Review Film KAMISAMA NO IU TOORI -AS THE GODS WILL- (2014)

KAMISAMA NO IU TOORI -AS THE GODS WILL- (2014) movie review by Glen Tripollo
Nonton film selain film Hollywood itu bagi gue semacam refreshment tersendiri karena ngedapetin pengalaman yang berbeda. Beda budaya, beda cara eksekusi filmnya, demikian juga dengan pemanfaatan teknologinya. Well, di kesempatan yang cukup jarang, akhirnya gue nonton juga salah satu film Jepang yang rilis pada bulan Oktober 2014 lalu. Film ini merupakan versi live action dari manga berjudul sama karya Muneyuki Kaneshiro & Akeji Fujimura dan disutradarai oleh sutradara tersohor negeri Sakura, Takashi Miike. Nah, gimana sih pandangan gue soal film yang punya isi cerita agak nyeleneh tapi kreatif ini? Yuk, simak review film KAMISAMA NO IU TOORI aka AS THE GODS WILL (2014) versi gue berikut ini!

KAMISAMA NO IU TOORI aka AS THE GODS WILL (2014) ini mengangkat genre survival horror, psychological thriller, dengan bumbu low-fantasy, dan juga elemen gore alias berdarah-darah yang lumayan bikin merinding. Kisah ini berpusat pada beberapa pelajar SMA yang merasa bosan dengan kehidupannya saat ini. Masing-masing memiliki permasalahan hidup yang berbeda-beda dan juga pengalaman buruk masing-masing. Mereka semua lalu berdoa kepada Dewa mereka (secara tidak begitu disadari, semacam keluhan) agar diberikan kehidupan yang tidak lagi terasa membosankan di dunia. Mungkin Dewa mendengar, hingga pada suatu hari permohonan mereka pun terwujud. Kegiatan sekolah yang membosankan tiba-tiba saja dienterupsi oleh kemunculan makhluk seperti mainan tradisional Jepang yang bernama Daruma, yang entah datang dari mana dan memakan kepala guru yang sedang mengajar. Boneka Daruma ini hidup dan memaksa semua siswa di dalam kelas bermain bersamanya. Permainan sederhana yang mana boneka Daruma akan membelakangi siswa dan bernyanyi. Setelah nyanyian habis, dia akan berbalik arah, siapa yang kedapatan bergerak maka kepalanya pecah seketika.

Penampakan Daruma hidup.

Takahata Shun (Sota Fukushi) secara beruntung berhasil selamat dari permainan maut tersebut. Namun, keberhasilan itu hanyalah awal dari mimpi buruk yang lebih panjang. Shun bertemu dengan sahabat masa kecilnya, Ichika Akimoto (Hirona Yamazaki), yang berhasil selamat dari permainan Daruma di kelas lain. Bersamanya, Shun harus berjuang memenangkan setiap permainan sambil menjaga Ichika agar selamat sampai akhir. Masalah semakin runyam karena ternyata Amaya Takeru (Ryunosuke Kamiki), teman beda kelas Shun dan Ichika yang berjiwa psycho. Amaya tak segan-segan membunuh teman-temannya demi keselamatan dirinya sendiri. Semakin membingungkan ketika Amaya memberitahu Shun bahwa mereka berdua adalah anak Tuhan dan sudah ditakdirkan untuk selamat bersama-sama. Benarkah? Temukan jawabannya dengan menonton sendiri filmnya ya!


By the way, inti dari film ini adalah perjuangan untuk bertahan hidup. Di mana karakter-karakternya dipaksa untuk memainkan berbagai permainan tradisional Jepang. Bedanya, benda-benda dalam permainan yang merupakan benda mati, kini menjadi hidup. Siapapun yang kalah akan mati. Setiap permainan memiliki aturan-aturan yang berbeda. Beberapa bahkan benar-benar memeras otak, memaksa para pesertanya untuk berpikir jernih di tengah-tengah situasi menegangkan di antara hidup dan mati. Gue sendiri belum pernah baca versi manga, jadi nggak mungkin bisa membandingkan keduanya. So, penilaian gue akan fokus pada teknis dan gaya penggambaran sang sutradara.

