[18+] Review Film GIRLHOUSE (2014)

GIRLHOUSE (2014) movie review by Glen Tripollo
Dengan formula yang simpel, mencampurkan dua topik paling diminati banyak orang di seluruh dunia, "sex" and "fear" ditambah elemen-elemen kekinian seperti teknologi Internet dan the next generation of porn-sites, jadilah film erotic-thriller berjudul GIRLHOUSE (2014) ini.

Nah, berhubung gue udah pasang label 18+ di judul, so be wise ya, Guys, yang masih di bawah umur segitu mendingan tanggung jawab sama diri sendiri dengan mundur perlahan kayak undur-undur dan buka situs baca manga aja. #feels Nah, buat yang nggak mengakui umur sendiri, yang penasaran, yang emang suka hal-hal yang dilarang atau topik-topik tabu, yuk lanjutin baca review film GIRLHOUSE (2014) ala gue berikut ini.

GIRLHOUSE (2014) menceritakan tentang Kylie Atkins (Ali Cobrin), seorang mahasiswi yang sebenernya keliatan seperti gadis baik-baik nan lugu. Namun sejak sepeninggal ayahnya, ditambah dengan niat "mulia:" kalo dia nggak mau ngerepotin ibunya yang kini single parent buat memenuhi biaya kuliah, dia pun memutuskan untuk bergabung sebagai "cam whore" (gue sebut begitu) di sebuah situs XXX bernama "Girlhouse". Girlhouse ini sebenerrnya sebuah villa di sebuah tempat yang dirahasiakan, dengan sistem sekuriti yang canggih (katanya). Ditinggali oleh beberapa cewek seksi, dan terdapat ratusan CCTV di segala penjuru ruangan yang dapat diakses oleh premium member lewat website resminya. Member tentu aja jadi bisa berinteraksi lewat chat sambil menonton kegiatan demi kegiatan para cewek, mulai dari sejak tidur, makan, mandi, hingga aktivitas-aktivitas seksual mereka. Nah, dari sekian banyak member di seluruh dunia, terdapat seorang member ber-username LOVERBOY (Slaine). Dia adalah seorang pria gendut dengan masa kecil yang kelam. Dia pernah dilecehkan secara seksual oleh teman ceweknya, yang berujung dendam dan dia membunuh anak cewek tersebut dengan melemparkannya ke jurang. Tumbuh dengan menyimpan trauma, LOVERBOY jadi seorang psikopat yang haus akan perhatian dan kasih sayang wanita yang tulus tanpa melihat penampakannya yang jelek. Suatu hari, ketika Kylie Atkins bergabung ke dalam Girlhouse, secara ngga sengaja sikap ramahnya itu membuat LOVERBOY tertarik padanya. Kisah terus berlanjut, hingga salah seorang mantan "cam whore" yang pernah kabur memutuskan kembali ke Girlhouse. Dia merasa iri dengan keberadaan Kylie (yang memang pada saat itu jadi paling banyak diminati member), dan secara ngga sengaja menemukan foto LOVERBOY yang buruk rupa di laptop Kylie yang tertinggal di kamarnya. Cewek itu mencetak foto dan menempelkannya di ruang tengah, membuat LOVERBOY yang melihat foto tersebut (lewat CCTV) jadi salah paham terhadap Kylie dan akhirnya pergi ke Girlhouse untuk membantai semua cewek yang ada di sana. Di saat yang lain, Kylie sebenernya punya temen cowok yang diam-diam sudah tahu bahwa Kylie bergabung ke dalam Girlhouse. Ketika dia menyaksikan cewek-cewek disiksa lewat webcam, dengan segala upaya dia berusaha pergi ke Girlhouse dan menolong Kylie. Well, lebih lengkap lagi soal kisahnya mending nonton sendiri aja yak.


