Review Film THE LAZARUS EFFECT (2015)

"The Lazarus Effect (2015)" movie review by Glen Tripollo
Pertama ngeliat film ini, gue langsung ngebayangin penyampuran formula beberapa film horror-thriller yang udah cukup banyak dikenal orang. Premisnya cukup menarik, namun karena kentara banget pola penggabungannya jadi berasa not-so-original lagi. Film ini berhasil mencuri perhatian gue lewat adegan pembukanya yang bisa dibilang agak creepy bak menantikan penampakan di film "Paranormal Activity" dengan menampakkan sosok mayat binatang yang dikelilingi selang-selang seperti objek percobaan, dan terkesan seperti siaran yang benar-benar sedang berlangsung. Tapi, cuma dari adegan pembuka itu aja, penonton udah bisa tebak apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh para ilmuwan di sana (walau cuma terdengar suara mereka aja). Nah, bagaimana pandangan gue soal film ini? Yuk, simak terus review film The Lazarus Effect (2015) berikut ini.

"The Lazarus Effect" menceritakan tentang sekelompok medical student--terdiri dari sepasang kekasih, Zoe (Olivia Wilde) dan Frank (Mark Duplass), Eva (Sarah Bolger), Clay (Evan Peters), dan Niko (Donald Glover)--yang diam-diam menjalankan proyek absurd, yaitu menghidupkan kembali makhluk hidup yang sudah mati. Percobaan demi percobaan mereka lakukan terhadap mayat hewan seperti babi dan anjing. Mereka berhasil. Namun, suatu kejadian membuat salah satu anggota tim meninggal, dan berkat pemikiran gila salah satu mereka, percobaan pun dilakukan langsung ke mayat teman mereka itu. Hasilnya? Well, hidup lagi sih, tapi ... tonton sendiri yak! :))

Bagaikan FRANKENSTEIN dan CARRIE yang disatukan dalam satu cerita
Premis menghidupkan orang mati dengan berbagai teori secara ilmu pengetahuan itu udah ada sejak lama. Salah satunya yang menjadi moyang semuanya adalah "Frankenstein" karya Mary Shelley. "The Lazarus Effect" berhasil menyajikan teori-teori ilmiah yang terkesan believable lewat dialog antar karakternya, walaupun menurut penilaian para ahli, teori-teori yang disampaikan dalam film ini sifatnya Zero Proof dan nyaris mustahil. Tapi, nggak masalah toh namanya juga science fiction. Sampe sini, proses usaha membangkitkan mayat menjadi hidup kembali terbilang menarik. Tapi, ada suatu kondisi yang dialami oleh mereka yang hidup kembali, yaitu ketidakstabilan emosi dan peningkatan syaraf otak yang berkembang terus-menerus akibat serum yang disuntikkan ke otak dalam prosesnya. Akibatnya, sang objek percobaan jadi punya kemampuan super, seperti telekinesis. Di sini, nuansa horror yang dibangun pun bikin gue teringat sama "Carrie" karya Stephen King. Tapi, bukan di situ yang membuat penilaian gue terhadap film ini jadi sedikit turun.

Poster alternatif dengan judul
alternatif di negara-negara
berbahasa Latin

Plothole dan adegan nggak penting yang bertebaran
Satu-satunya major plothole dalam film ini adalah, bahwa penonton udah jelas banget dikasih tau kalo percobaan ini berhasil terhadap seekor anjing bernama Rocky, yang tentu saja jadi lebih agresif dan kuat. Sampe setengah film, si anjing masih terus disorot dalam film, tapi begitu konflik utama muncul, dan si anjing diketahui kabur dari dalam kandangnya, hingga film berakhir, anjing ini udah nggak dibahas sama sekali. Sangat terkesan seperti dilupakan begitu saja. Gimana nasibnya?

Adegan nggak penting yang bertebaran adalah adegan "hantu-hantuan" di sepertiga akhir film. Okelah manusianya bangkit dari kematian, jadi kuat, jadi bisa baca pikiran, bisa telekinesis, bisa bunuh orang cuma dengan memikirkannya... terus, buat apa pake sok jadi hantu segala? Main gelap-gelapan, petak umpet, ngaget-ngagetin tiap karakter yang lagi was-was? Kalo emang badass, kenapa repot-repot? Kenapa gak langsung pakai aja kemampuannya buat bunuh mereka semua? Alih-alih horor, adegan ngga penting ini malah jadi terkesan komikal, ngocol, dan bodoh. Nyaris gue kehilangan minat buat nonton sampai selesai, tapi kemudian gue inget, sebagai reviewer yang baik harus betul-betul menyimak film dari awal sampai akhir, so, gue lanjutin.

Cliffhanger ending yang bener-bener nggak tau bakal berpijak ke mana nantinya
Yap, lebih mengecewakan lagi di bagian ending. Setelah adegan demi adegan yang agak dipaksakan supaya serem (through it's jump scare method), ternyata ending yang dipakai adalah ending yang kelewat luas. Terlalu luas spekulasi yang bisa dibuat sama penonton bikin perasaan jadi nggak nyaman, ngga puas, dan berkomentar kesal, "jadi ini intinya mau kayak gimana sih???" Apakah bakalan dibuat sequel? Mungkin saja. Tapi, betapa pun gue bertanya-tanya sama ending di sini, kalo bukan karena pengen nulis review, gue nggak bakalan ngecek.


Satu lagi yang bikin gue agak keki, karena terdapat unsur SARA di dalam film ini yang disampaikan nggak dengan cara yang elegan. Terlalu banyak mencampur-adukkan teori pengetahuan dan agama yang keduanya (teori dalam film ini) diragukan kebenarannya. Serius, film ini sebenernya punya premis yang menarik, hanya saja plot cerita seperti ditulis oleh seseorang yang bener-bener dangkal pemahamannya mengenai bidang yang ditulisnya.

Kesimpulan yang bisa gue ambil dari film ini adalah, ini film horor (sebenernya lebih pas dibilang thriller) yang "dipaksakan". Durasi terlalu singkat, dengan pace cerita yang terlalu cepat. Film ini jadi berkesan kayak film kelas B yang asal jadi. Sayang banget sih, padahal pemeran utamanya udah cukup mumpuni dalam berakting. Kalo punya waktu luang, gue sarankan nonton film lain aja karena film ini terbilang cuma bakalan buang-buang waktu kalian untuk suatu kisah yang nggak penting dan terlupakan begitu saja dengan cepat.

NB: Kayaknya Olivia Wilde cuma keliatan cakep di film "Tron: Legacy" aja deh.

Score: 5/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team