Review Film TERMINATOR GENISYS (2015)

"Terminator Genisys (2015)" movie review by Glen Tripollo
Jujur, abis liat trailer-nya waktu mau nonton Jurassic World (2015), film ini nggak bikin gue super excited sampe merasa harus ngecek di bioskop. Tapi, berhubung nggak sengaja ada kumpul-kumpul bareng temen, dan semuanya pada kepengen nonton film ini, yo wiss ikutan deh. Ternyata, gue ngga terlalu menyesal sih udah merelakan waktu dan fulus buat ngecek film ini. Sayangnya gue nelurin review ini di saat filmnya udah turun layar. Abisnya, banyak ini itu juga sih yang bikin kegiatan nulis terhambat. Ya udahlah gak apa-apa, daripada nggak sama sekali kan? Yuk, simak dulu review film Terminator Genisys (2014) berikut ini!

"Terminator Genisys (2015)" bisa dibilang sebagai sequel yang "mengubah" timeline di film-film sebelumnya. Seperti layaknya film "X-Men: Days of Future Past (2014)" garapan Bryan Singer yang mengubah pola timeline di seri-seri sebelumnya. Nah, untuk film ini, sebenernya penonton nggak perlu khawatir ngga bakal ngerti kalo belum pernah sama sekali ngikutin seri-seri Terminator sebelumnya, karena di sini semuanya jelas. Malah menurut gue, penonton akan jauh lebih mudah mencerna isi dari kisah "Terminator: Genisys (2015)" ini kalo belum terkontaminasi sama susunan timeline di film-film pendahulunya. Sebagai catatan, "Terminator Salvation (2009)" bisa dianggap ngga ada di dalam timeline film ini, walaupun dalam timeline explanation di sini plot "Terminator Salvation (2009)" masih bisa disisipkan di sebagian kecil dari time universe yang lebih besar lagi. Yah, kurang lebih sama nasibnya kayak "The Lost World: Jurassic Park (1997)" dan "Jurassic Park 3 (2001)" yang dihapuskan dari timeline sebelum "Jurassic World (2015)" tayang, membuat dua film tersebut di antara ada dan tiada. Dan serupa juga dengan franchise dinosaurus tersebut yang disinyalir merupakan awal dari trilogi baru, demikian juga dengan "Terminator Genisys (2015)" ini.

"Terminator Genisys (2015)" masih menceritakan tentang keluarga Connor yang mana eksistensi garis keturunannya di masa depan menjadi sebab kekalahan para mesin ciptaan teknologi kecerdasaan buatan bernama Skynet. Suatu ketika di masa depan, John Connor (Jason Clarke), berhasil membuat Skynet terpojok dengan bantuan pasukan hebatnya dan juga tangan kanan setianya, Kyle Reese (Jai Courtney). Sekalipun Skynet sudah pernah mengirimkan robot ke masa lalu untuk membunuh Sarah Connor dan John Connor, namun semua usahanya gagal sehingga di masa depan selalu berakhir dengan kekalahan Skynet. Nah, kali ini sebenarnya setting sama persis dengan kejadian di film "The Terminator (1984)" yang mana Skynet di ambang kehancurannya (tahun 2029) berhasil mengirimkan The Terminator (Arnold Schwarzenegger versi muda) ke tahun 1984, masa di mana Sarah Connor masih muda dan bekerja sebagai pelayan di restoran fast food. Kyle Reese pun secara sukarela pergi ke masa lalu untuk melindungi Sarah. Nyatanya, kejadian di "Terminator 2: Judgment Day (1991)" dan seterusnya telah membuat masa lalu benar-benar berbeda dengan versi di film sebelumnya. Sarah Connor (Emilia Clarke) yang diduga masih menjadi cewek biasa, nyatanya sudah sangat ahli dalam hal perlindungan diri dan menggunakan senjata-senjata berat. Ditemani oleh T-800 (Arnold Schwarzenegger) yang dikatakan Sarah sudah 11 tahun lamanya melindungi dan membesarkan dirinya. Sarah memanggil T-800 dengan sebutan "pops" saking udah kayak keluarga sendiri.


Time travel semakin rumit, kala Kyle Reese mendapatkan ingatan demi ingatan yang bercampur aduk antara masa di mana ia benar-benar tumbuh di masa lalu dan masa lalu alternatif yang entah kapan ia alami. Sebuah petunjuk menyatakan bahwa asal mula Skynet berada di tahun 2017 dalam bentuk aplikasi Genisys. Kyle Reese dan Sarah Connor pun memutuskan untuk pergi ke masa itu untuk menghentikan peluncuran Genisys. Sementara T-800 tetap tinggal di tahun 1984 dan menunggu hingga 2017 datang hingga mereka bertiga bersama kembali. Tak diduga, di tahun 2017, Kyle dan Sarah bertemu dengan John Connor.

