[18+] Review Film TOKYO TRIBE (2014)

TOKYO TRIBE (2014) movie review by Glen Tripollo
Pertama ngeliat film ini, gue cuma bisa terperangah, karena bagi gue film dengan format seperti ini baru pertama kali gue tonton. Film "Tokyo Tribe (2014)" garapan sutradara Sion Sono yang diangkat dari manga karya Santa Inoue ini punya banyak daya tarik yang bikin penonton jadi penasaran dan terkagum-kagum melihatnya. Tapi, Guys, perlu gue kasih tau kalo film ini merupakan film yang kaya akan elemen-elemen dewasa, dari mulai penampakan cewek-cewek telanjang, penggunaan bahasa yang kasar tanpa sensor, dan juga adegan kekerasan yang nggak terhitung jumlahnya. So, kalo kamu belum berumur 18 tahun, mendingan jangan nonton film ini ya! (Walau pada akhirnya, semua tergantung tanggung jawab diri masing-masing sih). Nah, seperti apa sih sebenernya film yang gue bilang unik dan kreatif ini? Untuk mengetahuinya, yuk lanjut terus baca review film TOKYO TRIBE (2014) ala gue berikut ini.

TOKYO TRIBE (2014) mengambil setting kota Tokyo di suatu zaman, ketika kota tersebut terbagi ke dalam beberapa teritori yang masing-masing dikuasai oleh gangster yang juga memiliki bisnis gelap masing-masing, seperti rumah bordil, diskotik, atau sekedar wadah para preman berkumpul dan mengintimidasi mereka yang lemah. Inti dari film ini sebenernya amat sederhana, yaitu perang antar gank yang dipicu oleh seorang bandit kelas atas bernama Buppa yang berniat menguasai seluruh Tokyo.

Sebenernya inti cerita film ini terlalu sederhana, cuma beberapa gank yang karena dipicu oleh suatu hal, jadi berperang memperebutkan wilayah kekuasaan. Di tengah-tengahnya diselipkan beberapa konflik-konflik kecil sebagai pemanis plot. Sedikit banyak tema tawuran begini bikin gue teringat sama film "Crows Zero (2007)" dan "Crows Zero II (2009)". Yang membedakan adalah area konflik dan format penyajiannya. Kalo kedua film itu berfokus pada kehidupan tawuran antar pelajar SMA, yang ini lebih luas lagi, yakni seluruh Tokyo ditambah dengan muatan-muatan yang jauh lebih dewasa.


Apa yang unik dari film ini?
Ada beberapa hal yang gue bilang unik maksimal. Pertama adalah isi film yang sebagian besar narasinya disampaikan dengan cara nge-rap sambil diiringin musik-musik techno yang asik buat dijadiin temen goyang. Jadi, ada aktor bernama Sometani Shota yang berperan sebagai narator di sini. Ke mana kamera bergerak, dia ikut berada di sana, berinteraksi dengan tokoh-tokoh di adegan tersebut, sambil nge-rap memperkenalkan satu per satu dan menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana kepada para penonton. Yep, ini praktik Breaking the 4th Wall yang menurut gue dieksekusi dengan apik.

Hal unik selanjutnya adalah, kalo kalian pernah nonton film seri "Marvel's Daredevil (2015)" di channel Netflix, terutama episode 2, ada adegan battle di dalam lorong yang proses pembuatannya itu di-take secara continuously tanpa cut dengan panjang adegan sekitar 5 menit. Banyak penonton yang menyatakan kalo satu adegan itu bener-bener terkesan epik dan luar biasa. Nah, di film "Tokyo Tribe (2014)" ini, sebagian besar adegan diambil dengan cara yang sama, continuously dengan durasi yang cukup panjang dan melibatkan banyak sekali orang. Ini, bagi gue, bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Butuh kematangan konsep dan koreografi, serta profesionalisme yang tinggi dari para aktor yang terlibat di dalamnya. Belum lagi masalah tata gerak kamera. Walaupun film ini terkesan B Movie dengan sedikit mengarah pada sexploitation selain berfokus pada action-nya sendiri, film ini terlihat banget digarap dengan niat yang sangat tinggi. (Sebagian besar pemeran wanitanya juga JAV idols).

