Review Film STAND BY ME DORAEMON (2014)

"Stand By Me Doraemon (2014)" movie review by Glen Tripollo
Butuh waktu lumayan lama bagi gue untuk bisa menikmati film ini, pertama karena peredarannya di negara kita bener-bener terbatas, kedua gue nggak mungkin sampe segitunya bela-belain menempuh perjalanan dua jam (belum ditambah macet) cuma buat nonton film versi 3D animation dari anime Jepang paling panjang umur ini. And I'm not a big fan of Bl*tz M*g*pl*x. Ups! Sorry, disensor.

Karena gue agak ketinggalan, otomatis gue udah ngedenger beragam komentar dari orang-orang sekitar soal film ini, efeknya cuma bikin gue makin penasaran buat ngecek sendiri. Ah, masa sih segitunya? Ah, masa sih begini? Well, mumpung ada kesempatan, langsung aja gue pakai waktunya buat ngecek film yang-katanya-fenomenal ini. Yuk, simak review film Stand By Me Doraemon (2014) ini!

"Stand By Me Doraemon" ibarat mengompres kisah keseluruhan anime Doraemon dari awal kedua tokoh utamanya bertemu hingga akhirnya berpisah. Kisah dimulai dari Nobita, seorang anak kelas 5 SD yang clumsy, malas, penakut, dan nggak bisa diandalkan yang harus menjalani kehidupan sehari-harinya dengan penuh penderitaan. Mulai dari nilai akademis yang selalu dapet telor bebek, jadi korban pem-bully-an dua orang frenemy kayak Suneo dan Giant, sampe harus bersaing memperebutkan cinta Shizuka dengan Dekisugi si murid teladan. Tampaknya, kisah masa kecil Nobita ini nggak mengimpresi cucu dari cucu Nobita yang datang dari masa depan. Nah, dengan tujuan membuat kakek dari kakeknya itu senang dan mempunyai mimpi, dia meninggalkan Doraemon--robot kucing bulet biru ngegemesin--buat nemenin Nobita dan menjadi pembimbing hingga Nobita bisa merasakan kebahagiaan di dunia. Dari situlah konflik demi konflik bermunculan silih berganti, hingga akhirnya suatu hal yang berat--perpisahan antara keduanya--tak lagi terelakan.

Dimulai dari perbedaan format penyajian
Kalo biasanya kita kenal Doraemon dan Nobita dalam bentuk anime 2D dengan style gambar yang sangat khas dari mangaka legendaris, Fujiko F. Fujio, kali ini para tokoh 2D dibuat lebih realistis dengan animasi 3D yang kualitasnya nggak kalah dengan animasi-animasi 3D keluaran studio Dreamworks atau Pixar. Oke, mungkin masih kalah di beberapa bagian, tapi it's okay! Cuma menurut gue, selain Doraemon, nyaris nggak ada karakter lain yang terlihat mirip dengan versi 2D-nya, alias nanggung banget tapi dalam hartian nggak buruk. Intinya, di awal-awal gue lumayan struggle buat nerima format baru ini apa adanya, tapi selanjutnya gue sangat menikmati.


Satu yang perlu gue acungin jempol di sini adalah tone warna-warni soft yang nggak bikin mata kecolok, serta penggambaran background yang bener-bener detail. Oh, shit, gue suka sama tata kotanya dan desain bangunan rumah yang jadi berasa kayak beneran. Rambut para karakter jadi keliatan helaian-helaiannya, dan what the-? Gue agak ngakak liat desain Jaiko yang cukup jauh dari kata mirip dengan versi 2D-nya. Dan sebagai catatan tambahan, di sini Shizuka jadi 200% lebih cute, apalagi penggambaran Shizuka dewasa yang bikin tersipu-sipu liatnya. Mungkin gue mulai gila.

Noh kan? Kan? Kan? :3

Konflik khas anak SD
Yap, suatu kelebihan dari kisah Doraemon adalah betapa pun absurd-nya inti cerita di setiap episode-nya, tetep aja masalah yang diangkat adalah masalah yang biasa dihadapi oleh anak-anak SD. Termasuk juga di film ini, temanya sangat anak SD, mulai dari masalah ketidakpercayaan diri karena sering di-bully teman sekelas, mulai naksir sama temen sekelas sampe ngebahas nikah-nikahan dan khayalan-khayalan lainnya. Setiap konflik saling beruntun udah kayak film seri, satu masalah selesai, nge-lead ke masalah baru. Yang unik di film ini adalah bagian kisah Nobita yang desperate banget takut Shizuka di masa depan nikah sama Dekisugi. Nobita akhirnya nonton langsung dirinya di masa depan yang berakhir dengan rasa penasaran dia sendiri untuk menjelajah ke masa itu dan bertemu dengan Shizuka dewasa yang manisnya to the max.


Film animasi anak-anak udah jarang banget yang bisa dinikmatin bareng sama keluarga. Kebanyakan temanya terlalu bocah banget hingga bikin orang dewasa bosan, sisanya justru bertema lebih dewasa untuk bisa dicerna sama anak-anak. Nah, Doraemon meleburkan batasan-batasan tersebut hingga menarik dinikmati oleh semua orang, tua dan muda, makanya gue masukin ke dalam film keluarga. Ada nilai-nilai positif yang jelas dari film ini, bisa dicontoh anak-anak, juga bisa jadi bahan pembelajaran bagi orangtua. Kaya akan pelajaran tapi tidak menggurui. Ditambah aksi karakternya yang ekspresif dan komedi yang pas dan mudah dimengerti anak-anak.

Some people said, film ini sedih luar biasa
Ternyata emang bener sedih, tapi ngga sesedih itu. Ini bukan suatu film dengan inti kisah heart-warming seperti yang biasa disuguhkan di Doraemon the Movie seri petualangan. Di sini semuanya serba biasa, kehidupan sehari-hari Nobita. Tapi yang cukup mengherankan adalah dengan durasi yang singkat, ikatan antara Nobita dan Doraemon berhasil terjalin dengan baik dan memberi efek lumayan sedih ketika tiba saatnya perpisahan.

Bagus dalam segi desain, namun terkesan nggak sesuai sama timeline-nya
Pada adegan Nobita dan Doraemon pergi ke masa depan, tepatnya ke masa 14 tahun yang akan datang, rasanya agak terlalu berlebihan penggambaran teknologinya. Udah ada mobil terbang komersil, perangkat digital hologram, dan sebagainya yang menurut gue sih belum wajar terbentuk dalam jangka waktu 14 tahun. Inget kan lingkungan tinggal Nobita saja masih terkesan kayak kota kecil di sudut Jepang, tau-tau dalam jangan 14 tahun udah kayak setting film-film sci-fi cyberpunk.

NB: Doraemon bener-bener kisah paling apik sepanjang masa. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sini, seperti misalnya harus tetep berani melawan bully, nggak boleh malas, dan bila ingin menggapai suatu mimpi, maka berusahalah semaksimal mungkin. Something like that~ hal yang menarik untuk diajarkan kepada anak-anak. By the way, katanya ini menjadi penutup dari kisah Doraemon, tapi sepertinya ini hanyalah versi lain yang lebih pendek dengan ending yang masih bisa dipanjang-panjangin sampai kapan pun. :)

Score: 8,9/10
Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

2 komentar:

  1. Bahasan lu mantap gilak! Speechless. Udah gitu aja, xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. LOL... serius nih? Arigatou... :))

      Hapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team