Review Film DRAGON BLADE (2015)

"Dragon Blade (2015)" movie review by Glen Tripollo
Udah sejak pertama kali liat trailer-nya, gue langsung berkonspirasi supaya bisa nonton film ini di bioskop. Alhamdulillah, kesampaian juga. Bagaimana hasilnya? Bisa dibilang film ini udah berhasil melebihi ekspektasi awal gue yang udah tinggi. Gue nggak nyangka kalo film ini menyimpan segudang berlian. Kalo kalian udah liat review orang-orang di IMDB, sepertinya jomplang. Ada yang bilang truly awful, yang sampe gue melongo bisa-bisanya mereka bilang begitu. Tapi, di sisi lain banyak juga yang memberikan skor sempurna untuk film ini. Well, setiap manusia punya sudut pandang dan seleranya masing-masing, dan review gue juga merupakan pendapat subjektif yang mungkin bisa dijadikan pegangan awal sebelum kalian tentuin sendiri mau nonton atau nggak. Yuk, lanjut baca review film Dragon Blade (2015) ini.

"Dragon Blade" memakai setting jalur Jalan Sutera yang kalo kalian nggak pernah bolos kelas Sejarah, pasti tahu tempat apa ini. Nah, cerita berfokus pada Huo An (Jackie Chan) yang merupakan komandan dari sebuah kelompok yang menyebut diri mereka sebagai pasukan perlindungan jalur Jalan Sutera. Mimpi mereka cuma satu, sederhana, tapi dianggap absurd sama orang-orang jaman sekarang, yaitu menciptakan suatu daerah yang mana ke-36 bangsa (pada waktu itu) saling berkumpul dan hidup berdampingan dalam damai. Suatu ketika, Huo An dijebak oleh salah satu orang kepercayaannya, Yin Po (Si-won Choi) dan membuatnya dikirim ke Gerbang Angsa untuk membangun dinding-dinding benteng yang rusak. Nah, nggak lama, Gerbang Angsa ini didatengin sama sepasukan tentara Romawi yang dipimpin Lucius (John Cusack). Huo An pun bertarung melawan Lucius dengan hasil akhir seri. Ditambah kenyataan bahwa tentara Romawi sudah kehabisan tenaga dan kelaparan, juga karena mereka membawa seorang anak kecil yang buta (calon penerus kekaisaran Roma). Singkat kata, Huo An dan Lucius jadi bersahabat. Persahabatan ini juga didukung sama orang-orang lainnya yang ada di Gerbang Angsa. Hingga akhirnya, Lucius bersikap terbuka dengan menceritakan alasan dirinya dan pasukannya berada di sana. Rupanya, Lucius sempat berperang melawan Tiberius (Adrien Brody) yang brutal dan haus kekuasaan. Well, seperti yang diduga, selanjutnya Huo An dan pasukannya bahu-membahu membantu Lucius mengalahkan Tiberius.

Ada beberapa hal yang mesti digarisbawahi dalam film ini. Beberapa di antaranya bakal gue jelasin poin per poin berikut dengan penilaian gue soal epic movie ini.


This movie is based on true event (baca: para kru membuat film ini karena terinspirasi kejadian yang sebenarnya)
Tapi, bukan berarti kalo ada label begini kita bisa nge-judge film sama persis dengan kejadian aslinya. Ingat, kejadian bersejarah ini terjadi ribuan tahun lalu, dan siapa sih yang tau setiap detail kisah yang terjadi pada masa itu? Bahkan nama Huo An sendiri merupakan nama pengganti dari tokoh sejarah sesungguhnya. Ada beberapa review yang gue baca soal film ini, mereka rata-rata kecewa karena film ini sangat kacau dari segi sejarah, sorry to say, but they are dumbass. That's why I called this movie historical fiction. Tempatnya nyata, kejadiannya pernah ada, namun bumbu-bumbunya tentu saja diubah biar lebih seru dan watchable. So, jangan menilai sebuah film hanya dari labelnya begini. Ini cuma sebagai penegasan kalo mereka (kru film) nggak memplagiasi suatu karya tertentu, melainkan terinspirasi dari kejadian yang pernah ada. Jadi, gue rasa agak kurang etis ya menilai rendah suatu film hanya karena ada yang miss dari sejarah aslinya.

Ikuti ceritanya dengan pikiran yang santai. Don't think too much or you will miss the fun of this epic movie
Nggak ada kata lain selain "fun" yang gue rasain sepanjang nonton film ini. Di sini perasaan penonton bisa teraduk-aduk. Awalnya merasakan keseruan, lalu atmosfer komedinya ditonjolkan, selanjutnya sedih-sedihan, sampai-sampai bisa merasuk ke dalam hati penontonnya. Intinya, film ini unexpectedly heart-warming. Gue nggak menyangka kalo film ini punya sisi yang dalam, terutama adegan ketika orang China menyanyikan lagu semangat mereka, yang kemudian dibalas oleh orang Roma dengan lagu kebangsaan mereka. Sekejap perasaan seolah teraduk-aduk. Kita bisa ikut merasakan keindahan suatu perdamaian di era yang dipenuhi dengan peperangan perebutan wilayah kekuasaan tersebut. Durasi yang dipakai untuk menggambarkan persahabatan China dengan tentara Romawi itu juga sesuai. Penggalian karakternya bagus, bikin kita jadi bersimpati dengan keadaan mereka (Huo An dan Lucius) ketika diserang sama Tiberius.


