Review Film FURY (2014)

"Fury (2014)" movie review by Glen Tripollo
Sebetulnya ada beberapa keunggulan film bertemakan perang ketimbang film bergenre lainnya. Yaitu, kombinasi unsur aksi tembak-tembakan, ditambah konflik batin para tentaranya dan pastinya unsur drama yang seringkali menyentuh hati penonton. Soal perjuangan, pengorbanan, and many more. Gue teringat film perang favorit gue sejak jaman Tom Hanks di "Saving Private Ryan (1998)" sampe Bruce Willis di "Tears of The Sun (2014)" yang unsur dramatisnya kental. Nah ternyata, demikian pula dengan "Fury". Yuk, lanjutin bacanya, karena gue bakal mulai review film "Fury (2014)" ini.

"Fury" bersetting Perang Dunia II (1945), berlokasi di Jerman, ketika tentara Amerika harus berperang melawan pasukan Nazi, Jerman. Kemudian, konflik dikerucutkan lagi hingga fokus kepada lima orang tentara yang merupakan satu tim dalam mengoperasikan tank. Dengan tim yang terdiri atas orang-orang berkepribadian unik, mereka menjalani misi untuk pergi ke suatu daerah yang telah ditunjuk atasan mereka untuk kemudian nge-take over tempat itu dan ngebikin Nazi terpojok hingga mengaku kalah. Kendalanya, ternyata Nazi memeliki persenjataan yang jauh lebih baik daripada Amerika. Tank yang dipakai Nazi saja bisa 5x lebih kuat dari pada tank yang digunakan oleh tim utama di film ini. Nah, selidik punya selidik, ternyata FURY adalah nama tank yang sudah mereka gunakan selama bertahun-tahun hingga dianggap rumah sama mereka. Nah, apakah mereka berhasil hingga ke tujuan akhir? Tonton sendiri kalo mau tau lebih lengkap ceritanya.

Dari trailer aja gue langsung tergoda buat nonton ini. Cuma waktu itu mau ngejar nonton di bioskop ternyata telat. Kekuatan pertama film ini terletak pada barisan aktornya. Ada Brad Pitt, Logan Lerman, Shia LaBeouf, Jon Bernthal, dan Michael Pena. Masing-masing mereka memerankan karakter yang unik dan mereka hayati dengan sangat baik. Nah, berikut ini karakter-karakternya.

Brad Pitt as Don Collier (alias Wardaddy)
Awalnya cuma memimpin tim di tank-nya sendiri, tapi ketika misi pertama mereka menewaskan tank yang dikomandoi sama kapten mereka, akhirnya dia menggantikan peran tersebut. Sifatnya dingin, keras, tapi sebenernya perhatian dan peduli sama pemula di timnya. Selalu optimis, berani, dan cerdas. Kebetulan karena sifatnya ini, dia disegani banget sama anggota timnya. Menurut gue, Brad Pitt berhasil banget menghidupkan karakter ini lewat penampilannya yang selalu cool. But hey, gue rasa dia termasuk jajaran aktor Hollywood yang makin tua mukanya makin keliatan jelek. #NggakAdaHubungannya.

Logan Lerman as Norman Ellison (alias Machine)
Sebelum dikirim untuk bergabung bersama tim Fury, Norman cuma bekerja di belakang layar. Ngetik cepat dan membuat arsip. Tentu saja di medan perang dia cuma seorang pemuda baik-baik yang nggak kuat mental menghadapi tekanan dalam perang. Nah,. dalam film ini drama paling terasa ada pada hubungan senior-junior antara Don Collier dan Norman ini. Ketika Norman akhirnya berani bertindak di luar batasan dirinya dan membuat yang lain bangga, dia langsung dikasih nama perang "Machine". Oh ya, di dalam tank Fury, dia berperan sebagai co-driver. Akting Logan Lerman dalam memerankan tokoh culun ini sangat berhasil. Beyond expectation, really.

Shia LaBeouf as Boyd Swan (alias Bible)
Dijuluki "Bible" karena dia adalah seorang Kristen yang taat. Sifatnya udah kayak pendeta di medan perang. Sering ceramahin temen-temennya dan selalu menghabiskan waktu luang dengan membaca Al Kitab. Kalian bakal liat Shia LaBeouf dalam mode yang beda dari yang kita kenal di "Transformers". Di sini perannya lebih sabar dan kalem. Di saat Norman Ellison merasa shock dengan perlakuan keras dari Don Collier, Boyd selalu berusaha menenangkan. Tokoh yang selalu jadi penengah jika ada pertikaian terjadi dalam kelompok. Di dalam tank Fury, dia berperan sebagai juru tembak. Bisa dibilang dia yang paling deket and ngerti sifat Don.

