Review Film JURASSIC WORLD (2015)

"Jurassic World (2015)" movie review by Glen Tripollo
Gue inget banget kalo film "Jurassic Park (1993)" adalah film pertama yang gue tonton di bioskop. Waktu itu gue masih bcoah, dan terkagum-kagum banget sama penampakan para dinosaurus yang terasa bener-bener real. Sejak saat itu, film garapan Steven Spielberg tersebut jadi satu film spesial di dalam hidup gue (lebay!) dan ngga bakalan pernah bisa gue lupain.

Nah, kemarin gue bareng sama keluarga ngecek film yang satu ini. Steven Spielberg memang menyandang posisi executive producer, tapi gue sempet liat liputan behind the scene-nya yang menunjukkan kalo ternyata beliau terjun langsung juga ke arena shooting buat nge-direct sang director, Colin Trevorrow. Hasilnya? Karena gue pada awalnya nggak menaruh ekspektasi secara berlebihan terhadap film ini, gue bisa bilang kalo film ini memuaskan. Gimana maksudnya? Yuk, simak review film Jurassic World (2015) berikut ini.

"Jurassic World (2015)" berkisah dua puluh dua tahun sejak tragedi berdarah di Jurassic Park bikinan John Hammond. Kini pulau yang semula kacau itu udah berhasil disterilkan dan bahkan sebuah theme park sungguhan dengan teknologi yang sangat canggih sudah dibuat, dan didatangi oleh banyak pengunjung. Tokoh sentral dalam film ini adalah sepasang kakak-beradik, Zach (Nick Robinson) dan Gray (Ty Simpkins) yang dilepas orang tua mereka untuk berlibur ke Jurassic World. Kebetulan bibi mereka, Claire Dearing (Bryce Dallas Howard), adalah salah satu orang penting yang mengatur kinerja di theme park luar biasa itu. Karena ternyata si tante sibuk, akhirnya kakak-beradik ini dipersilahkan berkeliling theme park dengan tanda VIP sambil ditemani oleh asisten tantenya. Kakak-beradik ini unik, si kakak tipe pendiam yang lebih asik menyendiri dan ngga begitu suka keramaian, sementara sang adik lumayan hyper-active lari sana-sini kayak bola bekel somplak. Sementara itu, tante Claire menyambut Simon Masrani (Irffan Khan), yang merupakan pemilik theme park Jurassic World. Claire menunjukkan pada Simon kandang Indominus Rex, jenis dinosaurus yang murni hasil rekayasa genetika para ilmuwan, sehingga memiliki tubuh yang lebih besar daripada Tyrannosaurus Rex dan lebih cerdas daripada sekelompok Raptor. Simon tertarik, namun masih ragu perihal keamanan yang dimiliki theme park untuk menjaga agar Indominus Rex tidak lari dari tempatnya. Maka, dipanggillah seorang Raptor-trainer bernama Owen Grady (Chris Pratt) yang lewat mata jeli dan pengetahuan luasnya tentang dinosaurus langsung tahu kalau keberadaan Indominus Rex bakal membahayakan semua pengunjung. Claire ragu, tapi pada akhirnya kekhawatiran Owen pun terjadi juga ... kelanjutan ceritanya nanti silahkan cek sendiri filmnya yak.

Beautiful CGI and animatronix, setting theme park yang super niat!
Gue kayaknya nggak bakal terlalu mengupas plot cerita dalam review kali ini, karena sudah jelas semua orang tau inti kisah film ini seperti apa. Yang menjadi pusat perhatian adalah ikatan antar karakter-karakternya dan cara mereka survival dalam keadaan terpencar-pencar melawan dinosaurus paling ngaco dan paling gede sepanjang masa film ini dibuat. Sebagai gantinya, gue mau mengagumi penggunaan special effect yang sangat apik di film ini. Theme park-nya juga didesain dengan amat niat. Gue dibikin terhipnotis pengen datengin tempat luar biasa tersebut (tentunya, bila Indominus Rex nggak ada di sana). Sekitar 45 menit pertama penonton dimanja dengan penampakan berbagai wahana mutakhir. Mulai dari yang simpel, ensiklopedia dinosaurus dalam bentuk hologram di ruang utama sebelum menuju wahana-wahana lainnya menggunakan monorail. Yang lucu adalah ide adanya baby zoo di sana. Gue gemes banget ngeliat anak Triceratops ditunggangin gitu sama bocah-bocah. Wahana jalan-jalan pakai mobil bola kaca itu juga keren, menyaksikan langsung dari dekat para dinosaurus herbivora yang berkeliaran bebas, sayangnya bagian ini cuma disorot bentar banget karena langsung ditutup dengan konflik serem. Selanjutnya yang paling mencengangkan adalah pertunjukkan Mosasaur makan hiu di kolam raksasa. Berasa nonton pertunjukkan lumba-lumba di Ancol tapi dengan kadar keepikan 100 kali lipat. Intinya, ngga perlu mempertanyakan ataupun meragukan masalah CGI, semuanya apik dan luar biasa.

Entah perasaan gue aja, atau karena pemeran utamanya Chris Pratt, mendadak film ini jadi banyak sisipan komedinya.
Nggak peduli siapa Chris Pratt di dalam film ini, ngeliat tingkahnya, masih belum bisa lepas dari kekoplakan tokoh leader radikal, Star-Lord di "Guardians of the Galaxy (2014)". Selain itu, seinget gue dulu film "Jurassic Park (1993)" nyaris ngga menyisipkan komedi, bila dibandingkan dengan yang terbaru ini, rasanya bener-bener suatu hal yang fresh. Chris Pratt sebagai Owen Grady yang memakai intuisinya tentu menjadi musuh alami Claire Dearing yang merupakan cewek yang mengandalkan logika. Interaksi antara keduanya bikin ngakak, terlebih ketika pasangan absurd ini bertemu dengan kakak-beradik, Zach dan Gray. Komedi ringan asal nyablak yang bikin rileks. Well, not bad, karena disisipkan pada saat-saat yang tepat.

