Review Film COMIC 8: CASINO KINGS PART 1 (2015)

"Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015)" movie review by Glen Tripollo
Sejujurnya, gue baru nonton sekilas doang film "Comic 8 (2014)" di DVD, tapi seenggaknya gue masih dapet kok poin-poin penting yang berhubungan dengan sequel-nya ini. Nah, kalo masih penasaran sama film sebelumnya, kamu bisa baca review film "Comic 8 (2014)" bikinan Wildan Hariz. Kalo udah, sok monggo kita lanjutkan pembahasan kita. Simak review film Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015) berikut ini.

"Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015)" masih menceritakan tentang sekelompok pelawak stand-up comedy yang bekerja sama sebagai agen pembela kebenaran (sekitar 8 bulan sejak kejadian di "Comic 8 (2014)"). Dikepalai oleh Indro Warkop, kelompok yang selalu berjumlah genap delapan orang ini menjalani misi mencari keberadaan orang misterius yang dijuluki The King (Sophia Latjuba), seorang bos mafia yang bekerja di balik bayang-bayang dan menguasai banyak rumah judi yang tersebar di seluruh dunia. Sementara, kedelapan komedian ini masih diburu oleh polisi (bahkan melibatkan Interpol) perihal kasus perampokan Bank I.N.I, sekalipun dalangnya, Panji, udah ditahan sama kepolisian. Rupanya polisi dan Interpol juga lagi curiga dengan keberadaan seseorang yang tingkatannya berada jauh di atas orang tersebut. Terus, balik lagi ke para Comic 8, sebuah strategi dilakukan oleh mereka, yaitu melakukan tour stand-up comedy keliling Indonesia demi menarik perhatian para penjahat kelas kakap tersebut. Usaha mereka berhasil, mereka dapat tawaran show di sebuah pulau pribadi milik The King. Nah, pertemuan awal dengan The King inilah yang nantinya membuat Comic 8 terjebak dalam sebuah petualangan menakjubkan dan menegangkan. Kalo mau tau detail keseluruhan ceritanya, silahkan ditonton sendiri yak!

Satu dua hal yang paling pengen gue komentarin dan kasih apresiasi adalah desainer poster resmi film ini yang menurut gue punya hasil desain yang luar biasa keren dari sisi editing, efek, dan komposisi. Tone warna yang dipake juga masih konsisten dengan tone warna di film sebelumnya. Daripada poster film "Ant-Man (2015)", gue lebih suka desain poster "Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015)" ini. Hal kedua yang pengen gue apresiasi adalah promotional trailer yang bener-bener apik hingga berhasil menggoda rasa ingin tahu penonton akan isi keseluruhan film ini. Maksud gue, siapa yang nggak tercengang dengan cuplikan film nasional yang menampilkan adegan-adegan seru di-slow motion dan juga special effect mengagumkan setara film Hollywood? Ditambah penampakan salah satu aktor laga fenomenal dengan catchphrase "biar greget"-nya di akhir trailer. Intinya, dari sisi marketing dan niat para sineas di balik terciptanya film ini layak diacungin jempol.


Tapi, apakah dua hal itu udah cukup untuk memuaskan hati penonton, khususnya gue yang lumayan sering skeptis sama kualitas film nasional? Overall, gue ngga dikecewakan sih sama film ini, cuma sempet merasakan beberapa "meh" moment di sepanjang jalannya film. Kalo boleh jujur, di balik beberapa kekurangan yang berusaha banget gue maklumin, film ini berhasil membuktikan kalo ternyata kualitasnya berada di atas ekspektasi awal gue. Jujur aja, gue sempet ngintip sekilas-kilas dan lompat-lompat film pertamanya, dan menurut gue lawakannya basi dan garing banget. Ditambah pakai setting Museum Bank Mandiri yang udah cukup sering gue kunjungin, berasa ngga ada hal baru yang bisa gue nikmatin di film tersebut. Tapi, di film kedua ini, gue melihat peningkatan dalam penulisan script-nya.

Setting yang dipakai dalam film sequel-nya ini lebih banyak dan beragam. Walau beberapa lokasi dibuat pakai CGI dan keliatan banget "layar ijo"-nya, tapi ngga separah editan film-film Indos*ar kok. But still, kalo kalian tanya apakah ini mengganggu, maka gue jawab "ya, ini mengganggu". Sejauh yang gue inget, setting yang dipakai dalam film ini ada mulai dari hutan, di dalem bangunan terbengkalai, warung judi remang-remang, sampai pada pulau pribadi CGI punya The King. Semua setting masih tampak oke, kecuali di pulau The King yang justru menjadi setting utama di dalam film ini. Digambarkan kalau The King ini memiliki markas-markas perjudian di seluruh dunia, dan fasilitas di pulau pribadinya seharusnya bisa lebih jauh menggambarkan keglamoran sebuah casino, yah minimal kayak yang suka kita lihat di film Hong Kong "From Vegas to Macau (2014)" gitu. Low budget okelah, tapi ada baiknya budget terbesar dialokasikan untuk sesuatu yang merupakan inti utama kisah ini. Gue ngerasa casino-nya ini malah terkesan miskin banget (cuma dikasih ornamen-ornamen warna emas aja biar terkesan mewah). Alat permainannya cuma seuprit di dalam ruangan utama, selanjutnya penggambaran main judi di kolam renang plus adegan fighting di pinggir pantai yang sedikit maksa. Lame banget liatnya, kecuali bagian cewek-cewek berbikini itu yang obviously bukan editan.

