Review Film CHAPPIE (2015)

"CHAPPiE (2015)" movie review by Glen Tripollo
Yang menarik dari film ini bukanlah desain robotnya, setting dunianya, atau pun aktor-aktor yang terlibat di dalamnya, melainkan ide dasar, plot, dan bagaimana film ini berkembang. Hugh Jackman kembali dengan karakter yang beda dari film sebelumnya yang juga berkisahkan hubungan manusia dengan robot, "Real Steel (2011)". Penasaran? Yuk, baca terus review film CHAPPiE (2015) ini.

"CHAPPiE" menceritakan tentang robot polisi yang seharusnya sudah dijadwalkan untuk dihancurkan karena rusak dalam penyergapan gembong narkoba. Tapi, seorang engineer yang menciptakan kode program robot polisi tersebut, Deon Wilson (Dev Patel), mengambil robot itu untuk dijadikan objek percobaan kode AI terbarunya yang yang dapat membuat robot memiliki kemampuan berpikir dan perasaan seperti manusia. Namun, di tengah jalan Deon dihadang tiga orang berandalan putus asa, Ninja, Yolandi, dan Amerika, yang akhirnya memaksa Deon untuk meng-install AI terbarunya kepada robot rongsok tersebut dengan niat menggunakan kemampuan si robot untuk merampok.Lalu lahirlah Chappie, robot yang otaknya berkembang seperti manusia dari fase anak-anak hingga beranjak dewasa. Chappie membutuhkan pelajaran yang nantinya bisa membentuk kepribadiannya. Sayangnya, karena Chappie dididik sama berandal, akhirnya dia pun bertingkah layaknya berandalan. Keadaan makin lama makin kacau, ketika Chappie benar-benar dimanfaatkan untuk merampok dan mencoreng nama baik robot polisi sejenis lainnya. Keadaan itu dimanfaatkan oleh Vincent Moore (Hugh Jackman)--engineer pencipta robot model Moose sekaligus juga saingan Deon Wilson--untuk menarik hati direktur dan polisi (calon klien) untuk membeli robot ciptaannya yang masih menggunakan alat kendali jarak jauh menggunakan sistem saraf manusia yang mengemudikannya. Kisah yang dibalut dengan dramatis layaknya kehidupan dalam sebuah keluarga yang kacau, masalah kemanusiaan, persaingan, dan juga persahabatan. Semuanya lengkap ada di sini.

Gue sendiri sangat menikmati film ini dari awal hingga akhir. Cerita berkembang dengan baik tanpa perlu rushing. Perlahan tapi pasti, kita diperkenalkan dulu pada karakter-karakternya sebelum Chappie muncul di dalam cerita. Menurut gue ada beberapa hal yang menarik untuk dibahas dari film ini. Misalnya aja berikut ini:

Desain robot yang kurang unik
Yep, kenapa gue bilang kurang unik? Pertama, hampir setiap robot tokoh utama selalu digambarkan sederhana, terkesan rapuh, dengan raut wajah kasihan. Liat aja Atom di "Real Steel", begitu kasiannya dia seperti wajah jomblo-jomblo kesepian yang hobi di-bully dan berkali-kali ditolak gadis. Chappie pun begitu. Bahkan, sejak pertama robot polisi diperkenalkan, rasa iba langsung muncul ketika mereka harus berhadapan dengan penjahat bersenjata berat seperti bazooka. Dari sisi lainnya, ada Moose, robot besar ciptaan Vincent Moore yang bentuknya sebenernya sebelas dua belas sama saingan RoboCop, ED209.


Perbedaan Chappie dengan RoboCop adalah metode pembuatannya. Kalo RoboCop itu android, setengah manusia setengah robot. Sedangkan Chappie murni robot yang disuntikkan program AI setara kemampuan otak manusia. Begitu juga dengan Moose yang membutuhkan kendali oleh manusia secara jarak jauh, sedangkan ED209 bisa bergerak otomatis. Dan yang paling kelihatan, Moose bisa terbang, sedangkan ED209 tidak. What? Nggak setuju sama penilaian gue soal robot? Fine, seenggaknya gue merasa begitu saat pertama kali liat. Hehe, tenang aja poin ini cuma poin yang menarik untuk dibahas, sama sekali nggak mengurangi penilaian gue soal isi cerita film ini.