Salah satu adegan yang paling ngga bisa gue lupain adalah kekonyolan seorang cewek beatboxer ketika menyajikan teh kepada Buppa, mukanya konyol, tampang anak SMA, dan beatbox-nya sebenernya berasa ada yang hambar di beberapa bagian. Tapi, kamera terus merekam tanpa cut, doi jalan muter-muter sampai akhirnya disuruh diam sama Buppa. Adegan selanjutnya yang menampilkan cewek yang sama adalah ketika doi jadi pengiring seorang wanita penyanyi opera. Antara norak tapi juga epik, gue ambil kesimpulan kalo ini unik banget.

Dari segi kostum para pemainnya, beberapa ada yang style hip-hop biasa (gank Shibuya Saru, Musashino Saru, Nerimuthafuckaz, dan Waru), beberapa ada yang sangat surealis, pakai helm zirah Samurai sambil bawa-bawa baseball bat bercucuk, belum lagi ada tank yang dihias jadi bling-bling (gank Shinjuku Hands), dan juga penampilan para cewek dalam balutan baju mistress ala S&M fetish (gank Giragira Girls). Karakter yang terlibat di sini bener-bener menarik dan nyentrik. Tentu aja tokoh protagonis utamanya yang bernama Kai dari gank Musashino Saru memiliki penampilan yang paling biasa dan terkesan cemen. Tipikal manga banget deh. Intinya gue nonton ini yang merupakan film live-action, tapi nuansa dalam manga-nya terasa kental.


Bonus keunikan film ini berada pada tokoh DJ nenek-nenek yang pertama muncul di awal kisah, mengiringi sang narator nge-rap, dan kemudian muncul beberapa kali di setiap selingan adegan. Koplak parah. Gue ngga bisa berenti ngakak ngeliat nenek-nenek yang bener-bener gaul banget, bergaya di depan DJ Table sambil pakai headphone MixStyle warna pink dan pakai kacamata item. Nggak lupa juga apron dekil yang melapisi baju batiknya.

Selain yang gue sebutin, sebenernya ada lebih banyak lagi keunikan yang dimiliki film ini, tapi biar lebih seru mendingan cek sendiri aja yak filmnya. Kesimpulan yang bisa gue kasih soal film ini adalah, film ini sebenernya nggak punya bobot dalam hal cerita, cuma sekedar gangster yang berperang dan diselingi bumbu-bumbu konflik persahabatan. Ada banyak adegan berdarah dan sadis, kebanyakan dilakukan sama tokoh Buppa sih, selebihnya ada banyak adegan yang menampilkan female nudity, misalnya aja adegan perkenalan anak Buppa yang bernama Nncoi, yang punya kebiasaan menjadikan tawanannya sebagai patung hiasan di dalam kamar merahnya. Selain itu, protagonis ceweknya juga sempat pamer "aset". Adegan polisi wanita di awal cerita yang sok-sokan mau nangkep Mera sang pemimpin Bokuro Wu-Ronz pas doi lagi jualan narkoba, malah berujung dilecehkan sampe topless di depan orang banyak pas lagi ujan. Tapi, adegan ini jadi terkesan penting karena Mera menjelaskan sebagian besar pembagian teritori gangster di Tokyo itu pada bagian ini.

Ini nih nenek-nenek DJ yang gue maksud. :))

So, buat kalian yang mau ngecek film ini (selain pastikan dulu umurnya udah sesuai), gue bisa jamin kalo film ini sangat menarik untuk dinikmati. Kekurangan dari film ini mungkin ada pada beberapa karakter yang gue rasa masih kurang nendang aktingnya (maklum kan sebagian pemain emang sekedar musisi yang ngga pernah main film sebelumnya) dan juga penggunaan efek CGI yang keliatan banget boongannya. Tapi, yang ini gue nggak tau juga sih, mungkin sengaja seperti itu dengan harapan menggali sisi konyol dari film "keras" ini.

Score: 7,7/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team