Review Film MAD MAX (1979)

"Mad Max (1979)" movie review by Glen Tripollo
Di tengah-tengah nge-hype film "Mad Max: Fury Road (2015)" dan berhubung gue belum ada kesempatan buat nonton filmnya secara langsung, so, gue pake waktu buat nengok ke belakang. "Mad Max" klasik yang rilis tahun 1979. Yep, gue udah pernah denger filmnya, tapi baru sekarang aja nonton. Impresi pertama waktu gue nonton film ini adalah, "Geblek, Mel Gibson masih muda bingit!" Gue nyaris nggak ngenalin sebelum aktor yang satu itu ketawa. Yep, ketawanya emang berkarakter. By the way, review gue kali ini juga bakal menyesuaikan dengan teknologi di masa pembuatannya. Yuk, simak review film Mad Max (1979) berikut ini.

"Mad Max" ber-setting di Australia, dunia masa depan yang tidak begitu jauh, masa di mana dunia cukup kacau dengan tingkat kriminalitas yang luar biasa. Gangster merajalela, dalam hal ini kebanyakan gangster bermotor, berbaju serem ala punk, dan berkepribadian psikopat. Kebanyakan mereka berkelana dari daerah ke daerah cuma buat bersenang-senang, ngerampok orang lewat, memperkosa cewek dan cowok, dan lain-lain yang terbilang kejam. Nah, pihak pemerintah punya polisi khusus yang disebut Main Force Patrol (MFP), polisi yang seragamnya cuma jaket kulit berlencana, bersenjatakan shotgun, dan mengendarai mobil kuning, yang ditugaskan di setiap jalan untuk mengontrol para gangster ini. Max Rockatansky (Mel Gibson) adalah salah satu personil MFP dengan skill mengendarai mobil di atas rata-rata. Bersama partner-nya Goose (Steve Bisley), Max berjuang keras menegakkan hukum yang sepertinya sudah tidak terlalu berguna di masa itu.

Membawa genre baru dalam dunia perfilman
George Miller bisa dibilang sutradara yang luar biasa. Lupakan soal "Fast & Furious" franchises, "Need For Speed", "Death Race", "Speedracer" dan film-film lain dengan tema jalanan dan aksi menggunakan mobil-mobil mahal itu, karena Miller berhasil untuk pertama kalinya membuat film high-octane dengan budget yang sedikit. Setara film kualitas B, tapi yang ini bener-bener digarap dengan serius dan sama sekali ngga terkesan sedang konyol-konyolan. "Mad Max" didapuk membawa genre baru yang disebut post-apocalyptic wasteland/road yang kemudian menjadi inspirasi banyak film di masa kini. Selain itu, film ini menjadi film Aussie sukses yang mencetak box office di Amerika, hingga akhirnya berkembang menjadi trilogi.



Bagaimana dengan cinematography-nya?
Well, kalo boleh jujur, untuk ukuran film yang dirilis tahun 1979, film ini udah berhasil menggambarkan setiap adegannya dengan cukup baik. Beberapa bahkan terlihat sisi artistiknya. Hanya saja, keterbatasan teknologi pada saat itu mungkin belum memungkinkan memberi gambaran adegan tabrakan secara gamblang. Jadi, beberapa adegan keras memang berlangsung secara implisit, seperti misalnya mobil yang dipacu dengan kecepatan tinggi terlihat jelas akan menghantam keras beberapa sepeda motor di hadapannya, tapi bagian tabrakannya ngga disorot langsung melainkan diambil scene ketika pengendara motor terpental hingga ke sisi jalan dan berakhir terjun ke dalam sungai. Di adegan yang lain, seorang wanita hendak ditabrak motor dengan keras, namun hanya diperlihatkan sepatu yang terpental di tengah jalan. Nothing explicit in here, tapi tetep aja efek thrilling tersampaikan dengan sangat baik kepada penonton.



