Review Film BRIDGE OF SPIES (2015)

BRIDGE OF SPIES (2015) movie review by Glen Tripollo
Kali ini gue bakal bahas sebuah film yang menurut gue masuk golongan kelas berat. Kelas berat di sini maksudnya tipe-tipe film yang 90% akan mendapatkan perhatian dalam ajang penghargaan Oscar. Disutradarai oleh Steven Spielberg, memboyong aktor watak kawakan Tom Hanks, mengangkat film dengan cerita yang terinspirasi oleh kisah nyata. Seperti apa kira-kira filmnya? Yuk, simak review film BRIDGE OF SPIES (2015) berikut ini.

BRIDGE OF SPIES (2015) berpusat pada James B. Donovan (Tom Hanks) seorang pengacara berjiwa besar, menjunjung tinggi kode etik profesi, dan mencintai negaranya, yang mendapatkan tugas untuk membela seorang mata-mata Rusia di tengah-tengah perang dingin Amerika Serikat dan Uni Soviet di tahun 1960. Berkat tindakannya ini, dia jadi dibenci oleh sebagian besar rakyat AS. Namun dengan berpegang teguh pada keyakinan yang dimilikinya, bahwa dirinya telah melakukan hal yang benar, dia membela sang mata-mata hingga akhirnya berhasil mengurangi hukuman kepada sang mata-mata, Rudolf Abel (Mark Rylance), yang semula diancam hukuman mati di kursi listrik, menjadi hukuman kurungan selama 30 tahun. Tak lama, kejadian yang sebenarnya sudah diperkirakan oleh Donovan saat membela Abel pun terjadi. Seorang mata-mata AS, Francis Gary Powers (Austin Stowell), tertangkap oleh Soviet saat sedang membuat foto wilayah Soviet dari ketinggian 70.000 kaki. CIA pun segera mendatangi Donovan dan memintanya pergi ke Jerman Timur (saat pendirian tembok Berlin sedang dilakukan) untuk bernegosiasi dengan pihak Soviet, mengenai pertukaran tahanan. Powers ditukar dengan Abel. Namun, satu masalah terjadi. Ketika Donovan sampai di Jerman Timur, ia mendapatkan kabar bahwa seorang mahasiswa berkewarganegaraan AS, Frederic Pryor (Will Rogers), telah ditahan oleh Jerman atas dugaan mata-mata. Donovan pun akhirnya memikirkan berbagai cara dan melakukan berbagai strategi negosiasi dengan berbagai pihak demi membebaskan keduanya dan mengembalikan Abel ke negara asalnya. Berhasilkan Donovan? You must watch this movie yourself to find out the conclusion.


This definitely NOT everybody's movie
Gue ngecek film ini di bioskop, dan baru kali ini rasanya gue ngeliat keadaan bioskop sekocak ini. Lebih dari 60% penonton tiba-tiba keluar studio saat film ini baru setengah jam diputar dari total durasi 141 menit. Gue sendiri bisa ngerti alasan kenapa mereka keluar, yaitu bosan atau merasa tertipu sama judul? Intinya mereka yang keluar pastinya kurang banyak mencari tahu mengenai film yang akan mereka tonton. Padahal trailer bertebaran di mana-mana.

First of all, let me give you warning ... walaupun film ini memang tentang SPY (mata-mata), jangan beranggapan kalo film ini ngebahas mata-mata seperti James Bond, Jason Bourne, atau Ethan Hunt. It's definitely a realistic spy yang memang benar-benar ada selama perang dingin (perang pengumpulan informasi) antara AS dan Soviet. Dan sudut pandang di sini bukanlah dari mata-matanya melainkan dari pengacara yang berurusan dengan pertukaran tahanan (yang masing-masing tahanan merupakan mata-mata dari negara lawan). Tahu kan senjata pengacara apa? Omongan. Mereka jago ngomong, dan sebagian besar isi cerita adalah negosiasi yang mana tentu saja menjadikan film ini 95% berisikan dialog. Bagi sebagian orang, film seperti ini akan terasa sangat membosankan, belum lagi dengan slow pace yang dibangun. Jadi, sekali lagi gue ingetin, kalo kalian emang nggak suka film yang banyak ngomong, maka sebaiknya hindari film ini.

This movie can give you a thrill just by the dialogues
Yep, kalo kalian cukup bisa dan tahan berkonsentrasi dengan isi cerita ini, meresapi setiap dialog karakter-karakternya, kalian bisa merasakan berbagai macam perasaan yang saling bercampur aduk. Perasaan tak tenang, perasaan ngeri, dan lain-lain sebagainya. James Donovan membela mata-mata Rusia yang mana ini adalah keadaan di mana dirinya harus siap, mau tak mau menerima pandangan negatif publik. Hal tersebut karena publik tidak memiliki pandangan jauh ke depan yang sama dengan yang dimiliki Donovan. Selain itu, membela musuh, artinya bersiap juga dengan segala kemungkinan yang terjadi terhadap dirinya dan keluarganya. Entah diserang oleh pembencinya, dibunuh, who knows. Yang jelas ancaman-ancaman ini ada. Tidak secara eksplisit layaknya film action-thriller, but the thrill tetep dapat dirasakan dengan maksimal.

