. Tapi, ada twist yang kocak pada karakternya, yaitu ketika benih-benih cinta muncul lewat adegan tatap-tatapan--yang sama sekali nggak terkesan sedang tatap-tatapan--sama Laa.

Merenkahre the Father of Ahkmenrah (Sir Ben Kingsley)
Aktor kawakan yang terakhir kali bermain film "Exodus: Gods and Kings (2014)" ini juga punya peran yang agak serius. Berkat dialah, Larry jadi tahu apa yang harus dia lakukan terhadap tablet emas yang mulai melemah itu. Phrase paling kocak yang dia katakan di hadapan Larry adalah "kiss my staff", yang mana artinya cukup ambigu karena ditambahkan dengan tanggapan Larry yang koplak.

Sir Lancelot the Holy Knight (Dan Stevens)
"Night at The Museum 3: Secret of The Tomb" bakal kehilangan gregetnya kalo nggak ada karakter yang satu ini. Tampil pertama kali bak seorang ksatria cool, yang makin ke belakang makin terkesan ngaco, ngambekan and agak cengeng. Gue rasa tahun lalu adalah tahun terbaik bagi Dan Stevens yang lagi naik daun. Aktingnya di film "The Guest (2014)" sangat mengagumkan sebagai seorang misterius dengan tatapan mata yang badass. Di sini? Dia sukses memerankan Sir Lancelot yang agak-agak kaku and bolot. Kejutan lainnya adalah aktingnya yang bener-bener ngalir melawan penampakan khusus dari Hugh Jackmann di atas panggung opera. Twist yang terjadi pada karakter ini memang menarik.

Ada dua konflik mayor di dalam cerita ini. Yaitu, konflik mengenai tablet emas, dan konflik keluarga, yang mana Larry masih belum merasa siap dengan perkembangan anaknya yang lebih memilih mengejar cita-citanya menjadi seorang DJ ketimbang kuliah setelah lulus SMA. Well, father and son conflict emang udah biasa diangkat ke dalam sebuah kisah fiksi, namun kemasan yang asik akan membuatnya selalu menarik. Secara keseluruhan kisah, gue cukup menikmati, hanya saja kurang dibarengin sama penyelesaian konflik yang nendang. Mungkin karena film ini memang dimaksudkan sebagai film keluarga, jadi konflik dan penyelesaiannya pun mild alias agak mudah walau sebelumnya terkesan sulit and penuh dengan rintangan.

Untuk special effect sendiri, entah kenapa gue merasa agak lebih jelek dibanding seri pendahulunya. Adegan Jedediah and Octavius jadi lebih kelihatan editannya, nggak sehalus dulu. Pemangkasan ongkos produksi, eh? Tapi, adegan di miniatur POMPEII itu beneran bikin tegang. Intinya mah, film ini enjoyable! Do I have told you about Hugh Jackmann special performance? He was doing that Wolverine thing! :))

Most favorite scene:
Too much! Tapi kalo disuruh ambil satu adegan terbaik, adalah saat Larry dan Laa berada di dalam ruangan terkunci.

Rating: 8/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team