Review Film MAD MAX 2: THE ROAD WARRIOR (1981)

"Mad Max 2: The Road Warrior (1981)" movie review by Glen Tripollo
Max Rockatansky a.k.a Mad Max beraksi kembali! Kali ini setting-nya udah jeda (entah beberapa lama) sejak kejadian di seri pendahulunya. Nah, kalo belum nonton film pertamanya, ada baiknya cek dulu review film Mad Max (1979) kemarin yak!

For a side note, the story thus far: Max yang sebelumnya merupakan anggota MFP (Main Force Patrol) yang bekerja menjaga keamanan di jalan-jalan kota, mengalami kejadian pahit. Partner dan keluarganya habis dibunuh oleh gerombolan geng bermotor, dan somehow Max menggila dan membalas dendam kepada para pelakunya yang notabene adalah sekelompok gangster bermotor..Terus, dia berhasil. Yes! Tapi, gegara depresi dan merasa ngga ada artinya lagi dia tetep berdiam diri sendirian di kotanya, akhirnya dia pergi berkelana tanpa arah. Seenggaknya, film pertama membahas sampai sana aja, terus berlanjut ke sequel-nya. Yuk, sekarang kita simak review film "Mad Max 2: The Road Warrior (1981)" berikut ini.

"Mad Max 2: The Road Warrior melanjutkan petualangan Max sejak dirinya pergi meninggalkan kota dan berkelana di area wasteland (area tandus dan panas) yang sangat luas. Suatu ketika, Max yang sedang berburu bahan bakar cadangan bertemu dengan Jedediah a.k.a. Gyro Captain (Bruce Spence), yang biasanya mengendarai helikopter mini namun sedang kehabisan bahan bakar. Pertemuan keduanya mendorong Max dan Jedediah menemukan kilang minyak yang telah dihuni oleh suatu komunitas. Lewat teropong, Max mengamati keadaan kilang minyak yang ternyata sering sekali disambangi sama sekelompok gangster yang berusaha merebut kilang minyak tersebut. Kejadian makin parah ketika beberapa orang dari komunitas tersebut keluar dari kilang untuk mencari bahan makanan, di tengah jalan mereka dihentikan sama anggota gangster, direbut bahan bakarnya, diperkosa, dan dihajar habis-habisan (adegan pemerkosaannya cukup jelas terlihat lewat sorotan teropong Max). Berusaha memanfaatkan keadaan (untuk mendapatkan bahan bakar), Max menolong korban demi ditukar dengan beberapa galon bahan bakar. Namun, rencana berubah ketika dirinya harus terlibat langsung bersama anggota komunitas menghadapi gangster yang kini telah kehabisan sabar.


Peningkatan dalam segala aspek bila dibandingkan dengan film perdananya.
Berbeda dari film pertamanya yang ber-budget rendah, film sequel ini diboyong oleh Warner Bros. Studio. Bahkan menurut kabar yang beredar, "Mad Max (1979)" menjadi terkenal justru setelah sequel-nya ini dirilis. Peningkatan modal produksi bener-bener berhasil mengangkat tema Mad Max yang sederhana menjadi luar biasa. Misalnya, peningkatan plot, efek-efek khusus, dan jumlah kendaraan yang dihancurkan. Menjadikan film kedua ini seolah berada pada tingkatan yang benar-benar berbeda dengan versi pendahulunya.

Saking berbedanya kualitas yang ditawarkan dalam seri keduanya ini, gue ngerasa seperti nonton film dengan installment baru. terlihat dari setting dunianya. Bila di "Mad Max (1979)", wasteland belum benar-benar terasa karena masih banyak area hijau di daerah kota, kini pepohonan sudah sangat jarang ditemukan, kecuali tanaman-tanaman khas gurun. Nyaris ngga bakal ngerti kondisi di "Mad Max (1979)" kalau bukan karena ada penjelasan singkat di bagian awal film "Mad Max 2: The Road Warrior (1981)" ini mengenai latar belakang dunianya, gue gak bakal tau di mana letak hubungan setting di sana dengan di sini.


Sebenarnya di sini pun sama, Max masih terlihat bodoh.
Nggak ada yang paling bikin gue kesel selain sifat Max yang di satu sisi keliatan cool dan cerdas, tapi di sisi lain begonya bisa dibilang kebangetan. Terlebih dengan sikap keras kepalanya, bukan pada saat berusaha membombardir musuh, tapi keras kepala dengan tindakannya yang sok tahu. Udah jelas-jelas gangster lagi ngepung daerah kilang minyak, Max diminta tinggal untuk berjuang sama-sama, dia nggak mau, malah memutuskan untuk pergi sendirian pakai mobil ke arah di mana para gangster berada (bukan, tujuannya bukan buat ngobrak-ngabrik lawan sendirian, tapi dia bener-bener pengen pergi dari sana.). GEBLEK! Emang jadinya pas juga sih sama sebutannya MAD MAX. :)) Yah, di bagian sini udah ketebak banget akibat dari kebegoannya, dia diserang dan BOOM! dia telah membuat beberapa galon bahan bakar meledug, habis terbakar begitu saja. Padahal udah tau di jaman itu bahan bakar jadi satu komoditi paling dicari bahkan sampai nyawa menjadi taruhannya. Mungkin, scene yang terkesan cukup dipaksakan itu sengaja dibuat sama George Miller demi menciptakan alasan untuk melakukan ... (baca poin selanjutnya!)

