Review Film OUTCAST (2014)

"Outcast (2014)" movie review by Glen Tripollo
Lama-lama gue cukup heran sama apa yang sedang terjadi sama Nicholas Cage. Udah beberapa filmnya yang gue tonton rada gimana gitu. Setelah kemarin gue review "Left Behind (2014)", dan menyatakan betapa kecewanya gue sama film yang satu itu, kemudian muncul "Outcast (2015)" yang dari trailer-nya udah terlihat amat sangat menjanjikan. Perang kolosal dan setting China jaman dahulu kala. Gue udah lumayan berharap banyak sama film yang satu ini.

"Outcast (2015)" menceritakan tentang dua orang Crusader yang mempunyai hubungan guru dan murid, berperang bersama di Timur Tengah. Sampai suatu ketika si murid ini bak orang kesetanan ngebantai mereka yang sebetulnya nggak perlu dibantai, dan si guru stress ngeliat perubahan sikap muridnya ini. Si guru seperti memilih untuk mengasingkan diri ke negeri China, dan beberapa tahun setelahnya si murid juga melakukan perjalanan seorang diri ke China, mencari sang guru untuk meminta maaf atas perbuatannya di masa lalu. Bersamaan dengan itu juga, ternyata sedang terjadi golakan panas di dalam badan kekaisaran China. Kaisar lagi sakit, dengan alasan yang baik, dia memilih untuk mewarisi tahta ke anaknya yang masih bocah. Si bocah ini kemudian lari bersama kakak ceweknya. Sementara si kakak tertua yang gak terima tahta diturunkan pada sang adik ngebunuh bapaknya sendiri dan memfitnah adik kecilnya itu. Hingga akhirnya si adik dan kakak ceweknya itu jadi buronan tentara kekaisaran, mereka lari sampe ke sebuah rumah makan. Di sanalah mereka pertama kali berjumpa sama si mantan Crusader (murid) itu. Singkat kata, akhirnya mereka jadi melakukan perjalan bersama, berusaha melindungi nyawa si bocah pewaris tahta.

Sebenernya secara pembangunan setting, kostum, dan lain-lainnya terlihat banget niatnya. Gambarnya bagus, desain bagus, lokasi oke. Gue tau film ini nggak dibikin asal jadi. Tapi,.ada hal-hal yang membuat film ini jadi turun kualitas. Misalnya:

Plot lompat yang nggak jelas
Tiba-tiba mantan Crusader ini ada di China setelah sebelumnya digambarkan berperang di Timur Tengah. Walau memang time skip, tetep aja korelasi antara keduanya masih kurang nampak. Karena ngga ada penjelasan yang bener-bener penjelasan mengenai keberadaan mereka di sana, selain kata-kata Nicholas Cage di awal cerita, "Sebaiknya kita pergi, ke timur." Gue cuma bisa bergumam dalam hati, "oooh, gitu? okeee...."

Karakterisasi yang terlalu lebay
Gue tahu kalo tokoh utama di film ini punya masa lalu hitam yang bisa dijadikan penyesalan seumur idupnya. Tapi, entah kenapa setiap sikapnya mengonsumsi opium, cara berpikirnya, dans ebagainya malah berdampak lebay bin sinetroniyah. Entahlah, mungkin cuma perasaan gue, tapi masa sih gue merasa sampe segitunya. Artinya kan beneran lebaynya. Terus kondisi Nicholas Cage di China juga lebay banget, sampe jadi bos perampok dengan kondisi mental yang agak terganggu.


Adegan aksi yang unbelievable
Semua karena kurangnya penjelasan. Gue di awal ngeliat cara berantem si Crusader ini nggak kepikiran ternyata bakal jadi jago banget sampe bisa ngalahin semua prajurit kekaisaran, pas lagi mabok opium pula. Ngelempar tombak masih bisa tepat sasaran. Panah musuh yang jaraknya jauh banget, dan sebagainya. Kalo memang si tokoh utama udah digambarin jago banget di awal, mungkin selanjutnya jadi believable. Tapi, ini nggak. Berasa kayak superhero berkekuatan super di dunia yang biasa aja. By the way, dari setting-nya soalnya gue masukin ini ke Historical Fiction yang isi ceritanya terlalu mengkhayal. Makanya gue bilang agak keluar jalur dengan setting begitu menampilkan tokoh yang kayaknya Gary Stu banget. Kekurangan lainnya ada pada kamera yang cenderung shaky pas berantem.

Plot mudah banget buat ditebak
Sangat gampang ditebak mau ke mana arah tujuannya di akhir. Tapi tetep, dengan menyisakan banyak pertanyaan karena akhirnya, udah gitu doang? Sayang banget, padahal hal-hal lainnya udah sangat mendukung. What happen with Hollywood? Script payah, plot belum tergali mantap, dan what the hell dengan cara komunikasi karakter-nya yang begitu lancar? Crusader ngobrol sama orang China dan Timur Tengah dengan sangat lancar, bahkan orang China-nya sampai punya logat US dalam berbicara. Paling enggak sisipkan dong beberapa bahasa China biar lebih hidup lagi setting-nya.

Tapi, walaupun sekian banyak kekurangan, bukan berarti film ini sama sekali ga bisa dinikmatin. Bisa kok. Buktinya gue tetep melek nonton ini malem-malem sampe beres pula. Intinya, bagus untuk membuang waktu luang kalian. Kalo untuk ditonton di bioskop? Please don't, mending uangnya dipakai buat nonton film lain aja.

Score: 6,8/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team