Review Film DEMONIC -HOUSE OF HORROR- (2015)

"Demonic (2015)" movie review by Glen Tripollo
Sebelum gue bahas inti dari review film Demonic (2015) ini, gue mau bilang kalo label di posternya itu, "From the director of The Conjuring, James Wan presents ...", bukanlah sebuah jaminan kalo film ini bakal sebagus "The Conjuring (2013)". Toh, James Wan hanya berperan sebagai executive producer di film ini, sedangkan yang menggarap langsung di lapangan bukan doi, melainkan seorang bernama Will Canon yang sebelumnya sempat menggarap film crime-thriller "Brotherhood (2010)". So, turunkan dulu ekspektasi kalian serendah-rendahnya, baru lanjut baca tulisan gue ini. Yok, lanjut!

"Demonic (2015)" menceritakan tentang sekelompok young adult yang terobsesi merekam aktivitas hantu dan penampakan di sebuah rumah bekas kediaman Martha Livingston, rumah yang konon pernah menjadi lokasi kasus pembantaian sekelompok orang yang mencoba melakukan ritual pemanggilan arwah. Setelah beberapa waktu berselang, seorang detektif bernama Mark Lewis (Frank Grillo), mendapatkan laporan penemuan mayat oleh warga setempat, mayat dari para pemudi-pemuda pemburu hantu tersebut. Selidik punya selidik, Mark menemukan bahwa salah satu dari mereka masih hidup dan mengalami trauma, seorang pemuda bernama John Mathews (Dustin Milligan). Mark mencoba berbicara dengannya, namun tidak berhasil menggali banyak informasi mengenai kejadian di dalam rumah selain fakta bahwa John terus mempertanyakan keberadaan Michelle (Cody Horn), kekasihnya yang menghilang, bersama seorang pria lagi yang juga hilang, bernama Bryan Purcell (Scott Mechlowicz). Untuk menyelidiki kasus tersebut lebih dalam lagi, Mark menghubungi kekasihnya, Dr. Elizabeth Klein (Maria Bello), yang notabene seorang psikolog untuk berbicara dengan John. John lebih terbuka kepada Klein, dan menceritakan ulang kejadian di rumah itu. Semakin cerita mendekati akhir dan mengungkap satu per satu misteri, membawa mereka semua yang ada di crime scene ke dalam suatu kesimpulan yang tak terbayangkan sebelumnya.

Seberapa horor film ini?
Seperti yang udah kita tahu, sebagian besar film horor yang keluar di pasaran selalu mengandalkan elemen "mengagetkan" ketimbang "menakutkan" (baca: jumpscare), begitu juga dengan film "Demonic (2015)" ini. Sebagian besar adegan ber-setting di dalam rumah yang cukup besar dan memiliki beberapa bagian ruang yang tersembunyi, ditambah pencahayaan yang ala kadarnya. Adegan penampakan memang ada, dan sifatnya bener-bener bikin kaget yang dipicu sama suara teriakan karakternya. Kebetulan film ini juga nggak banyak mengandalkan back sound yang creepy. Jadi, kalo ditanya apakah film ini bener-bener menakutkan? Gue bakal jawab, cuma sedikit, sisanya mengagetkan. So, kalo punya lemah jantung mendingan jangan nonton ini di malam hari sendirian. Siang-siang it's okay, atau minta temenin sama sodara di rumah. :))


Format yang dipakai dalam film ini?
Nyaris ngga ada yang unik sih dari film ini. Sinematografinya biasa-biasa saja, malah bagi gue jadi rada berkesan B movie (terus gue ngintip ke IMDb buat cari tau data soal budget produksi, ternyata emang sedikit). Jujur aja, kalo bukan karena nama Frank Grillo di jajaran aktor pemainnya, gue ngga bakal pengen cepet-cepet ngecek film yang satu ini. Oh, ya, plot yang dipakai dalam film ini merupakan alur maju-mundur, pertama menggambarkan adegan di masa sekarang, lalu lewat interogasi secara halus yang dilakukan Klein terhadap John, adegan langsung flashback dan kemudian kembali lagi ke masa sekarang ketika suatu kejadian menghubungkan dengan misteri yang tengah diselidiki oleh Mark. Sedikit banyak, konsep maju-mundur begini ngingetin gue sama "Oculus (2014)".

Nah, pada adegan flashback, sekelompok young adult yang menuju ke rumah Livingston itu bawa banyak banget kamera, jadi sorotan kamera mula-mula seperti film pada umumnya, tapi ketika ada tanda-tanda akan terjadi suatu penampakan dan lain-lain, sorotan kamera berubah jadi semacam found-footage horror. Kelebihannya, cara ini lumayan berasa fresh, dicampur-campur sedemikian rupa. Namun, kekurangannya, gue sebagai penonton jadi tau persis kapan penampakan atau adegan jumpscare bakalan muncul, seenggaknya jadi bisa siap-siap dengan kemungkinan yang bakal datang sekaligus juga jadi mengurangi efek horornya. Sayang banget, creativity over quality.

Bisa dibilang film ini juga menyimpan plot twist yang cukup membingungkan. Butuh waktu beberapa menit bagi gue sadar kalo maksud twist-nya ke arah sana. Bukan suatu hal yang bagus sih, karena tetep aja bagi gue malah maksa banget. Dan yang paling disayangkan adalah, film ini, sekalipun udah jelas juntrungannya bakal ke mana, tetep menyisakan satu plot hole yang nggak bakalan pernah terjawab. Okelah, rumahnya berhantu, okelah mereka mau ritual panggil setan, tapi konflik inti film ini yang sebenernya, baru terjadi setelah mereka melakukan ritual (sekitar setengah dari durasi film yang cuma 83 menit). Pada akhirnya, gue cuma ngerasa kalo adegan-adegan jumpscare di awal-awal cuma tempelan yang nyaris ngga ada sangkut pautnya sama masalah utamanya. Oh, ya, lewat film ini, bisa kita lihat jelas contoh-contoh plot twist seperti pola red herring dan juga unreliable narrator. Not that perfect thou (the execution), tapi kalo kamu mau belajar bikin plot twist, di sini bisa jadi contoh yang lumayan.

Film ini aman dinikmati semua orang, karena nggak ada adegan-adegan yang "dewasa". Not so gore either. Sebagian besar adegan bacok membacok pakai kapak nggak begitu jelas, hanya terindikasi seperti itu. Karena adegannya pun merupakan suatu rekaman rusak yang ditonton sama Mark buat cari petunjuk. Bukan film horor yang luar biasa, tapi juga bukan berarti sampah. Film ini masih bisa dinikmati di waktu luang. Tapi bukan termasuk film yang bisa gue rekomendasikan. Kalo suka "Oculus (2014)", why not give this one  a try? Tapi, sekali lagi gue bilang, tekan ekspektasinya serendah mungkin sebelum nonton, biar gak terlalu kecewa nantinya.

NB: Tadinya gue mau masukin gambar hantunya, tapi karena takut jadi spoiler akhirnya gue urungkan. :)) Cek aja sendiri filmnya buat nyari tau yak!

Score: 6/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

3 komentar:

  1. Betul, gue ketipu sama poster yang keliatan misterius plus ada nama James Wan, tapi juga ragu-ragu gara-gara nih film nggak begitu 'terdengar'. Nggak creepy, cuma ngagetin emang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film horor yang nakutinnya dengan cara ngagetin rasanya curang ya... hahaha

      Hapus
  2. Akhirnya agak gantung ga sih. Michelenya hamil anak siapa? 😂😂😂

    BalasHapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team