Jon Bernthal as Grady Travis (alias Coon-Ass)
Mungkin kalo kalian suka nonton film seri "The Walking Dead" atau film "Snitch (2013)" pasti tau siapa dia. Yep, perannya pun rata-rata nggak jauh beda dari seorang bajingan. Selalu memerankan tokoh menyebalkan yang abu-abu. Di film ini pun demikian. Tokoh yang sifatnya super nyebelin, terlebih waktu mabok. Tapi, sifat nyebelinnya ilang setelah penonton tahu maksud dia bersikap gitu di depan si pemula, Norman Ellison. Mungkin dia bukan seorang yang jago mendidik junior, tapi tingkahnya bener-bener radikal dan bikin tokohnya jadi disukai menjelang akhir film. Aktingnya pun seperti biasa, outstanding. Sebelas dua-belas lah sama Tom Hardy. Di dalam tank Fury, dia bertindak sebagai mekanik dan orang yang masang-masangin peluru ke dalam canon sebelum nantinya ditembakkan sama "Bible".

Michael Pena as Trini Garcia (alias Gordo)
Bertindak sebagai driver ditemani sama Norman. Dia orang meksiko yang suka dimarahin sama Don kalo ngomel-ngomel pakai bahasa Latin. Karakternya nggak terlalu membawa kesan sih, tapi keberadaannya memang yang paling penting. Tanpa dia, tank-nya gak bakalan jalan. LOL.

Kelima aktor ini telah berhasil membawa suasana Perang Dunia II ke tahap yang luar biasa. Ada beberapa kelebihan lain yang gue rasain di film ini. Misalnya aja dari segi isi cerita yang walau sederhana, tetep dikemas dengan sangat baik. Sumpah, walau gue sempet nebak ending dengan tepat, tapi bumbu-bumbunya sama sekali nggak ketebak.

David Ayer selaku sutradara film ini gua kasih dua jempol. Pertama, penggambaran perangnya realistis banget. Nggak lebay, nggak ada tokoh yang jagonya kayak superhero, nggak ada aksi brutal one man standing, atau peluru yang secara ajaib nggak abis-abis. Nope, bisa dibilang segalanya dalam film ini diperhitungkan dengan matang. Bagaimana keterbatasan persenjataan digambarkan dengan baik, lalu dikemas dengan adegan-adegan tegang saat pengepungan dan persenjataan terbatas. Adegan perangnya juga ngeri too the max, di mana Ayer menambahkan bumbu gore di sini ketika seorang tentara tertembak di kepala hingga pecah tanpa sensor, kaki putus kena canon anti-tank, belum lagi yang kelindes tank. Adegan manusia kebakar juga real abis. Oustanding lah untuk hal yang satu itu. Terus menurut gue mengganti adegan darah bermuncratan dengan lumpur yang tergenang di mana-mana itu brilian. Sepanjang film gue dibawa menghayati banget suasana perang yang mana itu bisa dibilang horor banget.


By the way, gue nggak punya pengetahuan soal keadaan perang, tapi gue agak kaget sih sama adegan perang di awal cerita (yang kemudian berlaku juga di adegan perang lainnya) yang mana peluru berdesingan itu digambarkan jelas berwarna-warni panjang bak sinar laser. Awalnya gue sempet jengah juga gegara senjatanya jadi berkesan futuristik. Tapi, ternyata hal itu ujung-ujungnya jadi bagus. Arah peluru jadi jelas dan efek miris ngeliat yang ketembak jadi lebih greget. Tambahan, strategi perang mereka keren waktu ngelawan sesama tank yang kekuatannya jauh lebih gede daripada tank yang mereka kendarai.

Yang perlu diperhatikan sebagai catatan adalah film ini memang sangat gue rekomendasikan bagi pecinta film-film perang. Pace-nya lambat, tapi menurut gue pas karena nggak ada efek ngantuk yang gue rasain pas nonton ini. Justru panjangnya durasi menjadikan film ini mendapatkan porsi yang tepat dalam membangun karakter dan konflik utamanya. Unsur dramatis terbangun dengan baik bahkan hingga ke ending, tapi nggak berlebihan.


Ngeliat banyak adegan sadisnya yang nggak disensor dan penggunaan bahasa yang cenderung kasar di sepanjang cerita, film ini masih dimasukkan ke dalam kategori deewasa. Jadi, please gak usah ajak anak-anak nonton ini. Film ini cocok banget buat dinikmatin di saat santai. Jangan dibawa stress, nanti malah histeris sendiri. Hehe.

My favorite quote:
Don Collier: "Ideals are peaceful. History is violent."

Rating: 8/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

1 komentar:

  1. Saya baru nonton film ini beberapa waktu lalu, sebelumnya pernah nonton juga, 10 menit pertama langsung dimatikan karna keliatan boring. Eh ternyata WA banget...!
    yang bikin saya gak lupa2 adalah pemeran wanita Emma, cakep banget ehehehe

    BalasHapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team