The CGI is not that awesome, actually it was bad for me, but ...
Sebenernya jadi salah satu pertanyaan gue sih sejak dulu, kenapa CGI ala Jepang masih sangat kentara bohongannya (walau nggak separah sinetron Indonesia sih). Seperti nggak menyatu langsung dengan background sehingga kelihatan sekali editannya. Hal ini bahkan juga terjadi pada film-film live-action terbaru lainnya, seperti PARASYTE PART 1 (2015) dan ATTACK ON TITAN (2015). Semacam suatu kesengajaan atau memang teknologi CGI yang dimiliki Jepang masih sampai sebatas itu. Batasan antara aktor dengan CGI jadi berasa ngambang dan kurang nendang. Berkat efek CGI yang masih kurang nendang ini, adegan film ini jadi makin berasa komikal ketika memasuki babak permainan yang melibatkan beruang kutub raksasa yang mempertanyakan soal kejujuran. Tapi... nah, ada tapinya. Memang ada perasaan aneh yang terus muncul saat nonton film ini, yaitu anxiety. Gue ngga bisa nebak pertama kali siapa yang kira-kira bakal selamat, gue juga walaupun udah tau siapa tokoh utama dalam cerita ini, masih nggak bisa nebak sama apa yang kira-kira bakal terjadi sama tokoh-tokoh pendukungnya. Kematian perdana di dalam film ini sama sekali nggak ketebak. Termasuk juga di adegan-adegan selanjutnya ada karakter-karakter yang terduga bakal jadi kandidat kuat bertahan hidup nyatanya malah mati. Intinya, CGI memang berkekurangan di sana sini, tapi nggak berarti mempengaruhi ketegangan yang dibangun oleh sutradara. This type of horror is brilliant, daripada ngambil model jump scare yang menurut gue terlalu pasaran.

Alternative poster for KAMISAMA NO IU TOORI -AS THE GODS WILL- (2014)

Untuk setting, mulanya film ini mengambil setting school-life yang mendadak berubah jadi surealis. Tapi, sayangnya, menurut gue sih tingkat keseruan film ini bener-bener kayak lintasan jet coaster. Dari awal hingga pertengahan, ketegangan terbangun dengan baik dan meningkat, namun ketika setting berubah, mendadak turun dan cenderung berkurang "rasa" horror-nya dan berubah menjadi kisah fantasy dystopian macam THE HUNGER GAMES. Tapi, twist di bagian ending memang dipersiapkan untuk membuat penonton membelalak bingung sih. Jadi nikmati aja lintasannya. Still fun to watch thou.

Dari segi akting...
Bisa dibilang yang menjadi juara akting dalam film ini bukanlah tokoh utamanya, melainkan Ryunosuke Kamiki yang memerankan tokoh antagonis bernama Amaya, seorang remaja berjiwa psycho yang bener-bener ngga peduli sama nasib teman-temannya. Memang sih dia ini ngga bakal ngebunuh membabi buta, tapi ngga bakal segan-segan kalo itu bisa membuatnya bertahan hidup. Karakternya hidup dan berasa banget creepy-nya. Intinya, he's the star in this movie. Sedangkan Sota Fukushi masih nggak berbeda jauh kualitas aktingnya dengan perannya di film SAY, I LOVE YOU (2014). Untuk heroine-nya sendiri, gue merasa ada yang miss sama penampilannya. Hirona Yamazaki terlihat norak dengan style rambut pirang karakter Ichika yang diperankannya. Yang menarik di sini adalah kebanyakan pemeran pendukung dan figuran yang nggak keliatan kayak orang Jepang, melainkan muka-muka Thailand. Hahahaha. Sempet bingung juga sih kok bisa kebetulan berasa keluar jalur.

Gue rasa cerita yang inti utamanya agak nggak jelas begini kurang dapat dinikmati sama sebagian besar orang. Bisa dibilang film ini mengangkat survival horror layaknya SAW franchise yang mana para tokohnya mendadak terjebak di dalam sebuah keadaan dan memaksa mereka untuk putar otak menyelamatkan diri, tapi dikemas dengan lebih menarik dan kreatif. Dengan interaksi antar karakter yang lebih beragam dan juga penambahan unsur khas Jepang, yaitu fantasy. Masih ada banyak kekurangan di sini, salah satunya adalah ending yang cukup menggantung. Semoga aja sih ada lanjutannya. Kalo nggak, masa ending-nya gitu doang?

