Review Film AVENGERS: AGE OF ULTRON (2015)

"Avengers: Age of Ultron (2015)" movie review by Glen Tripollo
Para superhero Marvel kembali berkumpul di film "Avengers: Age of Ultron". Kali ini menghadapi ancaman dari para robot canggih yang mampu berpikir dan bertindak layaknya manusia. Sejujurnya, gue cukup telat nonton film ini, di saat hype-nya udah mereda, eh gue baru jajal. Bukan apa-apa sih, kebetulan gue kurang begitu suka sama keadaan studio yang terlalu penuh. Jadi, menanti dengan sabar sampai kondisinya asik. Kalo penuh berisik, Brow! Yuk, simak review film Avengers: Age of Ultron (2015) berikut ini.

"Avengers: Age of Ultron (2015)" menceritakan tentang sekumpulan superhero yang terdiri dari Captain America/Steve Rogers (Chris Evans), Iron Man/Tony Stark (Robert Downey Jr.), Thor (Chris Hemsworth), Black Widow/Natasha Romanoff (Scarlet Johannson), Hawkeye/Clint Barton (Jeremy Renner), dan Hulk/Bruce Banner (Mark Rufallo) bekerja sama dalam membasmi pasukan robot bernama Ultron (James Spader). Ultron sendiri merupakan project rahasia Tony Stark yang "menjadi liar" akibat inti Loki's Scepter saat sedang diuji coba. Akibatnya, Avengers sedikit mengalami krisis kepercayaan terhadap Tony Stark. Setting konflik utama film ini berada di kota Sokovia, kota yang pada adegan awal pembuka film digambarkan sebagai markas penelitian HYDRA. Kalo kalian ngikutin TV Series "Marvel's Agents of SHIELD" episode 19, sudah disebutkan bahwa HYDRA bermarkas di Sokovia dan menyembunyikan dua saudara kembar yang berhasil diubah menjadi manusia super berkat teknologi yang mereka ambil dari Chitauri--villain di "The Avengers (2012)"--yaitu, Quicksilver (Aaron Tylor-Johnson) dan Scarlet Witch (Elizabeth Olsen). Namun, dengan koneksi yang wow ini antara TV Series ke layar lebar, gue agak kasian sama Agent Coulson yang sama sekali nggak ditampakkan batang idungnya di film ini. Yah, mungkin memang masih jauh sih yah, dan lagian kan Coulson di TV Series minta tolong sama Agent Maria Hill untuk menghubungi AVENGERS. Dan itulah mengapa adegan battle di awal cerita terjadi di Sokovia.



"Avengers: Age of Ultron" lebih banyak berfokus pada Tony Stark dan Ultron ciptaannya yang menjadi liar dan salah tafsir tujuan utama misi yang dipersiapkan Tony Stark padanya. Alih-alih menjadi penjaga perdamaian dunia, Ultron malah berniat membinasakan manusia untuk kemudian mengganti seisi bumi dengan manusia buatan yang dianggap lebih sempurna. Ultron pun pergi ke Sokovia untuk memanfaatkan resource HYDRA yang terdapat di sana dan membuat pasukan robot. Sementara itu Tony Stark kehilangan respect dari teman-teman sesama Avengers karena dia telah melakukan proyek beresiko tinggi di bawah tangan mereka.

Gue sengaja ngga bakal cerita apa yang terjadi selanjutnya dalam film ini. Satu hal yang pasti membedakan "Avengers: Age of Ultron" berbeda dengan edisi pertamanya adalah pembukaan epic dengan adegan perang yang luar biasa. Sinematografinya juga keren karena terkesan seperti di-shoot dalam sekali take yang terus beruntut membuatnya semakin real dan menegangkan. Sialan, baru mulai aja udah disuguhin adegan menantang. Beda dengan edisi pendahulunya yang lebih banyak ngomong di awal cerita dan drama ketika masing-masing personil ini saling berkenalan dan mengalami masalah serius mengenai team work. Kali ini, drama tetep banyak terjadi, tapi lebih meluas lagi. Lebih kepada masalah trust dan respect yang terkhianati karena ulah satu orang.



