Review Film THE GIVER (2014)

"The Giver (2014)" movie review by Glen Tripollo
Gue udah lama nonton film ini. Waktu itu sempet ngecek juga di bioskop, tapi karena nggak terlalu menyimak, akhirnya gue tonton ulang di versi "gratisan"-nya.

Sebenernya, film ini menggunakan beberapa muslihat untuk menjaring penonton, terutama mereka yang belum pernah tau novelnya seperti gue. Pertama, mereka menggunakan foto Taylor Swift di poster film, instead of Odeya Rush yang jelas-jelas merupakan karakter pendukung utama bagi Brenton Thwaites. Hanya karena Odeya adalah aktris pendatang baru dan nama Brenton Thwaites juga belum terlalu melejit setelah dirinya memainkan peran adik dalam horror-flick "Oculus (2014)". Memunculkan Taylor Swift yang jelas-jelas banyak fans-nya merupakan taktik jitu untuk menipu calon penonton. Damn, yeah, gue termasuk yang kena tipu. Too bad, pengurangan nilai langsung gue lakuin di pembukaan review.

Kedua, ada tulisan "based on the acclaimed best-seller", yang menjadi daya tarik kedua film ini. Oh, film ini diangkat dari sebuah novel best-seller, which means 70% kemungkinan film ini bakal menjanjikan. Yah, okelah yah, sampai di sini sebenernya gue juga agak sangsi, berhubung pernah ada kasus "tempelan ilegal" pada suatu karya yang menyatakan diri sebagai best-seller.

Ketiga, trailer filmnya asli well-made, memberikan kesan seru dan mengindikasikan adegan yang penuh dengan tekanan. Menurut gue, ketiga langkah yang dipakai para marketer "The Giver" ini terbilang cukup berhasil. Tapi, bagaimana dengan kualitas filmnya sendiri? Untuk itu, ikutin terus, yuk, review film The Giver (2014) berikut ini.

"The Giver" diangkat dari sebuah novel tetralogi menceritakan tentang suatu masa di mana segalanya tampak baik-baik saja dan sempurna bagaikan Utopia. Dunia tempat tinggal mereka memiliki tiga aturan dasar yang tidak boleh dilanggar oleh anggota komunitasnya apa pun alasannya, yaitu: menggunakan bahasa yang benar ketika berbicara dengan siapa pun, memakai pakaian yang sesuai dengan aturan (yang mana bajunya ini jadi mirip seragam), dan nggak boleh berkata berbohong. Setiap pagi, semua orang harus menginjeksi dirinya dengan obat khusus yang katanya punya fungsi menjaga kesehatan tubuh, padahal ada sesuatu yang disembunyikan oleh para petinggi mengenai fungsi sesungguhnya dari injeksi tersebut. Semua penduduk dianggap setara, tidak bersikap rasis karena apa yang mereka lihat semuanya hanya hitam dan putih, damai, sekaligus juga sangat kaku. Setiap remaja di dalam komunitas nantinya akan disaring ke dalam profesi-profesi khusus sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Nah, kebetulan pada saat pembagian tersebut, Jonas ngga termasuk ke dalam profesi manapun, dan dianggap cocok untuk menjadi seorang Receiver, sebutan untuk mereka yang akan mewarisi segala memori seorang The Giver. Hingga akhirnya, perlahan tapi pasti, Jonas mempelajari memori masa lalu umat manusia dan menyadari ada hal yang tidak beres di komunitas yang selama ini ditinggalinya, termasuk berbagai rahasia kejam di balik Utopia, dia melakukan sesuatu untuk memperbaikinya.


Sebagian adegan film ini dibuat dalam format hitam-putih
Sesuai dengan penggambaran penglihatan orang-orang yang hidup di dalam komunitas, mereka tidak mengenal warna-warni dunia, hanya hitam dan putih, membuat mereka semua seolah sama, tak ada perbedaan gaya berpakaian, warna kulit, warna mata, warna rambut, dan seterusnya. Well, yeah, mau nggak mau penonton disuruh untuk ikut merasakan bagaimana menjadi anggota komunitas. Sebagian besar adegan jadi berasa kayak balik lagi ke jaman jadul, di mana pada saat itu, film-film memang masih dirilis dalam format hitam-putih. Bedanya, karena teknologi lebih canggih, banyak adegan yang bisa gue bilang patut diacungin jempol dari sisi sinematografinya. Ketika akhirnya suatu kejadian dalam film membuat Jonas mampu melihat warna-warni dunia, bagaikan lagi panas-panas disiram air es, seger banget rasanya ngeliat peralihan hitam-putih jadi colorful. Berasa baru sembuh dari buta warna.