It's definitely a B-Movie, but doesn't feel like that
Maksud gue adalah film ini kalo dilihat dari budget yang digunakan, it's definitely a B-Movie. Udah gitu memang aslinya juga nggak tayang di bioskop, melainkan langsung dirilis dalam format DVD dan BluRay di negaranya setelah sempat diikutkan dalam sebuah ajang festival film internasional. Yang bikin menarik, pembawaan film ini mulai dari segi kualitas pengambilan gambar, sinematografi, dan alur cerita, film ini masih berada di level atas. Yep, ini memang film thriller mainstream dengan bumbu seksual yang cukup kental di dalamnya, ada sosok psikopat yang siap membantai satu per satu tokoh yang terlibat di dalamnya, tapi dalam prosesnya (walau masih terasa banyak plothole atau adegan maksa) kentara banget kok niat si pembuat film nggak cuma mau menonjolkan sisi seksualnya saja tapi juga plotnya. It's a cheap movie, but not that cheap in the content. Bahkan gue mesti acungin jempol buat film ini karena lebih baik ketimbang film sebelumnya pernah gue bahas juga EVERLY (2015).

WARNING: This movie contains a lot (not that lot, but so obvious) of nudity and BLOOD
Yah, walau sebenernya pemeran Kylie sama sekali ngga tampil nude dengan blak-blakan di dalam film (ini juga yang bikin gue berpikir kalo film ini dibuat nggak cuma sebagai fanservice), tapi bukan berarti pemeran lainnya begitu juga. Dibilang banyak pun sebetulnya nggak. Cuma sekalinya muncul, bener-bener terlihat jelas (bagian atas) dan dalam durasi adegan yang cukup panjang. Sebut aja adegan Heath (Elysia Rotaru) yang paling sering topless di film ini, mulai dari adegan keluar kamar mandi, ML sama langganannya, hingga akhirnya disiksa sama LOVERBOY pun dalam keadaan pamer boobies. Yah, mentang-mentang gede gitu deh. #plak. Selain itu ada juga Janet (Chasty Ballesteros) yang topless sekali. Terus ada yang berusaha survive dari dalem sauna yang terkunci dalam keadaan frontal nude. Tapi, gue lupa ini siapa. Sampe hapal gitu ya gue... haha.

Oke, cukup bahas nudity karena sebenernya udah jelas banget pasti ada kalo dilihat dari judul. Untuk ukuran sebuah film gore-thriller mainstream, film ini nggak pakai special effect, cuma beberapa efek manual yang cukup terlihat real lewat make up. Misalnya adegan tangan Devon (Alyson Bath) yang jemarinya dipotong satu per satu sama LOVERBOY, beneran bikin ngeri. Belum lagi adegan salah seorang pelanggan cowok di dalam Girlhouse yang akhirnya digergaji lehernya, and many more. Gue ngga nyaranin orang berjantung lemah atau mudah berasa jijik nonton film ini.

This movie sounds really good, but still lacks of something
First of all, gue agak nggak sreg sama pemeran "bos Girlhouse" yang ngaku-ngaku Hugh Hefner-nya dunia cyber. Di luar dari gaya sok elegannya, ke mana-mana dianterin Limousine, Gary Preston (James Thomas), sama sekali kurang berkharisma. Kedua, Girlhouse yang katanya punya sistem sekuriti tingkat tinggi ternyata bisa dengan begitu mudahnya di-hack sama LOVERBOY yang background soal teknisi jaringannya kurang begitu dibahas di sini. Terus bodyguard-nya juga terlalu gampang keok dan nggak waspada. But overall, adegan bunuh-bunuhannya dan bagaimana usaha Kylie mempertahankan dirinya sendiri cukup menarik buat disimak. Cuman ya, gue agak sebel sama kebegoan demi kebegoan yang dilakuin sama temen-temennya Kylie. Mungkin ini juga semacam unsur stereotipe kalo "cam whore" itu nggak punya otak. Entahlah. Yang jelas nggak perlu mikir terlalu dalam dan enjoy aja perkembangan ceritanya.

Most Favorite Scene:
Setiap adegan di mana ada Heath di sana. #plak

Score: 6/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

2 komentar:

  1. wih filmnya. btw, agak aneh jika tiba-tiba bisa sampai di rumah itu ya. katanya rahasia

    btw, saya ada nemu website buat webcam gitu. banyak nampilin adegan sensual lah. dimana itu di rekam secara streming

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yep, terlalu mudah ditembus hacker rahasianya, padahal kata founder-nya punya sistem sekuriti yang luar biasa. Prett lah... Wkwkwk... :))

      Hapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team