Review Film SAN ANDREAS (2015)

"San Andreas (2015)" movie review by Glen Tripollo
Ngeliat "The Rock" main film action-adventure udah sering yak. Tapi sejauh yang gue inget, kayaknya baru kali ini doi main film bergenre apocalyptic begini, dan gue memberikan banyak banget penilaian setelah nonton film epic yang satu ini. Seperti apa? Yuk, simak review film San Andreas (2015) ala gue berikut ini!

Mungkin waktu pertama denger judul "San Andreas", ada yang tanpa sengaja mengira kalo ini film yang diangkat dari game besutan Rockstar, "Grand Theft Auto (GTA) San Andreas". Sayangnya bukan, walau gue juga berharap game favorit gue itu difilmkan juga. Nah, kalo ada yang mengacu pada nama kota, yep, nyaris betul. Hanya saja, setelah kita tonton, sebagian besar setting cerita berada di San Francisco, jadi jelas San Andreas bukan mengacu nama kotanya, melainkan nama sebuah patahan geografis di deket-deket situ, Patahan San Andreas, yang berdasarkan teori para ilmuwan, area patahan ini akan selalu mengalami gempa sekitar 100 tahun sekali.

"San Andreas" sendiri berfokus pada "The Rock" yang berperan sebagai Ray, seorang senior dalam tim SAR Los Angeles yang juga seorang pilot handal. Ray punya masalah keluarga sejak di masa lalu dirinya kehilangan anak keduanya yang tewas keseret arus waktu bermain arung jeram. Merasa galau bila melihat istri dan anak pertamanya, akibatnya sang istri mengajukan permohonan cerai. Si anak pertama, Blake (Alexandra Daddario) sebenernya masih pengen keluarga mereka bersatu lagi, tapi ibunya, Emma (Carla Gugino) ternyata udah punya calon baru, arsitek bernama Daniel Riddick (Ioan Gruffudd) dan berencana tinggal serumah.

Tambah galau, tapi harus tetep profesional, Ray diminta bersiaga kembali di markas SAR setelah adanya laporan kalau bendungan Hoover telah hancur akibat gempa bumi dahsyat dan diduga akan merembet (gempanya) hingga San Francisco dan menyambung pada patahan San Andreas. Kebetulan pada saat itu, keluarga Ray terpecah-pecah dengan kegiatannya masing-masing. Emma bersama dengan seorang wanita (mungkin) kolega dari Daniel Riddick di restoran yang letaknya berada di lantai teratas gedung tinggi, sedangkan Blake bersama dengan Daniel berada di dalam gedung kantor. Di sana Emma bertemu dengan kakak-beradik, Ben (Hugo Johnstone-Burt) dan Ollie (Art Parkinson). Rentetan gempa bumi yang diperkirakan oleh ilmuwan pun akhirnya terjadi di sana. Membuat semua karakter film ini terpencar-pencar dan berusaha untuk bertahan hidup.

Pada awalnya, gue udah berekspektasi kalo film ini nggak bakalan jauh beda feel-nya sama genre apocalyptic lainnya, sebut saja "The Day After Tomorrow (2004), dan "2012 (2009)", tapi ternyata gue salah, Bro, Sis. Gue juga nggak nyesel udah bela-belain nonton film ini pas weekend. Kok bisa? Ah, masa~


Mari kita mulai dengan CGI yang apik.
Sebenernya nggak bisa dibilang grande juga karena di beberapa bagian masih berasa banget kalo itu dibuat dengan green screen dan kurang menyatu sama tokoh-tokohnya, tapi CGI-nya sudah sangat-sangat baik, menggambarkan hancurnya gedung tinggi satu per satu udah kayak beneran. Beberapa adegan emang cenderung lebay (dalam penggunaan CGI), seperti yang udah diduga dari film-film yang diperankan "The Rock", pasti ada unsur "WOW" untuk memperjelas kepada penonton bahwa di film ini, dialah HERO-nya, menolong orang dari kondisi yang luar biasa mengerikannya. Sebenernya, ngga perlu sampe selebay itu juga, "The Rock" udah punya karisma yang kuat kok dibandingin aktor-aktor lainnya di film ini. Tapi, tetep gue kasih nilai tinggi untuk efek, bagus buat mendramatisir keadaan.

Nyaris menegangkan di setiap menitnya.
Kayaknya film terakhir yang gue inget bener-bener bikin gue ngerasain ketegangan dari awal sampe akhir film adalah "World War Z (2013)". Tapi, ternyata sekarang gue nemu film yang bisa menyaingi ketegangan film tersebut. Ketika film baru dimulai saja sudah langsung disuguhkan sama perasaan angst dari seorang pengendara mobil yang tiba-tiba aja kena longsoran bukit hingga jatuh berguling-guling ke jurang hingga akhirnya nyangkut di batang pohon, membuat posisi mobilnya vertikal, menempel pada sisi jurang. Adegan penyelamatan ini gila-gilaan ngerinya. Lumayan ngingetin gue sama pembuka film jadul Sly yang berjudul "Cliffhanger (1993)". Abis itu, kita istirahat beberapa menit dari segala ketegangan sebelum akhirnya dipacu lagi secara penuh hingga ke ending. Persiapkan jantung kamu, dan pastikan menerima pasokan oksigen yang mumpuni.