Adegan gore menurun drastis dibandingkan seri pendahulunya
Kalau nggak salah inget sih, film ini sedikit sekali menampilkan adegan manusia dicaplok sama dinosaurus. Dua adegan caplok di awal-awal tanpa menyajikan darah-darah yang bermuncratan, kemudian ada satu yang paling epik karena dibuat super duper menderita, walau tetep aja nggak ada darah yang termuncrat-muncrat. Sepertinya adegan gore ditekan sedemikian rupa supaya bisa menyaring lebih banyak lagi penonton anak-anak. Sungguh beda dengan seri pendahulunya yang bahkan ada adegan dinosaurus rebutan mangsa sampai diperlihatkan tubuh manusia hidup yang terbelah jadi dua di dalam jepitan mulut dinosaurus. Elemen tegang yang dibangun sepanjang film mengandalkan sudut pandang kamera dan juga suasana sunyi tanpa backsound apa pun ketika adegan seram akan terjadi. Sebenernya perubahan format yang bener-bener drastis ini nggak berpengaruh banyak kok sama keseruan film.

Final battle yang jadi berkesan kayak film-film monster raksasa: Pacific Rim (2013) dan Godzilla (2014)
Yup, nggak ada yang bisa gue komentarin mengenai final battle-nya yang malahan jadi mainstream film-film monster raksasa yang baru-baru ini booming. Tentunya, Indominus Rex vs Tyrannosaurus Rex yang berduet dengan seekor Raptor bukan lagi spoiler karena udah banyak ditongolin dalam teaser promo-nya. Kalian bakal liat dua icon franchise Jurassic Park berduet mengalahkan makhluk absurd yang lebih besar dari mereka. Jangan kaget dengan hasil akhirnya.

Kesimpulannya, film ini bener-bener film yang seru dan fun banget buat dinikmatin bareng-bareng sama keluarga. Ngga ada adegan yang berlebihan hingga membuat anak-anak wajib menutup mata. Ngga. Sangat aman. Ada joke ringan yang mengarah pada hal-hal erotis, tapi gue ragu anak-anak ngerti maksudnya, jadi tenang aja. Di antara dua sequel pendahulunya, film ini punya kesan suasana dan nuansa yang nyaris mirip dengan nuansa dan suasana yang dibangun di film perdananya. Mungkin karena campur tangan Steven Spielberg cukup banyak di sini.


Satu hal yang pasti, film ini melupakan keberadaan "The Lost World: Jurassic Park (1997)" dan "Jurassic Park 3 (2001)". Anggap dua film itu nggak pernah ada, dan kalian bakal nyaman banget ngikutin film ini tanpa mesti banyak protes. Oh ya, ada adegan yang membawa kembali para tokoh utama ke reruntuhan bangunan Jurassic Park ala John Hammond dan mobil-mobil dengan logo lama yang ngangenin.

NB: Claire Dearing, why u so cute? >_< Entah apanya gitu yang bikin Claire kayak versi dewasanya Chloe Grace Moretz.

Most favorite scene:
Terlalu banyak. Tapi kalau disuruh pilih satu, maka adegan ketika seseorang dibawa terbang sama Pteranodon, dilempar ke air, ditangkap lagi, dilempar lagi, sampai akhirnya dicaplok Mosasaurus. Puas banget liatnya. Faaaaak~!

Score: 8,8/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

6 komentar:

  1. Good review bro..menurut saya kena bngt suasana nostalgianya dari jurassic park,tapi dibalut dengan suasana yg berbeda...walaupun saya sebagai penonton generasi 90an rada berharap adanya adegan kejar2an &suasana dimana manusia bener2 ga berdaya dan harus survive mati2an dari para dinosaurus kayak movie pertamanya, tapi sepertinya jurassic world ini ditujukan ke penonton usia yg lebih muda dengan mengurangi adegan berdarah2 & menambah unsur komedi walaupun suasana di filem lagi tegang (mungkin ngikutin selera pasar y..soalnya marvel cinematic universe sukses dengan unsur komedinya yg cukup kental) ..overall good movie

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arigato bro... dan gue juga setuju sama pemikirannya. Bisa jadi ngubah format dikit karena ngikut selera pasar. Apapun itu, yang terpenting nuansa JP-nya nggak ilang, dan berasa lebih fresh. Terus jadi bisa dinikmatin puas bareng keluarga tanpa pandang umur. :)

      Hapus
  2. Lu sukses bikin gue pengin nonton filmnya, bro. But, itu dia. Guekurang ikutin film2 Jurassic. Cuma hobi maenin game PS nya. Hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, tenang aja, ngga perlu ikutin film-film sebelumnya untuk dapetin fun di film ini. :)
      Terlebih udah gue kasih tau tuh, kalo film ini bener-bener melupakan JP 2 and JP 3 dari timeline-nya. Cuma JP 1 kemudian 22 tahun kemudian. :)

      Hapus
  3. Bakalan ada sekuel ga ya?
    Iya deh, gegara ada Chris Pratt, jadi rada kocak :3
    Nice review beidewei^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo gue sih lebih berharap semoga sequelnya ngga ada. Soalnya udah bingung mau nyeritain apa lagi, terus kalo dipaksain jadi klise, takutnya jadi ngebosenin. :3

      Thanks for read~ :D

      Hapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team