Review Film SUKITTE II NA YO -SAY I LOVE YOU- (2014)

"Sukitte Ii Na Yo -Say "I Love You- (2014)" movie review by Glen Tripollo
Karena udah beberapa kali ngebahas film Hollywood berturut-turut, kali ini gue coba isi dengan sebuah film drama romantis ber-setting school life yang diangkat dari sebuah shoujo manga berjudul sama yang juga sudah pernah dirilis versi anime-nya oleh studio animasi Sentai Filmworks. Satu dari sekian banyak film romance asal Negeri Sakura yang sayang untuk dilewatkan. Yuk, baca review film Sukitte Ii Na Yo -Say "I Love You"- (2014) berikut ini!

"Sukitte Ii Na Yo (2014)" atau dalam versi internasionalnya diberi judul "Say "I Love You"" bercerita tentang hubungan asmara antara seorang lelaki populer di sekolahnya yang baru saja menjuarai kontes school idol bernama Yamato Kurosawa (Sota Fukushi) dengan Mei Tachibana (Haruna Kawaguchi), seorang gadis pendiam tertutup dan nyaris tidak memiliki teman karena hobinya menyendiri, beserta segala konflik yang mengelilingi mereka. Mei Tachibana sering mengalami tindak pem-bully-an karena sifatnya yang tertutup tersebut, membuatnya benar-benar hobi menyendiri dan tidak mudah mempercayai orang lain. Sementara, Yamato yang banyak disukai oleh perempuan di sekolahnya justru tertarik untuk mendekati Mei. Kisah berkembang ketika akhirnya Yamato berhasil mendapatkan hati Mei setelah dirinya menjaga Mei dari gangguan stalker sepulang sekolah dengan cara klasik namun playboy-ish, yep, kissing di pinggir jalan. First kiss bagi Mei, entah ciuman yang ke berapa bagi Yamato.

Konflik akhirnya muncul ketika seorang gadis berdada besar, Asami Aikawa (Rima Nishizaki), yang mengaku pernah juga dicium oleh Yamato. Menyusul kemudian, Aiko Muto (Rika Adachi) yang bahkan mengaku sudah pernah ML sama Yamato. Hal ini membuat Mei merasa galau dan krisis kepercayaan terhadap Yamato. Belum lagi dengan kemunculan Megumi Kitagawa (Arisa Yagi), seorang model betulan yang tertarik mengajak Yamato menjadi model membuat Mei semakin cemburu dibuatnya. Namun, ketika akhirnya satu masalah selesai, datang seorang murid pindahan, Kai Takemura (Tomohiro Ichikawa), yang dulunya merupakan sahabat baik Yamato. Kai mengetahui kalau Mei memiliki pengalaman yang sama dengan dirinya, yakni suka di-bully teman sekolahnya, dan mulai menaruh hati kepadanya. Nah, gimana sih perjuangan kisah cinta dua pribadi yang jelas bertolak belakang ini dalam menghadapi segala permasalahan di sekitar mereka? Untuk lebih jelasnya, mendingan cek sendiri ya filmnya.


Dari segi plot yang saling beruntut, alias satu masalah datang, satu masalah selesai, lalu berlanjut lagi ke masalah berikutnya, sangat berciri khas shoujo manga dengan alur yang selalu maju. Sudut pandangnya obviously berdasarkan sudut pandang seorang wanita. Jujur sih, gue sebagai cowok malah merasa agak jijik dengan kebiasaan Yamato yang suka main cium-cium sembarangan cewek-cewek di sekolahnya. Sampai membuat istilah atau kode tersendiri untuk masing-masing ciuman yang dia lakukan, seolah dia membuat excuse agar dapat mencium sebanyak-banyaknya gadis cantik di sekolahnya. This is a hardcore type of Japanese playboy atau gue lebih suka nyebut dengan istilah "bibir murahan". Sayangnya, aktor yang memerankan Yamato masih kurang nempel dengan latar belakang karakternya. Karena playboy tipe hardcore semacam dia seharusnya diperankan aktor ganteng yang bukan hanya disukai sama cewek-cewek, tapi juga bikin cowok-cowok normal kayak gue silau #plak. Tapi, yah, gue sendiri ngga terlalu banyak menuntut soal aktor karena pemeran Mei pun bagi gue masih biasa aja dan agak kaku. Tapi, setelah gue inget-inget, ternyata emang semua pemeran dalam film ini punya tampang yang biasa-biasa aja. Kecuali pemeran Asami yang memang outstanding dengan tubuh mungil namun berdada besar. Pemerannya seorang gravure idol by the way (yang beginian aja diinget, haha).

 Poster alternatif "Sukite Ii Nayo -Say "I Love You- (2014)

Since this movie tells you about conflicts yang diawali dengan sebuah ciuman yang dilakukan oleh seorang tukang cium, jadi gue kasih warning kalau film ini banyak sekali menampilkan adegan ciuman antara Yamato dan Mei yang mungkin bakal bikin para cewek ber-fangirling. Yeah, since this is just a drama, they can fangirling. Kalau beneran terjadi pada mereka (kenal cowok tukang cium kayak gini) kayaknya malah kepengen nabok kali ya? :))

Oh ya, berhubung gue belum pernah nonton anime-nya maupun baca langsung manga-nya, gue jadi ngga bisa ngasih perbandingan apakah kisah di film ini sudah mengalami perombakan habis atau tidak, atau lebih baik yang mana dibandingkan format lainnya. Lagipula style artwork versi manga sama sekali bukan selera gue. Jadi, gue menilai murni dari apa yang gue tonton di sini aja. Sinematografinya seperti film drama Jepang pada umumnya, diambil dengan bagus walaupun menggunakan perlengkapan yang tidak mewah, satu hal yang masih bikin gue heran kenapa film Indonesia ngga bisa menggunakan teknik serupa dalam pembuatannya. Kebanyakan adegan diambil di dalam lingkungan sekolah.

Untuk perkembangan ceritanya sendiri, jujur, sebenernya sangat mudah ditebak. Tapi, karena disajikan dengan cukup manis, akhirnya nggak membosankan hingga ke titik akhir hubungan cinta kedua tokoh ini diuji. Buat yang lagi jomblo, mungkin film drama ini bakal sedikit menyayat hati, tapi bagi yang nggak jomblo, mungkin bakal lebih aware lagi sama apa-apa yang mungkin dilakukan pasangannya di belakang dia. LOL, mau di sisi yang manapun emang membawa dampak nggak baik sih, makanya gue sarankan tonton ini sendirian aja lah, dan ngga perlu juga dibawa serius. Cukup nikmati alurnya yang sederhana, konfliknya yang cukup biasa. Yah, kalau boleh pake pengandaian, anggap aja lagi menjelajah santai di dalam Istana Boneka, Dunia Fantasi. Walaupun para pemerannya nggak se-cute boneka.

NB: Sebenernya gue agak nggak suka sih sama sifat Mei Tachibana yang seolah jadi terkesan bego karena gampang percaya kata-kata Yamato. Yah, tapi sifat Yamato yang terbuka dan jujur apa adanya mungkin yang jadi pertimbangan "keren" bagi para cewek. Or at least, it's just this storymaker's logic yang berbicara di sini. I dunno~ Film ini nggak sebagus "Kanojo wa Uso o Aishisugiteiru (2013)", tapi masih enjoyable kok karena lebih ringan.

Score: 7,5/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

2 komentar:

  1. Gue setuju, Bro. Kebanyakan film Jepang emang lihai dalam hal angle. Ga bosenin walau ceritanya itu-itu aja sebetulnya.

    BalasHapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team