Selain itu, dialog yang banyak di film ini juga mampu secara bertahap menunjukkan kepribadian dan perkembangan masing-masing karakter yang terlibat di dalamnya. Jujur, gue belum pernah nemu film penuh dialog yang punya makna dalam dan semenarik ini untuk diikuti. Khusus gue pribadi, gue sama sekali nggak merasakan bosan dengan dialog karena dialog yang disampaikan di sini tergolong cerdas. Film seserius ini pun masih menyisipkan beberapa dialog dengan maksud komedi, tapi komedi serius yang bisa bikin gue sesekali tersenyum. Lumayan lah.

Poster alternatif untuk BRIDGE OF SPIES (2015)
Karakterisasi yang mantap dari hampir seluruh aktornya
Gue sebenernya bukan penggemar berat Tom Hanks, tapi gue tau sepak terjangnya dari berbagai film yang pernah dia mainkan. Dan untuk itu, di film ini pun gue rasa beliau berhasil menghidupkan karakter James B. Donovan. Karakter yang tampak penuh perhitungan, pemikir, tapi sangat peduli dengan negaranya. Walaupun pola pikirnya belum dapat diterima banyak orang, namun dia tak gentar. Demikian juga dengan Mark Rylance yang memerankan tokoh Rudolf Abel dengan sangat meyakinkan. Rasanya pas banget ngeliat ekspresi datarnya yang selalu tampak tenang dalam berbagai situasi kondisi, membuatnya selalu terlihat innocent walaupun sebetulnya penonton udah tahu dari awal kalo Abel bener-bener seorang mata-mata Rusia.

Penggambaran setting yang bener-bener realistis
Gue ngga tau sihir apa yang dipakai kru Spielberg dalam menggarap film ini. Tapi penggambaran keadaan Jerman dalam setting bener-bener ngasih penonton pengalaman seolah-olah kembali ke masa tersebut, menyaksikan sendiri tekanan-tekanan hidup di jaman tersebut. Everything has done really well, sesuai dengan kenyataannya. Entah berapa banyak cameo yang dipakai dalam film ini, pembuatan bangunan-bangunannya, perlengkapan tempur, mobil-mobil kuno, dan sebagainya dan sebagainya. Gue bener-bener dibikin tercengang sama setting-nya. Film ini jadi film penuh obrolan pertama yang bisa memuaskan gue dari berbagai sisi.

Seperti yang gue bilang di awal tadi, film ini layak mendapatkan paling tidak satu piala penghargaan Oscar. Bisa dikatakan dari banyaknya film Spielberg yang udah gue tonton (yang kebanyakan sci-fi dan terasa lebih ringan) film ini jauh lebih baik dari LINCOLN (2012), menjadikan film ini (bagi gue) seperti sebuah masterpiece dalam kurun 10 tahun terakhir. This movie was enjoyable and heart warming, memang akan terasa membosankan di awal bagi sebagian orang, tapi film ini bener-bener worth it buat ditonton.

Most favorite quote:
James Donovan: "Aren't you worried?"
Rudolf Abel: "Would it help?"

NB: Ending film ini bener-bener membuat perasaan gue puas banget udah nonton dari awal dengan seksama. Terlepas dari seperti apa konklusinya. Pokoknya gue jadi sedikit sedih dengan nasib Rudolf Abel. You will find out when watching by yourself.

Score: 9,7/10 (bagi sebagian orang yang memang tidak suka jenis film ini, sebaiknya hindari)

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

3 komentar:

  1. Film ini menurut gue, emang seru. Tapi pace nya agak2 lambat di beberapa scend, so bikin ngantuk. Plus berbelit-belit pula. Terlalu memfokuskan di proses negoisasinya. Bagian paling menarik dari film ini, yah endingnya. Itu bikin gue berdebar-debar. Cuma itu yang gue suka dari film ini. Haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Terlalu memfokuskan di proses negosiasinya". Tapi, Bro, kan itu inti utama masalahnya. Karena memang ini maksudnya film biografi dari James Donovan yang terkenal hebat dalam negosiasi, jadinya fokus berada pada titik tersebut. Which is, kalo gue pribadi sih, sangat menikmatinya. Lewat cara komunikasinya bisa dinilai seberapa smart, sabar, and beraninya dia membela warga negaranya. Slow pace-nya juga bikin film ini jadi lebih realistis.

      Di ending beneran bikin debar-debar. Terutama karena percakapan Donovan and Abel, pas Donovan nanya kira-kira seperti apa perlakuan mereka nantinya terhadap Abel pasca pertukaran. Kata Abel, tergantung penyambutannya, apakah bakal dipeluk hangat, atau berakhir di kursi belakang mobil gitu aja. Dan ternyata ... agak sedih juga gue liatnya... :'(

      Hapus
    2. aku belum pernah lihat nih teman" , tolong yang tau isi negosiasi sama intinya bales disini ya hehehe , buat tugas kuliah soale

      Hapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team