Review Film INSIDIOUS (2010)

"Insidious (2010)" movie review by Glen Tripollo
Sebenernya nama James Wan jadi ke-notice sama gue sebagai sutrada film horor yang patut diperhitungkan itu sejak film "The Conjuring (2013)". Sebelum itu, gue ngga pernah tau kalo beliau adalah sutradara dari film ini dan juga film gore sejuta umat, "Saw (2004)". So, yeah, dulu gue nggak ada rasa penasaran buat ngecek film yang satu ini. Ditambah nge-hype-nya film "Insidious Chapter 3 (2015)" belakangan ini, gue jadi merasa tertantang untuk seenggaknya ngejajal nonton film ini dari yang paling pertama dirilis. Yuk, simak review film Insidious (2010) berikut ini.

"Insidious (2010)" menceritakan tentang sebuah keluarga yang terdiri dari pasangan suami-istri, Josh Lambert (Patrick Wilson) dan Renai Lambert (Rose Byrne), yang memiliki tiga orang anak bernama Dalton (Ty Simpkins), Foster (Andrew Astor), dan seorang bayi perempuan. Mereka baru saja pindah ke rumah baru yang terlihat cukup besar dan nyaman. Di dalam rumah terdapat satu kamar khusus yang memiliki tangga langsung menuju loteng yang dijadikan gudang. Suatu ketika, Dalton yang bermain sendirian masuk ke dalam kamar tersebut dengan penuh rasa penasaran. Dia melihat sesuatu yang membuatnya menangis histeris dan terjatuh dari tangga kayu lapuk yang dia coba naiki. Tapi, hal yang aneh terjadi, ketika keesokan harinya, sang ayah menemukan Dalton dalam keadaan tertidur seperti koma. Disusul dengan munculnya berbagai penampakan hantu di rumah baru yang mereka tempati, mendorong mereka untuk pindah rumah lagi sebelum akhirnya menghubungi paranormal untuk mencari jawaban di balik kondisi aneh anak mereka.

Sebagai penggemar film "The Conjuring (2013)", dan ngecek film ini belakangan, gue ngga begitu ngasih ekspektasi lebay untuk film James Wan ini. Karena, ini kan dibuat beberapa tahun sebelum "The Conjuring (2013)", jadi udah sedikit mempersiapkan diri dengan kualitas isi yang mungkin disajikan dalam film ini. Dan, ternyata gue bener banget. Film ini nyaris bikin gue bete ngikutin ceritanya. Patrick Wilson dan Rose Byrne bener-bener nunjukin kualitas akting yang so-so sebagai pasangan suami-istri yang ngga begitu harmonis. Ditambah Ty Simpkins waktu masih kecil ternyata aktingnya belum sekeren di "Jurassic World (2015)" (yaiyalah!).

Sebenernya film ini berhasil ngasih first appeal ke penonton dengan menunjukkan adegan pembuka yang cukup creepy. Kamera perlahan-lahan bergerak menelusuri lorong dalem rumah, masuk ke suatu ruangan, dan menyorot penampakan nenek-nenek cantik yang nyengir pake kelambu #plak. But, karena gue nonton ini bukan di bioskop yang notabene layarnya jauh lebih lebar, jadi efek yang mengerikannya pun berkurang. Gue bisa liat dengan jelas make-up hantunya jadi bukan berasa liat hantu beneran, melainkan cuma seorang aktris yang lagi cosplay. Intinya, bagian terbaik ini cuma bakalan berefek baik kalo nonton di bioskop, which is udah ngga mungkin. Hiks.


Lewat posternya, gue sempet ngira kalo cerita ini bakal banyak drama mengenai suatu keluarga yang menghadapi anak satu-satunya kerasukan arwah jahat dan mulai memberi mimpi buruk kepada semuanya. Ternyata nggak. Posternya nipu! Ternyata, sekitar 80 menit awal film ini, sang anak cuma digambarkan sedang dalam kondisi koma, karena roh dalam tubuhnya lagi melanglang buana ke dunia astral. Terus alasan kenapa banyak hantu yang mengganggu keluarga itu, tak lain dan tak bukan adalah seperti pepatah, "di mana banyak lalat, di sana ada tahi kucingnya." Yep, para hantu berkumpul, saling rebutan tubuh "kosong" Dalton buat dirasukin. So, it's about how to prevent possession, not how to deal with someone possessed.

Ngomong-ngomong soal astral projection, begitu bagian ini pada akhirnya terungkap menjadi inti konflik utama film ini, mendadak film yang awalnya bermaksud horor, malah jadi sekelas kisah petualangan young-adult ke alam kematian. Hantu yang bermunculan semakin nggak serem, sebagian besar malah cuma manusia biasa aja bermuka pucat, pakai baju jaman dulu, make-up menor, terus nyengir rame-rame. Damn, soooo awful. Ditambah efek-efek kabut and asap di dalam rumah biar makin dramatis and berasa lagi di dunia lain. Dalam pikiran gue sih, "ini siapa yang bakar sampah dalem rumah? Ngebul banget asapnya. Haha."

Nah, ini setan muka merah yang katanya fenomenal. Apanya yang serem sih? (-_-)>

Intinya sih, seperti kebanyakan film horor yang lain, begitu sosok hantunya sudah sangat diperjelas, ditambah teori-teori yang mendorong kemunculannya, efek creepy langsung turun drastis, sayangnya untuk film ini, efek creepy bener-bener ilang menjelang ending, dan jadi terkesan seperti film fantasy. Well, gue ngga mau ngomongin soal ending yang cliffhanger, gue asumsikan semuanya happilly ever after deh ... di alam sana. #eh. Overall, ini bukan termasuk film yang harus dihindari, karena masih bisa jadi tontonan yang asyik bareng keluarga (asal jangan yang jantungan ya, soalnya di sini jumpscare-nya lumayan ngeselin, padahal mah hantunya kagak ada serem-seremnya).

NB: Rose Byrne kurus banget untuk berperan sebagai seorang ibu dengan tiga orang anak yang salah satunya masih baby. Walau ada aja sih cewek yang model begini (baca: susah gendut), tapi tetep aja. Sebenernya agak kurang enak dipandang. #plak.

Score: 7/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team