Review Film RIDE ALONG (2014)

"Ride Along (2014)" movire review by Glen Tripollo
Buat ngobatin kekecewaan gue telat nonton "Spy (2015)" di bioskop, gue ngoprek-ngoprek film crime-comedy dari tahun ke tahun. Dan film keluaran tahun 2014 ini cukup menarik perhatian gue selain "The Heat (2013)" dan "The Other Guys (2010)". So, gue putuskan buat ngecek film ini selepas Tarawih kemaren. Yuk, simak review film Ride Along (2014) ala gue berikut ini.

"Ride Along (2014)" bercerita tentang Ben Barber (Kevin Hart) yang bekerja sebagai security cupu-namun-mampu-menginspirasi di sebuah sekolah, seorang gamer, dan berpacaran dengan Angela Payton (Tika Sumpter) seorang cewek seksi dan tinggi yang merupakan adik dari seorang police officer bermuka galak, James Payton (Ice Cube). Berniat meminta restu dari James untuk menikahi Angela, Ben berusaha agar dirinya bisa diterima di Akademi Kepolisian dan mengubah pandangan James terhadap dirinya. Undangan masuk Akademi Kepolisian pun diterima oleh Ben, yang langsung disambut nyinyir oleh James. James yang sebetulnya nggak suka sama Ben, akhirnya mengajak Ben ikut berpatroli bersamanya untuk menunjukkan bahwa hanya cowok-cowok macho nan pemberani aja yang mampu menjadi polisi handal. Di saat yang hampir bersamaan, sebenarnya James sedang memburu seorang gembong penjual senjata ilegal bernama Omar (Laurence Fishburne). Di sela-sela penyelidikannya, James melancarkan misi bohong-bohongan bersama teman-teman polisinya untuk bikin kapok Ben, tanpa disadari perlahan tapi pasti, petualangan kocak mereka justru mengarah pada Omar.

Film komedi ini dibuka dengan adegan yang cukup serius-tapi-koplak, ketika James melakukan penyamaran sebagai pembeli senjata ilegal dari seorang mafia Serbia. Ujungnya doi dan timnya ketahuan dan berakhir dengan adegan kejar-kejaran mobil di jalan raya yang ramai. Di sini, adegan dibuka dengan grande, adegan tabrakan, mobil terbakar terus meledak, dan mobil-mobil yang terlempar sampai terguling-guling itu bener-bener wow. Nggak kalah kualitasnya sama "Fast & Furious 7 (2015)". Bagaikan makan di restoran, appetizer-nya bener-bener membangkitkan rasa penasaran dan ketagihan ngelanjutin nonton.

Feel seru di awal langsung berubah pas berganti ke adegan Ben Barber yang lagi asik main game online first-person shooter di XBox-nya sambil teriak-teriak lebay sama temen-temen gamer-nya lewat headphone yang dia pakai. Sekali liat aja, penonton langsung paham karakter Ben Barber seperti apa. Seorang gamer pengkhayal yang merasa apa pun di dunia nyata itu bisa dia lakuin dengan mudah layaknya di dalam game. Yeah, motivasi utama Ben waktu bilang mau berusaha jadi polisi pun berdasarkan anggapannya tersebut, nggak bakal sulit karena dia jago di game online. What a great way of thinking? :)) Satu hal yang pasti dan paling menyebalkan adalah, Ben cerewetnya bukan main.

Annoying character udah biasa dan banyak diangkat dalam sebuah film komedi. Contohnya yang paling terkenal adalah "Johnny English (2003)", tapi karakter Ben Barber di sini bener-bener beda, doi menyebalkan karena pemula dan bawelnya nggak ketulungan. Tapi, di satu sisi, gue jadi terkagum-kagum sama Kevin Hart yang berhasil menghidupkan karakter ini. Just how long his dialog part is? Dia bisa nelen semuanya dengan perfect, seolah-olah Ben Barber adalah diri dia yang sebenarnya. Di satu sisi, James Payton punya muka yang selalu datar dan serius nggak disangka-sangka punya kesabaran yang tinggi menghadapi ocehan sok tahu Ben. Terus, nggak disangka juga, karena Ben penggila game perang, secara menakjubkan pengetahuan dia soal senjata bener-bener di atas rata-rata, hanya saja masih bego kalo disuruh nembak beneran. Kebawelannya sering mencengangkan, sampai-sampai penjahat yang berhadapan sama dia jadi ragu-ragu mau nyerang dia. Lebih kocak lagi kalo udah terjebak dalam baku tembak, Ben langsung menganggap sebagai sebuah permainan.

So, apakah pada akhirnya Ben berhasil menunjukkan kemampuannya dan membuat kagum James sehingga dia mau merestui hubungan Ben dengan adiknya? You tell me~ udah ketebak yak kayaknya? Emang premisnya agak klise sih sebenernya. Tapi, cara penyajiannya itu yang bikin film ini luar biasa. Oh ya, gue peringatkan juga, walaupun film ini komedi, lawakannya fresh, dan tergolong ringan sehingga nggak masalah untuk ditonton sama berbagai kalangan. Satu lagi, mungkin kalian mendingan cek sendiri film ini, karena ternyata diam-diam film ini punya banyak sekali twist yang agak mindfuck, tapi tetep logis sekalipun cara mikir Ben Barbernya sering nggak logis. LOL.

Emang sih ngga semantap "Rush Hour (1998)", but I was happy watching this movie~! Have a try, and you will not regret it!

NB: Ada middle-credit scene yang lebay tapi bikin ngakak. Jadi jangan langsung matiin DVD player kamu begitu lagu ending-nya dimulai. Terus juga, backsound di film ini lumayan asyik.

Score: 7,8/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team