Beberapa kisah menarik yang perlu digarisbawahi dalam film ini, antara lain seperti hubungan asmara antara Dr. Bruce Banner dan Natasha Romanoff yang bagi gue terkesan kayak kisah cinta di film King Kong. LOL. Lalu, adegan pertarungan epic antara Iron Man dalam balutan Hulk Buster melawan Hulk yang tak terkendali di tengah kota. Dari bagian ini, kita bisa menyimpulkan apa yang akan terjadi ke depannya, kepercayaan umat manusia terhadap AVENGERS bisa jadi berkurang, karena melihat ulah Hulk yang justru membahayakan nyawa mereka. Terus, di sini kita juga jadi tahu kalau HYDRA sudah habis, tonton TV Series AGENTS OF SHIELD episode 20 - 22 untuk mengetahui bagaimana HYDRA akan terbentuk lagi kemudian. Di film ini juga diperlihatkan bagaimana Hawkeye memiliki keluarga yang sempurna dan saling mendukung, kesannya udah kayak ngasih clue ke depannya dia bakal mati. LOL. Tapi ...

Beda dengan edisi pendahulunya yang juga berdurasi panjang tapi berasaaaa banget lamanya, untuk film kedua, justru gue kaget betapa cepet rasanya film ini berakhir. Plot twist memang terjadi di sini, tapi bukan suatu hal yang besar dan sangat bisa ditebak sejak awal cerita.

Untuk komedi, well, biasalah, ciri khas Marvel. Selalu bisa menyisipkan komedi yang fresh bahkan di tengah-tengah adegan battle yang seru. Kampret emang, udah siap-siap tahan napas, eh nggak taunya malah adegan bikin ngakak. Satu lagi yang bikin ngakak, penampilan Stan Lee di sini tergolong cukup lama dan lumayan butuh akting.


Nah, kebetulan film ini tidak menyuguhkan adegan bonus after credit, melainkan di tengah-tengah. Suatu adegan (yang mungkin kalo kalian miss sama adegan ini) yang menggambarkan Thanos yang sedang mengambil sebuah gauntlet tanpa bebatuan warna-warni. Bukan hal yang penting sih, cuma mengindikasikan kalo doi bakal mulai mengincar batu-batuan super itu untuk mengisi penuh ruang di gauntlet-nya sebelum akhirnya doi terjun langsung menyerang bumi dalam film yang akan datang, "Avengers: Infinity War".

Intinya, kalo kamu pecinta Marvel Superhero, film ini tentunya wajib ditonton. Nggak usah khawatir mengajak anak-anak, karena film ini aman. Palingan separah-parahnya ya cuma adegan Dr. Bruce Banner yang jatuh di balik meja bar ala komik shonen yang tanpa sengaja ngeremes dada Black Widow. :') Oh ya, Elizabeth Olsen juga menurut gue nggak cakep, tapi nailed it so much beraksi sebagai Scarlet Witch. I'm so happy to see her again on the next "Captain America: Civil War (2016)". So, kalo ditanya, mana yang lebih baik? Edisi perdana atau sequel-nya? Maka gue bilang, sequel, karena lebih banyak hal yang digali di sini, walaupun penggambarannya ada beberapa hal yang bikin kecewa. Masih ada adegan yang gue rasa agak kecepetan. But, it's okay!

NB: Semua kisah superhero menurut gue selalu punya pola alur yang sama. Yang membedakan adalah adegan berantemnya dan konflik-konflik kecil yang mengelilinginya. So, ngga perlu ngasih ekspektasi berlebihan, cukup dinikmati saja dan sadari betul ciri khas Marvel Cinematic Universe, dan kalian nggak bakal ngerasa kecewa.

Score: 8,7/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

2 komentar:

  1. Wah berarti gue ketiduran pas bagian yang ambil gauntlet-nya. Haha... Baru kali ini ketiduran dalam bioskop. xD

    Btw baca deh: http://getokatanya.blogspot.com/2015/04/avengers-age-of-ultron-yang-sedikit.html

    Blog baru gue bareng temen-temen gue, khusus bahas review juga. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti dirimu bakal ngorok pas nonton The Avengers (2012) karena lebih slow pace daripada installment keduanya... :))

      Hapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team