Bahkan, beberapa adegan biasa juga jadi "menegangkan" karena melihat Alexandra Daddario. #plak

Lemme kutip kata-kata sutradaranya, Brad Peyton, "It's not about The Rock vs earthquake, it's The Rock and eartquake. And I think that's true (tambahan dari gue akhirnya).

Banyak pelajaran yang bisa kita dapetin dari film ini.
Udah seyogianya sebuah film itu dibuat bukan atas dasar suka-suka saja, melainkan juga harus mengandung unsur-unsur yang mendidik atau terdapat pesan moral yang bisa dipetik tanpa terkesan menggurui. Nah, dalam film "San Andreas" ini siapa sangka ternyata disisipkan beberapa teori bertahan hidup dalam bencana gempa. Mulai dari yang sederhana, hingga yang paling ekstrim. Yang sederhana dan udah umum adalah bersembunyi di bawah meja ketika gempa terjadi. Kalau berada di jalan terbuka, dan di antara gedung-gedung tinggi, berlindung di suatu sudut bangunan, istilahnya Triangle of Life (Walaupun sebenernya teori ini banyak dibantah bakal bener-bener aman dipraktekan dalam kejadian nyata). Terus juga adegan pas diterjang Tsunami, bila berada di laut lepas, seenggaknya berusaha mendaki puncak gelombang, sebelum gelombang naik terlalu tinggi dan mulai bergelung.. Masih banyak lagi yang lainnya. Gue juga suka sama karakter Blake dan Ben, keduanya masih muda dan punya daya berpikir yang luar biasa di tengah-tengah bencana. Kalo kalian nanton, kalian bakalan kagum sama strategi penyelamatan Blake yang dilakukan kakak-beradik Ben dan Ollie. Otaknya bener-bener dipake. Keren sumpah.

Akhirnya, gue bisa bilang kalo film ini berhasil ngasih warna yang berbeda dari film-film bergenre apocalyptic lainnya, jauh di atas ekspektasi awal gue, dan aksi "The Rock" di sini sama sekali ngga mengecewakan, dia bahkan udah berusaha akting nangis walau ujungnya belum bisa ngeluarin air mata macho-nya (oke bagian ini agak terkesan gay-ish). Ada banyak kelebihan dalam film ini, termasuk "kelebihan" yang dimiliki Alexandra Daddario. Ups, maaf gue berkomentar begini lagi, apa daya gue soalnya penggemar doi. :))

Karakterisasi yang bagus.
Maksudnya karakter yang terlibat dalam cerita ini juga asik. Nggak ada karakter yang menyebalkan sampai-sampai bikin gregetan and ribet karakter lain yang berusaha nyelamatin diri, semua punya inisiatif, semua punya otak dan mampu berpikir cepat. Nggak menye-menye dan lemah. Bahkan karakter Ollie yang masih bocah aja bisa senendang itu. Terkecuali, Daniel Riddick, well tapi ngga masalah karena dia ngga bergabung dengan petualangan para tokoh utama.

Film ini aman ditonton sama segala usia, yang jelas jangan lemah jantung aja, terus juga kalo agaknya ada adegan yang terlalu ngeri, baiknya anak-anak kecil ditemenin baik-baik takut jadi histeris. Dijamin ngga bakal bikin boring, yang ada bikin perasaan jadi was-was terus ngebayangin apa yang bakal terjadi selanjutnya, walaupun obviously udah ketebak atau aware akan hal tersebut.

NB: Kampret banget "The Rock" ngasih CPR si Alexandra dengan durasi yang cukup "memuaskan". #ApaPulaIni. Oh ya, tambahan lagi, buat penggemar Colton Haynes (Arsenal, ARROW) harus memendam rasa kecewa, karena doi cuma nongol di beberapa menit adegan penyelamatan awal aja... itu pun bukan pas gempa udah terjadi. :))

Oh, ya, sebagai tambahan, jangan percaya sama rating IMDb, karena sesungguhnya film ini bener-bener seru buat ditonton.

My favorite scene:
Tentu adegan penyelamatan Blake di tempat parkir yang dilakukan sama Ben dan Ollie. :)) Selebihnya, ya semua adegan yang menampilkan Blake yang sedang berlari... :))

Score: 8,3/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

3 komentar:

  1. waduh.. reviewnya bikin nagih euy!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, terima kasih sudah mampir... :D

      Hapus
  2. The tsunami is unreal because the water is not gathering to create the wave, that or the wave is made from the dam.

    BalasHapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team