Drama keluarga yang dibalut elemen dewasa
Yang satu ini menjadi concern gue sepanjang nonton film ini. Ceritanya manis, plotnya sederhana dan asik, terkesan baik untuk dijadikan bahan belajar bagi anak-anak agar menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi dan gemar belajar. Tapi, di saat yang bersamaan, Chappie diliputi latar konflik yang berat. Bahasa kasar bertebaran, pertempuran sadis, hingga ke penampakan buah dada telanjang di TV yang numpang lewat di salah satu adegan. Gue juga heran kenapa mata gue langsung tertuju ke sana, padahal itu cuma adegan yang ngga panjang. Intinya walau sekejap, tapi begitu jelas terlihat. So, berhati-hatilah karena walaupun cerita ini seperti drama keluarga, tetap saja ini film untuk penonton dewasa.


Special effect yang bagus, walau di beberapa bagian terkesan tanggung
Nggak sebersih "Transformers" tapi masih bisa diterima dengan baik. Hanya saja beberapa adegan memang tergambarkan lebih payah, entah karena efek pencahayaan yang malah bikin adegan kemunculan robotnya agak blurry dan berkesan kurang menyatu dengan setting, dan sebagainya. Tapi, ini bukan hal yang mengganggu hingga ke ubun-ubun. Tapi, kalo diinget-inget emang sayang sih. Seandainya ada sedikit lagi waktu buat memoles efek dan mengurangi kamera yang bergerak-gerak saat kejadian seru. Gue rasa dari segi sinematografi, film ini bakal jadi sempurna.

Sekarang lupakan rant negatif gue di atas
Karena, percaya atau nggak, Chappie berhasil menyajikan sebuah kisah yang menyentuh. Bayangin aja ada keluarga yang bapak-ibunya terpaksa jadi perampok karena tuntutan kehidupan, bersamaan dengan itu mereka juga merawat seorang bayi pungut yang tak berdosa. Hanya saja ganti bayi tersebut dengan Chappie. Jadilah, kisah yang intinya mainstream tapi disajikan dengan berbeda. Memang sih efek menyentuhnya masih kalah sama "Real Steel", tapi bukan berarti film ini bisa dilupain begitu aja. Beberapa adegan masih terngiang-ngiang di kepala gue saking menyentuhnya (adegan buah dada tadi tentu aja gak termasuk!).

Film ini mengajarkan gue (sebagai penulis) untuk bisa menyajikan sebuah cerita yang walaupun tokoh utamanya berasal dari dunia hitam, tetap bisa berakhir dengan penuh haru biru layaknya seorang pahlawan menyelamatkan dunia.

Oh ya, have I said about plot twist? Plot twist di film ini lumayan asik, terutama karakter Hugh Jackman yang awalnya begitu abu-abu. Twistnya bagus, karena gue bosen liat Hugh Jackman bermain sebagai jagoan utama terus. Ini bisa juga dibilang kalo doi bisa berperan sebagai apapun. Keren pokoknya!

NB: Ada beberapa pesan moral yang bisa dipetik dari film ini, salah satunya adalah jangan bermain-main dengan sesuatu yang melebihi kodrat yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Membuat AI yang setara dengan kemampuan otak manusia hanya akan membawa malapetaka. Ingat TERMINATOR! Karena sesungguhnya secerdas apapun seorang ilmuwan, kalo bereksperimen tanpa mempertimbangkan sisi sosial, nurani, dan lingkungan adalah sama saja seorang yang bodoh.

What I love about this movie:
Sharlto Copley bener-bener hebat memainkan peran Chappie. terus ide membuat penampilan Chappie jadi bergaya hip hop dengan kalung bling-bling itu brilian. Kocak sumpah liatnya. Ditambah gaya bicara yang songong and gaya jalan khas gangster.

Score: 8,4/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

3 komentar:

  1. baru ngliat iklannya ni tadi di trans, kek robot2 gitu y

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya robot polisi yang rusak terus diinstall program AI baru yang bisa bikin robot jadi kayak manusia perkembangannya... :))

      Hapus
  2. hahahaha

    namanya juga anda kan lelaki. naluri tak bisa dibohongi. justru saya ketakutan kalau mata anda tak tertuju ke scene itu. hahaha. ._.v

    BalasHapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team