This movie contains plothole(s). But, it's okay, you can still enjoy it by the way
Memang ada beberapa bagian cerita yang rasanya agak aneh karena kurang dijabarkan dengan gamblang. Ada yang janggal dengan alasan plot twist di jelang ending cerita yang mana timeline-nya terasa nggak sesuai pas flashback. Tapi, Guys! Seriously, kalo kalian nonton ini dengan menikmati setiap adegannya dan aliran ceritanya, super ngalir dan nggak bikin bosen. Jadi, plothole di sini merupakan plothole yang dimaklumi. Sebagian plothole sisanya lebih tampak seperti sengaja disamarkan, karena nggak penting juga kalo dibuat terlalu detail. Yang ada cuma nambah-nambahin durasi dan bikin pace yang udah pas malah jadi lambat nantinya.

Awesome cinematography, fighting scene, and awesome CG effects
Biasanya, film produksi China/Hong Kong masih memiliki kekurangan dalam hal pemanfaatan CGI, tapi nggak bagi "Dragion Blade". Seenggaknya CG di sini jauh lebih baik ketimbang film-film lainnya macam "The Sorcerer and The White Snake" atau "Flying Dagger" dan sebagainya. Seperti dugaan dari Daniel Lee sang sutradara yang pernah menelurkan "14 Blades", efek-efek digunakan sebaiknya dan seperlunya. Bagi sebagian orang yang suka membandingkan teknologi dengan film Hollywood, tentu banyak yang berteriak kecewa, tapi nggak bagi gue. Gue ngeliat ini merupakan peningkatan yang signifikan dalam industri film China/Hong Kong. CG-nya halus, terutama saat adegan pembangunan dinding Gerbang Angsa yang rusak dan alat-alat beratnya.

Untuk fighting scene-nya sendiri, ternyata bung Jackie Chan yang jadi fighting director-nya. Dan sesuai dugaan, gerakannya awesome. Memang kita gak bakal disuguhin gaya bertarung khas Jackie yang akrobat sana-sini memanfaatkan ruang dan setting, karena sebagian besar pertarungan dilakukan di alam terbuka yang cuma ada hamparan pasir. So, kalo kalian nonton ini karena mengharapkan style tersebut, siap-siap kecewa. Gue pribadi suka banget, soalnya kalo dibikin gaya yang biasa, takutnya malah jadi out-of-character si Huo An-nya. Untuk kamera ada beberapa bagian yang agak shaky, tapi pas final battle, jelas kok. Enak dan seru dinikmati.

Great costume designs!!!
Sumpah, satu hal lagi yang bikin gue tercengang, selain muka Jackie Chan yang dibikin tampak sedikit lebih muda adalah desain kostum. Kostumnya memang bikin jadi kurang lincah bergerak, tapi modelnya itu loh. Entahlah, bagi gue sih keren. Desain kostum tentara Romanya pun bagus, terutama armor yang dipakai sama Tiberius.

Sedikit tambahan, menurut IMDB, film ini berada pada kategori PG-13, alias 13 tahun ke atas. Ada mild nudity yang cuma keliatan punggung sama bokong, tepat di lima menit awal cerita. Dan adegan pertarungan pembuka cerita antara Huo An melawan cewek dari bangsa (entahlah bangsa apa) yang diperankan sama Peng Lin. Something gone wrong, dan accidentaly Huo An menyentuh abis dada Peng Lin. Sesuatu yang bikin mata gue berkaca-kaca. #janganTanyaKenapa

By the way, buat penggemar Vaness Wu, dia tampil sebentar di awal cerita dan ending cerita. Mungkin kejutan yang disiapin sama Daniel Lee bagi fans-nya. Film yang menurut gue sangat layak dan wajib tonton. Ceritanya bagus dan punya banyak pesan moral. Belum lagi quote-quote yang sifatnya inspiratif dan memotivasi tapi nggak menggurui. All in one! Great Chinese movie!

NB: Banyak orang yang protes orang Romawinya kok ngomong bahasa Inggris? Ini bentuk protes yang sebenernya nggak terlalu penting sih. Tapi bagaimana Huo An bisa lancar mengerti bahasa kaum Romawi? Nah, ini termasuk salah satu plothole. Sepertinya memang lebih baik kalo Huo An dan Lucius berkomunikasi dengan lebih gagap lagi alias campuran bahasa masing-masing dengan bahasa isyarat yang perlahan-lahan akhirnya bisa dimengerti satu sama lainnya. But, like I said before, detail semacam ini sebenernya nggak terlalu diperlukan. Just enjoy the flow of the story.

Score: 9,6/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

2 komentar:

  1. Minta info judul lagu yg di nyanyikan pasukan romawi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Judulnya Song of Peace:
      http://www.youtube.com/watch?v=8FeICY26To8

      Hapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team