Nah, itu kalo udah nonton semua seri "Terminator" bakal jadi terkesan rumit seperti itu. Sedangkan yang belum, bakal melihat "Terminator Genisys (2015)" dengan jauh lebih sederhana lagi tanpa terganggu konsep-konsep yang lalu. Sorry yak kalo cerita gue secara garis besar nggak begitu jelas alias ngejelimet, berhubung gue sendiri emang kesulitan menyampaikan isi cerita ini dengan kata-kata tanpa memberikan spoiler apapun. So, biar lebih jelasnya silahkan ditonton sendiri.

I've underestimated this movie
Jujur, gue nyesel udah ngeremehin film yang satu ini, karena sebenernya film ini bener-bener well-made dari berbagai sisi. Tentunya bukan soal akting Arnold Schwarzenegger yang so-so, karena kita tahu perannya adalah sebagai robot dan pasti kaku (nggak, gue ngga bermaksud ngebahas adegan T-800 nyengir kuda), justru Arnold bener-bener cocok jadi karakter robot begini. Secara plot dan hubungannya dengan film-film sebelumnya, cukup masuk akal (dengan asumsi time travel dan teori fisika kuantum bener-bener nyata), memang rumit, tapi secara logika masih bisa diterima, walaupun masih ada beberapa plothole yang gue asumsikan bakal jadi main issue di sequel-nya nanti (kalau sequel-nya jadi dibuat).



Nah, buat penggemar TV Series HBO "Game of Thrones" kemungkinan besar juga nonton film ini karena ada Emilia Clarke (as Daenerys Targaryen). Tapi jangan mengharapkan penampilan Emilia yang anggun dengan rambut pirangnya, di sini penampilannya dirombak abis hingga jadi terlihat jauh lebih tomboy dengan penampilan casual dan juga brunette hair yang nggak terlalu panjang. Di sini Emilia terlihat lebih "berisi" ketimbang di series "Game of Thrones". Tapi, dari segi akting sih biasa aja. begitu juga dengan Jai Courtney sebagai Kyle Reese yang menurut gue bakalan cocok jadi penerus Arnold, memerankan karakter cyborg karena perawakannya yang kaku dan tegas. Emang pada dasarnya "Terminator" itu bukan film yang membutuhkan kualitas akting berkualitas sih, karena di sini lebih berat ke adegan action dan elemen sci-fi.

Dari segi special effect, untuk sebuah film yang sempet gue underestimate, sudah tergolong luar biasa. Emang sih adegan penggambaran kehancuran kota berasa kartun banget (kurang halus), but overall the art's still enjoyable. Terutama pada bagian battle scene-nya. Gue cukup tercengang sama adegan pertarungan antara Arnold tua dan Arnold muda yang digarap dengan sangat rapi dan halus. Gue nggak tau berapa kali Arnold tua menggunakan stuntman dalam adegan ini, tapi editannya rapi, jadi berasa kalo Arnold tua masih sangat sanggup beradegan keras hingga kebanting-banting. Two thumbs up for this scene, kebetulan juga jadi adegan terfavorit gue di film ini.


Mungkin satu hal yang bakal disayangkan sama penggemar franchise "Terminator" adalah pada pe-rating-annya. Yang awal mula (versi klasiknya) selalu steady di rated-R, dan sebagainya, khusus "Terminator Genisys (2015)" resmi menyandang rating PG-13. Di satu sisi rating ini bakal merugikan penonton yang pengen ngeliat adegan keras dan brutal hingga berdarah-darah, di sisi lain film ini jadi berpotensi melebarkan sayapnya dan merangkul lebih banyak lagi jenis penonton, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Tampaknya memang udah jadi kebiasaan film-film lama yang dibuat lanjutannya mendadak jadi lebih mild dalam penyajiannya, seperti "Jurassic World (2015)". Tapi, gue jamin kok tingkat keseruan film ini sama sekali ngga berkurang walaupun dikurangi adegan-adegan berdarah.

Akhirnya, "Terminator Genisys (2015)" bukanlah sebuah film yang luar biasa bagusnya, it's still enjoyable. Untuk penilaian pribadi, sebenernya masih belum ada yang ngalahin "Terminator 2: Judgment Day (1991)", tapi seenggaknya, gue bisa bilang sebagai awal dari trilogi yang baru, film ini sangat bisa diharapkan. So, don't hesitate to check this movie!

NB: Di sini T-1000 (Byung-hun Lee) cuma jadi karakter sisipan yang nggak terlalu penting selain cuma sebagai konflik kecil di awal-awal cerita. Sayang sih sebenernya, tapi seenggaknya karakter doi ini berhasil dikalahkan dengan cara yang asik. Gue agak bosen juga liat Byung-hun yang terlalu sering nongol jadi karakter-karakter tambahan di film-film Hollywood lainnya.

Score: 8,3/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

2 komentar:

  1. saya jdi penasaran sama caranya mereka ngalahin si T 1000
    di termintor judgment day kan masuk dlam cairan baja, epik banget tuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener, epic banget... :D
      Lebih epic lagi ngebayangin visual effect T-1000 yang canggih sperti itu di tahun rilisnya. Ditonton ulang pun efeknya ngga berasa norak. :)

      Hapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team