Khusus adegan di atas ini, sepertinya memang terjadi di luar perhitungan, ketika stuntman terjatuh dan ngga sengaja terhantam motornya sendiri. Mungkin sedkit elemen realistis biar penonton tambah tahan napas.

Bagaimana dengan plot?
Bisa dibilang film perdana dari trilogi "Mad Max" ini memang dibuat sebagai latar belakang seorang Max Rockatansky menjadi "MAD". Karena sebelumnya, Max adalah seorang polisi taat hukum, nggak pernah main hakim sendiri dan baik hati. Namun, semua berubah ketika para gangster yang sebelumnya merenggut hidup partner-nya juga mencelakakan keluarganya. Yep, sederhananya film ini adalah ajang balas dendam. Mungkin plot serupa juga bisa ditemukan dalam film "The Punisher (2014)". Seorang MFP yang berdedikasi tinggi akhirnya menjadi seorang pembalas dendam yang engga pandang bulu, dan disebut sebagai "Mad Max". Simpel bukan? Memang! Layaknya seorang tokoh utama dalam shonen manga. Siapa jagoan dan penjahatnya sudah sangat jelas, yang menarik adalah alur cerita hingga menuju ke final battle-nya. Dihiasi trigger tertentu untuk membuat sang jagoan ini berserk dan membantai semua lawannya. Uniknya, semua dilakukan dengan menggunakan mobil.

The Gangster

Max before "Mad"

Walau begitu, film ini tetep menyimpan beberapa kejanggalan yang menurut gue agak terlalu fatal. Misalnya, ketika istri Max, Jessie, buru-buru kabur pakai mobil menghindari para gangster (yang sudah mereka ketahui mengejar menggunakan motor), kemudian melapor kepada Sheriff setempat dan mereka mendapatkan "safe house" di sebuah tempat kecil di sisi hutan, dengan santainya sang istri pamit pergi berenang ke laut sendirian melewati jalan-jalan sepi di dalam hutan. Antara terlalu careless atau emang bego, dengan santainya Jessie berjemur matahari di pinggir pantai dan ninggalin anaknya yang masih balita main sendirian di pekarangan belakang rumah. Lebih bego lagi karena Max ngasih izin istrinya buat pergi sendirian. Alhasil? Sudah bisa ketebak lah yah. :))

Suatu kesalahan juga terjadi ketika para gangster mendadak menyapa istri Max dengan memanggil nama "Jessie", tau dari mana coba mereka?


Kesimpulannya?
Bila dilihat dari tahun rilis dan fenomenalnya, film ini jelas sangat bernilai. Dengan budget rendah bisa menyajikan adegan-adegan liar di jalanan dengan kecepatan tinggi. Dari segi akting, kayaknya ngga butuh banyak ekspresi untuk berakting dalam film ini, interaksi antar karakter masih tergolong datar dan kaku. Dialog juga masih agak cheesy. Tapi, gue berani bilang kalo "Mad Max" adalah karakter terbaik yang pernah diperankan oleh Mel Gibson. Cocok aja gitu gayanya. No bag-big-bug battle, minim of explosion, plot sederhana yang cenderung bodoh, tapi tetep lah yah bisa dinikmati di waktu luang. Seenggaknya di sini kita jadi tau asal-muasal dari alias "Mad Max".

Harap diperhatikan juga kalau film ini memuat inti cerita dewasa dan beberapa mild nudity (yang agak di-blur). Gue tetep nggak menyarankan anak-anak di bawah umur menonton film ini tanpa bimbingan dari orangtua mereka.

NB: Kocak banget ngeliat adegan kaget. Masih menggunakan sorotan kamera zoom in zoom out ala sinetron. By the way, backsound-nya mengingatkan gue sama film-film "007 James Bond" classic. Asik sih dengerinnya. Selidik punya selidik, ternyata composer-nya memang mendapat penghargaan di film ini.

Score: 7,5/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team