Adegan ledakan dahsyat.
Nah, salah satu keunggulan dari "Mad Max 2: The Road Warrior (1981)" dibandingkan film pertamanya adalah lebih banyak ledakan dahsyat. Mobil meledak, mobil terbakar, kilang minyak meledak, dan sebagainya. Keren sih, untuk sebuah film yang diproduksi pada tahunnya, efek-efek spesial ini bener-bener terlihat hidup dan badass banget.


Desain kostum yang agak nyeleneh.
Siapa pun yang merancang kostum dalam film ini, gue perlu acungin jempol karena desainnya sungguh sesuatu. Temanya jelas, S&M. Semua anggota gangster dibikin menggunakan style pakaian ala S&M yang bercampur Punk Culture. Rantai-rantai di badan, baju yang cuma pake celana dalem doang, atau baju ketat berbahan kulit dan latex yang sengaja banget malah bolong di bagian dada sama perut. Mending kalau yang pakai cewek, ini yang pakai cowok, dan sukses bikin gue lumayan sakit mata liatnya. Ditambah ada semacam bait bagi para fujo di luar sana. Lengkap sudah, penampilan para penjahat di film ini bener-bener bikin gue jadi muak. Setting wasteland ini ceritanya kan di masa depan, dan penggambaran para kru mengenai masa depan ternyata para manusianya malah kembali ke jaman Gladiator. Oke, cukup tau aja. :))

Ada tokoh anak-anak lebay kayak Tarzan di sini. Anak kecil yang liar tumbuh di tengah-tengah komunitas yang terlihat beradab, agak sulit mencernanya. Apakah orang-orang komunitas itu bener-bener membiarkan begitu aja seorang anak yatim-piatu tumbuh kayak binatang? Kalo si anak tumbuh di tengah-tengah kelompok gangster, mungkin masih masuk akal. Lebih bikin mata gue membelalak lagi pas tau kalo ternyata anak ini jago banget lempar-lemparan boomerang. Walau begitu, akting anak yang satu ini patut diacungin jempol. Bahkan Mel Gibson kalah sama dia dalam segi aktingnya.


More gore than the first movie.
Tampaknya, George Miller memutuskan untuk tidak terlalu peduli pada censorship dan membuat beberapa adegan di film keduanya ini lebih banyak menampilkan adegan berdarah. Sebut aja boomerang yang dilempar dan dengan jelas diperlihatkan menancap dalam di kepala musuh hingga mati seketika. Kepalanya terbelah dikit sampai terlihat bagian dalam otaknya. Masih agak kaku sih sorotan kameranya, namun efek ngagetin dan sadis sudah lebih berasa. Menjadikan film kedua dari "Mad Max trilogi" ini lebih keras dan banyak unsur dewasanya.

Sinematografi yang lebih rapi.
Yang ini udah jelas karena faktor dukungan dari studio sebesar Warner Bros. George Miller pasti dapet banyak dana untuk menggunakan berbagai macam alat yang mendukung pengambilan gambar sulit dengan sangat sempurna. Yang menjadi kekuatan dalam hal sinematografinya adalah pada adegan kejar-kejaran truk tangki bahan bakar dengan para gangster yang kendaraannya beraneka ragam bentuk. Memang ada beberapa goofs yang terjadi selama penggambaran adegan aksinya, tapi karena semua berlangsung dengan cepat, gue rasa bukan suatu masalah yang besar dan masih bisa dinikmati. Adegan zoom in zoom out bak sinetron lokal yang dipakai dalam film pertamanya udah nggak dipakai lagi di sini.


Film ini jelas, walaupun rilis sejak lama, masih sangat bisa dinikmati. Kekurangannya mungkin berada pada sisi karakternya sendiri, di mana Mel Gibson masih kurang cukup baik dalam berakting, ditambah bond antara dirinya dengan anggota komunitas di kilang minyak masih kurang terbangun, jadi berasa hambar dan minim simpati.

My Most Favorite Scene:
Adegan ketika Max mengambil mobil container dan hendak membawanya kembali ke kilang minyak. Serbuan dari gangster dan cara Max berkelit dari mereka sangat seru untuk disaksikan. Selanjutnya, adalah final battle yang hancur-hancuran di atas kendaraan berat yang bergerak cepat.

Score: 7,9/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team