Review Film TAKEN 3 (2015)

TAKEN 3 (2015) movie review by Glen Tripollo
Ini film Liam Neeson kedua yang mejeng di weblog MovGeeks setelah beberapa bulan lalu gue bahas Non-Stop. Sebagai seri ke-3 dari dua film pendahulunya, gue sempet mengira kalo film ini bakal punya kaitan erat dengan film-film tersebut. Gue sempet mikir keras siapa lagi target penculikan di dalam keluarga Bryan Mills, berhubung udah pernah diculikin. Masa iya tetangganya? Eh, ternyata, "taken" di sini bukan lagi sekedar diculik hidup-hidup, melainkan diambil nyawanya untuk selama-lamanya.

TAKEN 3 (2015) menceritakan tentang Bryan Mills seorang mantan intel dengan kemampuan luar biasa. Setelah sebelumnya pernah berseteru dengan gangster Albania yang menculik anak dan juga mantan istrinya, kali ini dia harus berurusan dengan Russian Gangster yang udah ngebunuh mantan istrinya itu, tepat di saat mereka sedang merencanakan untuk kembali menjadi satu keluarga. Kematian sang mantan ini ternyata di-setting sedemikian rupa, mayatnya ditaro di kasurnya Bryan Mills dan senjata pembunuhnya ditinggalin tergeletak di sana. Dalam sekejap waktu, pas Bryan nemuin tuh mayat, eh polisi pada dateng. Berasa dijebak dan mikirin keselamatan anak semata wayangnya, Kim, Bryan terpaksa deh tuh kabur. Resikonya gede, karena dia jadi buronan dengan status "sangat berbahaya". Perlahan tapi pasti, berkat kemampuannya yang luar biasa (walaupun udah tua), Bryan tetep fokus juga mengejar pelaku yang sebenernya.

Seru? Seru. Karena menurut gue, "Taken 3" ini udah berhasil mengembangkan makna dari kata "taken" itu sendiri. Nggak mesti selalu soal penculikan, tapi juga soal pembunuhan. Sayangnya, premis penjebakan dan usaha untuk mengungkap pelaku sesungguhnya dengan cara main kucing-kucingan dengan pihak kepolisian udah bukan hal yang baru dalam film action. Sehingga kesan fresh-nya pun nggak begitu terasa. Tapi, sekali lagi apakah film ini seru? SERU!

Liam Neeson terkenal dengan gaya berantem tangan kosong dengan gerakan cepat dan telak, namun karena dia sudah makin berumur, kecepatan itu sudah berkurang. Terlihat jelas dengan makin berkurangnya adegan-adegan suspense akibat serangan cepatnya, sekarang semuanya lebih terlihat jelas. Untungnya sang kameramen masih bisa mengakali kelemahannya ini dengan memberi efek gerakan kamera khusus ketika adegan berantem. Usaha yang bagus (walau jadi agak shaky) seenggaknya adegan cepat itu tidak jadi gagal total. Nah, logisnya di sini, karena Bryan Mills udah makin tua, otomatis kekuatan tarungnya udah nggak kayak dulu. Beberapa kali dia harus kena pukulan dan cukup kewalahan ngehadepin lawan yang masih muda-muda. Walau akhirnya menang, struggle-nya itu bikin karakter Bryan Mills ini lebih manusiawi.



Yang gue suka di sini adalah kejar-kejaran Bryan dengan kepolisian. Yang mana Bryan selalu selangkah lebih maju dari pihak polisi, tapi bukan berarti polisinya jadi terkesan bodoh. Forest Whitaker sebagai kepala polisi dalam pengejaran ini juga digambarkan cerdas. Gue suka banget sama cara berpikirnya yang nggak mudah tertipu sama Bryan, sayangnya anak buah di lapangan seringkali meremehkan perintah dia, jadinya gagal lagi gagal lagi. But, that's fun! Terlebih dengan ciri khas memainkan karet gelang dan ketagihan makan roti baggle.

Bagian kocak dari film ini ada pada drama ayah dan anak perempuan sematawayangnya. Ketika diketahui kalau Kim hamil, Kim berusaha meminta opini dari ayahnya namun nggak berani menyatakan kehamilannya secara langsung, dan akhirnya dia mengganti objek kehamilannya sebagai anak anjing yang hendak dia adopsi. Tanggapan Bryan pun nancep banget. Walau dia berusaha ngomentarin pertanyaan Kim, tetep aja rasanya seperti dia sedang menanggapi langsung pertanyaan Kim seandainya dia bertanya soal kehadiran anak bayi.

Ada yang bilang, bulan Januari itu sebagai bulan paling payah bagi Hollywood karena merilis film-film yang kualitasnya gak begitu bagus, nyatanya Januari gue diwarnai dua film luar biasa. Yang pertama "Blackhat" lalu ini. Intinya film ini sangat menghibur dan durasinya pas. Nggak ada adegan neko-neko kok. Cuma agak risih aja sama final battle-nya pas si pemimpin Rusia itu terpaksa berantem sama Bryan dalam kondisi cuma pakai celana dalem. :))

Oh ya, menurut gue twist-nya cukup berhasil. Bener-bener dah musuh di dalem selimut. Tukang cari keuntungan. Rupanya dia menggunakan strategi yang mirip dengan film "Enemy of the State", mungkin terinspirasi. LOL. Sayangnya, nggak berjalan semulus yang dilakukan oleh Will Smith.

My favorite quote:
Franck Dotzler: If you go down this road, the LAPD, the FBI, the CIA... they're all gonna come for you. They'll find you. And they'll stop you.
Bryan Mills: Good luck.

Rating: 7,8/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

2 komentar:

  1. film-film kayak gini favorit suami saya, nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Definitely not my husband's favorite... (yaiyalah, gue cowok, mana punya husband) :)))

      Hapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team