That's all keluhan gue soal setting. Sekarang gue bahas soal plot yang dipakai plus pernak-pernik CGI yang dipake buat ngegambarinnya. Plot cerita yang dipakai tergolong kreatif dengan menampilkan adegan yang seharusnya berada menjelang ending di bagian awal cerita. Ngebikin penonton bertanya-tanya apa yang sebenernya terjadi pada mereka, kok bisa-bisanya berada di dalam hutan yang penuh dengan buaya. Oke, buayanya jelas banget CGI, adegan digigit dan dimakannya keliatan banget boongannya. Mungkin sengaja for comedic purpose, tapi gue ngga ngerasa ada komedi di bagian makan-memakan itu melainkan sekedar lack of skill dalam menggarap efek ini. Sekilas gue jadi inget betapa jeleknya efek CG yang dipakai dalam film "Piranha 3DD (2012)" yang akhirnya gue cukup memaklumi kekurangan di bagian ini karena sebenernya masih lebih baik ketimbang film Hollywood kelas B tersebut. Kemudian, adegan berpindah lagi ke masa sebelum kejadian di hutan, berpindah lagi ke hutan, berpindah lagi dan lagi dan lagi, jadi pakai alur maju mundur yang sama sekali nggak membingungkan. Cuma gue kurang suka dengan penjedaan antar adegan yang menggunakan subjudul begitu (it's obviously subjective). Berasa kayak "ngeliat" novel. Tapi, overall, gue masih bilang kalo cara penyampaian yang dipakai di film ini tergolong kreatif, and I give it two thumbs up for the great effort, moga jadi awal perkembangan yang lebih baik lagi, terlebih di part 2 nanti, semoga penggunaan special effect jauh lebih baik lagi.

Now, for the comedy, gue sempet bersiap-siap dengan kegaringan yang mungkin bakal ditunjukkan dalam film ini, berhubung (like I said before) "Comic 8 (2014)" beneran garing sampe ngga bisa bikin gue ketawa. Ditambah sebelum nonton film lanjutannya ini, gue sempet baca komentar salah satu temen gue di social media yang bilang kalo komedi dalam film ini juga garing dan mengecewakan. Untungnya gue ngecek sendiri sih. Ternyata komedinya nggak segaring yang gue bayangin. Gue masih bisa ketawa tergelak-gelak sepanjang adegan film. Oke, memang banyak lawakan yang terbilang dibuat-buat banget, nggak ngalir, dan kurang fresh karena udah biasa dipakai. Tapi, masih banyak kok yang menurut gue ngena karena pas eksekusinya. Sebut aja karakter Donny Alamsyah sebagai Isa, pake topeng kayak Bane, bawa-bawa biola yang kalo dimainin orang-orang jadi tidur. Padahal lagunya bukan dia yang mainin melainkan ada iPod yang terselip di bagian belakang biola. Sialan banget ini bikin gue ngakak. :)) Itu cuma satu contoh, ada banyak kok yang lainnya. Tapi sadly to said, adegan dikejar buaya seukuran T-Rex itu lebay. Bener-bener lebay diliat dari sudut pandang manapun. Mending kalo CGI-nya bagus, lah ini keliatan boongannya plus adegan ini lumayan lama disorot bikin jengah juga.

Terlalu banyak dialog juga sebenernya bikin agak capek ngikutin kisahnya. Adegan yang pendek jadi panjang gegara percakapan plus slapstick comedy yang struggling banget disampaikan supaya jadi lucu. Nyaris ngantuk di pertengahan cerita, syukurlah langsung ke inti cerita setelah itu, karena langsung ke bagian pertemuan dengan The King.

Pada akhirnya, Part 1 bener-bener jadi bagian perkenalan dan awal mula terbentuknya konflik. Belum ada adegan yang bisa dikatakan seru, karena keseruan sesungguhnya baru akan diceritakan habis-habisan di Part 2 yang rilis bulan Februari 2016 mendatang. Well, karena gue udah terlanjur nonton Part 1, jadi gue pastikan gue bakal ke bioskop juga untuk nonton Part 2.

Bagaimana dengan rating? Secara umum, oleh badan sensor film dinyatakan sebagai PG-13, tapi bagi gue, joke-jokenya masih banyak mengangkat tema-tema yang menjurus yang lebih cocok dinikmati remaja 16 tahun ke atas. Jadi be wise yah kalo mau ajak anak-anak. Pastikan dibimbing dengan baik biar ngga salah persepsi.

NB: Nikita Mirzani cuma tampil di satu adegan dalam Part 1 ini, tapi bajunya dan juga keadaan perut hamilnya itu disturbing. Porno banget kesannya. LOL.

Most Favorite Scene:
A: "BUAYAAAAA~~~!!!"
B: "Apaan sih nunjuk gua? Gua mah setia."
A: "Itu buayaaaa~~~!!!"
B+A: "Kyaaaaan~~~~ <3"

(oke ini lebay)

Score: 7/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team