Most favorite scene:
Permainan Daruma di awal kisah bisa dibilang yang paling menyeramkan, namun efek tegang yang sebenarnya sangat terasa di permainan Cat and Mouse di ruang olahraga. Damn, gue was-was banget nunggu hasil akhir permainan maut tersebut. Keren lah, walau patung kucing hidupnya keliatan bohongan banget.

Score: 7,8/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

6 komentar:

  1. Wuih, habis nonton (setelah lama banget berdebu di dalam folder), eh kebetulan nemu review-nya~

    Aku setuju banget lah sama review-nya. Amaya is the star in this movie, MC nya sendiri nggak kelihatan "wah" walaupun dia cerdik. Buatku yang suka horor non-hantu dan gore, yang paling serem cuma Daruma, selebihnya udah ga kaget lagi sama gorenya, wkwkwk.
    Apalagi soal endingnya yg ngegantung, menurutku masih bisa dilanjut dengan mengadu kandidat dari masing-masing negara (game ini ga cuma terjadi di jepang kan) demi menjadi the one of god's son (walau plot ini juga mainstream, tapi masih asik lah daripada ending ngeganung ga jelas gitu, wkwkwk)

    oh ya, aku sempet baca chapter pertama komiknya habis nonton ini. well, menurutku masih lebih asik dan gore komiknya sih :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang sih film ini ending-nya terbuka banget. Jadi kalau mau dibuat sequel ya bisa banget. Hahaha... :D

      Oh ya? Manganya lebih seru? Coba deh nanti saya cek juga. :D

      Hapus
  2. Data gagal paham yg terakhir waktu bonekanya bilang klau merekalah tuhannya
    Dan siapa cook yg datangnya paling alhir itu

    BalasHapus
  3. Terus cowo yang meneliti tentang masalah anak tuhan, dan gak mau keluar ruangan, pas keluar tiba tiba katanya mau menyelamatkan dunia, emang apa perannya dalam film tersebut?, dan satu lagi cowo yang disebut sebagai KAMI(tuhan) pada ending film itu membuatku bingung

    BalasHapus
  4. Gue salah satu fans manga ini, bisa dibilang gue sangat maniak sama genre berbau survival horor, jadi awal nya gini, 'Takahata shun' menerima yang ta kmdi nya membosankan, malah menyusahkan, sebagian dari cerita ini peran penting yang didapat terdalam nya sangat singkat hidupnya, rntah apa yang dipikirkan sang author, dalam versi live action ini tidak berbeda jauh manga nya, untuk karakter yang dalam satu ruangan itu, sebenernya tertulis di manga, namun nama saja yang berbeda, peran mereka hanya membicarakan masalah anak tuhan, hidup mereka juga tidak panjang didalam manga, lalu datanglah kokeshi, membunuh nya dengan secarakeji, dikarenakan si doi kalah dengan permainan nya tersebut kalau dimanga, karakter ini langsung dibunuh ketika langsung berhadapan dengan kokeshi, tetapi di live action si doi memainkan game nya dulu, baru dibunuh.
    Untuk masalah ending ngegantung, (hard spoiler) tau kan si Kakek yang nongol di ending? Sebenernya dia adalah 'god' didalam game tersebut, dia adalah dalang dibalik semua game kematian tersebut, sebut saja dia sebagai game master, dia yang membuat dunia Shun menjadi amburadul, walaupun begitu Shun tetap menyesali atas keluhan nya tersebut, yang mau tau lanjutan nya bisa langsung membaca manga nya, kamisama no lu toori memiliki 2 season, bagi yang mau baca disarankan dari s1 nya dulu, baru berlanjut ke 2, masih banyak game yang blum dimainin si shun, shun memang terlihat biasa aja dalam penggambaran karakter, ketimbang amaya lebih badass, tetapi shun mampu memutar otak ketika memainkan permainan, sedangkan amaya hanya mengandalkan kekuatan fisik untuk memenangi sebuah permainan, mereka adalah duo survive yang bisa memcahkan segala permainan.

    BalasHapus
  5. Oh maaf tidak peka hehe, masalah yang membahas masalah anak tuhan, yangdidalam ruangan tersebut, dia adalah'Takumi' detektif dari film ini, di manga peran nya sangat diperlihatkan ketimbang di live action nya, ibaratkan saja dia seperti si 'L' a.k.a ryuzaki lawliet (death note) dia membawa info penting bagi umat manusia atas kejadian insiden tersebut, sudah dipastikan, dari seri live action nya ini ada lanjutan nya (who knows?)

    BalasHapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team