Bagaimana dengan plot cerita?
Gue baca-baca di beberapa sumber kalo katanya versi movie ini sedikit mengubah isi dari cerita aslinya di novel karya Lois Lowry. Gue ngga tau dan belum sempet ngecek novelnya langsung. Tapi, yang jelas ada dua akibat dari tindakan begini; pertama, film akan menjadi lebih menarik disimak daripada novelnya, kedua, bisa jadi malah menjatuhkan kualitas dan membuat orang-orang yang belum baca novelnya jadi bener-bener nggak tertarik baca novelnya. Khusus bagi gue, gue sendiri termasuk yang nggak tertarik baca novelnya setelah nonton filmnya. Bukan apa-apa sih, hanya saja cara penyampaian di film yang (katanya) udah dibuat sedemikian rupa biar jadi lebih seru, nggak begitu memberikan efek buat gue.

"The Giver" berbeda dengan cerita-cerita young adult pada umumnya. Walaupun tokoh utamanya remaja, film ini membawakan inti kisah yang cukup berat dan kaya akan nilai-nilai filosofis serta kemanusiaan. Kind of boring indeed. Mungkin ini juga yang bikin gue nggak begitu menyimak waktu nonton di bioskop. Intinya konflik yang diangkat di film ini bukan model pop yang bakal disukai sama kebanyakan orang. Sebagian besar adegan diisi dengan dialog dan pemikiran-pemikiran berat, diselingi dengan adegan flashback yang menampilkan Taylor Swift di sana, lumayanlah buat penyegaran.


Special effect yang minimalis dan alur cerita yang slow-pace
Satu hal yang cukup disayangkan, film ini nyaris bikin penonton struggling bertahan untuk terus nonton tanpa berasa ngantuk. Waktu di bioskop, gue nggak fokus, waktu nonton versi "gratisan"-nya pun gue sering banget mainin button play/pause. Slow pace dalam penyampaian awal cerita dan penggalian karakter yang menurut gue agak sia-sia, karena engagement penonton terhadap para karakternya pun masih kurang ngena. Terus tiba-tiba aja menjelang ending, pace jadi terasa super-cepat seolah-olah si sutradara udah nggak sabar pengen mengakhiri film yang sedang digarapnya.


So, kesimpulannya?
Gue ngga bisa menyebut kalo film ini 100% jelek, karena seenggaknya gue suka sama isi cerita yang dicoba digali sama si pengarang di film ini. Nilai filosofis tinggi, sedikit membuka mata penonton dan berkaca mengenai keadaan dunia yang kita tinggali ini. Ada pesan moral dan pendidikan di sini, tapi tidak berkesan menggurui. Kekurangan yang terdapat dalam film ini adalah penyampaian yang biasa-biasa aja, cenderung datar, bikin ngantuk, dan membosankan. Gue penikmat film-film slow pace yang banyak ngomong, cuma untuk yang satu ini, gue cukup nyerah. Novelnya berupa tetralogi, dan gue harap sequel dari film ini tidak akan pernah dibuat. Just this one, is more than enough. Ending yang agak menggantung pun menjadi pengurangan nilai. Ibarat mau terbang, udah berasa bakal terbang tinggi, nggak taunya cuma beberapa senti doang melayang di atas tanah.

Nah, bagi kalian yang belum nonton dan tetep penasaran, silakan aja nonton. Untuk rating penonton, film ini aman kok ditonton sama segala umur, namun tetap dalam bimbingan orangtua, ya! :)

NB: Taylor Swift cuma nongol lima menit kalo ditotal. Jadi, jangan sampe ketipu nonton ini karena mengincar penampilan doi di sini. Terus juga, nama aktor dan aktris ternama seperti Jeff Bridges dan Meryl Streep sama sekali bukan jaminan film ini bakal jadi luar biasa. Toh, kualitas akting mereka di sini juga nggak menonjol.

Score: 5/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

1 komentar:

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team