[18+] Review Film KNOCK KNOCK (2015)

KNOCK KNOCK (2015) movie review by Glen Tripollo
Alasan gue nonton ini ada dua. Pertama, aktor utamanya Keanu Reeves. Kedua, sutradaranya Eli Roth. Terus gimana hasil perpaduan dua nama yang menurut gue menjadi formula yang baik dalam hal menarik minat nonton banyak orang dan juga mengundang ekspektasi yang sangat tinggi terhadap film ini? Well, daripada penasaran, yuk simak review film KNOCK KNOCK (2015) ala gue berikut ini. Tapi, sebelumnya, gue mau ingetin lagi kalo review kali ini adalah review untuk film yang memiliki rating 18+. So, be wise ya, Guys!

Buat yang belum tau, KNOCK KNOCK (2015) sebenernya merupakan remake dari film klasik DEATH GAME (1977), yang mana tentu aja belum pernah sama sekali gue tonton. Kalo nemu nanti mungkin bakal gue cek langsung sebagai perbandingan. Sebelumnya pun sudah pernah dibuat remake versi Spanyol dengan unsur erotic yang lebih terasa, VICIOSAS AL DESNUDO atau  VICIOUS AND NUDE (1980). But for now, let's focus with this one. Ah, and just FYI, gue nggak nonton film ini di bioskop. I mean, apa asyiknya?

KNOCK KNOCK (2015) menceritakan tentang Evan Webber (Keanu Reeves), seorang pria bertanggung jawab, baik hati, dan menyayangi keluarganya yang berprofesi sebagai seorang arsitek sekaligus juga mantan DJ. Sementara istrinya adalah seorang seniman. Suatu ketika, istri dan dua anak Evan pergi beberapa minggu ke luar kota untuk menghadiri sebuah eksibisi peragaan seni, tepat di hari Ayah. Yep, sayang banget Evan nggak bisa ikut mereka karena punya project desain yang ngga bisa ditunda. Di malam harinya, saat hujan lebat turun, tiba-tiba aja pintu rumah Evan diketok. Begitu dibuka, ternyata ada dua gadis cantik, Bel (Ana de Armas) dan Genesis (Lorenza Izzo) yang basah kuyup mengaku tersesat dan butuh tempat untuk berteduh. Karena Evan baik hati, dia pun mempersilahkan kedua gadis itu masuk. Di dalam mereka berbincang-bincang, mulai dari hal biasa, hingga ke hal-hal yang sifatnya pribadi, hingga membuat Evan curiga dan merasa tidak nyaman. Well yeah, dari poster pun udah bisa dilihat kalo ternyata kedua gadis ini jahat. Mereka memaksa Evan dengan godaan maut mereka, melakukan threesome. Keesokan harinya, mimpi buruk Evan pun dimulai karena jelas bahwa kedua gadis ini adalah pyscho yang sudah sejak lama mengintai keluarga Evan sebelum melancarkan aksinya. Untuk lebih detailnya, silahkan cek sendiri filmnya ya!


Nggak perlu bicara soal plot
Karena, film ini (dengan segala kesederhanaannya) nggak punya plot yang nendang. Cuma sekedar dua cewek psycho yang mampir ke rumah cowok setia sama keluarga yang lagi sendirian, ngegodain si cowok, terus dengan kegilaan mereka mulai menyiksa si cowok yang dalam hal ini jelas nggak salah apa-apa (walau sebenernya Evan Webber ini punya satu kesalahan, yaitu terlalu bego dan terlalu baik). Nyaris nggak ada hal yang menarik di sini. Bisa dibilang segala ekspektasi gue runtuh gitu aja saat selesai nonton keseluruhan film. Gue pernah baca sebuah review yang mengatakan kalo film ini menyimpan plot twist yang menarik, nyatanya? It was wasting my time karena plot twist yang gue tunggu-tunggu tersebut sama sekali nggak ada. Segala yang kalian tebak di awal cerita bener-bener kejadian di akhir cerita. Eli Roth sebagai sutradara yang bahkan saat ini dijuluki raja dari film-film bergenre thriller begini bisa dibilang lagi menelurkan karya sampah dengan membawa-bawa nama aktor yang lagi naik daun setelah JOHN WICK (2014). Yeah, every famous people needs a breather by the way. Mungkin film abal-abal ini bisa dibilang proyek "ngisi waktu luang". Who knows~


Akting super buruk dari seorang Keanu Reeves
Bukan berarti akting beliau selama ini keren sih. Nggak, karena beliau ini lebih sering main film action yang mana ngga terlalu butuh banyak berakting secara ekspresif atau bermain-main dengan watak hingga menciptakan another personality cuma demi mendalami karakternya. Not necessary, but this movie, need a superb act. Bagaimana ekspresi orang yang tersiksa nahan rasa sakit? Gimana ekspresi orang ketakutan? Definitely, tidak seperti yang digambarkan Keanu Reeves di sini. Entah apakah ini berasal dari Keanu yang memang gak bisa akting, atau karena arahan sutradara, yang jelas everything wrong untuk karakter Evan Webber ini. Selain dari penggambaran adegan tersiksa yang sangat unbelievable, gesture dan gaya ngomong Keanu pun kaku banget di sini. Oke, adegan beliau ngobrol sama istri dan anak-anaknya dipakai candaan biar terkesan spontan, tapi yang gue tangkep justru cuma kegaringan. Sial, garing banget aktingnya. Efek dari garing dan kakunya akting Keanu berimbas pada tone suspense di sepanjang film. Sama sekali ngga terasa tegangnya. Yang paling parah adalah ketika akhirnya gue malah nangkep kalo karakter Evan Webber ini bego banget.

Secara mencengangkan akting Ana de Armas justru lebih baik dalam menjiwai karakter psycho yang hobi role play dalam bercinta. Terus dari sisi Lorenza Izzo sendiri, entah kenapa gue dapet feeling kalo doi ini bakalan cocok memerankan karakter Harley Quinn di film SUICIDE SQUAD (2016) yang akan datang.

What so wonderful in this movie?
That's a threesome of course. Penggambarannya lebih panas daripada film porno mana pun. Memang sih film ini punya inti masalah yang berakar dari peristiwa tersebut, jadi (menurut logika Eli Roth) bagian tersebut wajib banget di-shoot dengan sangat baik. Yes, satu-satunya adegan dengan sinematografi paling "niat" di film ini. Sayang banget ya? Padahal ada banyak adegan lain yang lebih bisa dieksplor tanpa perlu terlalu vulgar. By the way, just a trivia: Keanu Reeves menggunakan body double alias stuntman dalam adegan ini. Jadi ya, buat cewek-cewek penggemar Keanu Reeves, ngga usah ngerasa tersakiti hatinya ya. Haha.

Lame acting, lame joke (di bagian ending), penggambaran yang terlalu vulgar yang sebetulnya bisa hemat cost banyak kalo dipangkas seperlunya dan dipakai dananya buat ngebangun adegan jadi lebih suspenseful. Ide cerita yang sederhana (dan sebetulnya berpotensi jadi menarik) namun disampaikan dengan cara yang menurut gue payah. So, don't waste your time for this piece of garbage. Silahkan cek film-film lain yang lebih punya mutu dan berbobot.

Score: 5,5/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

13 komentar:

  1. Akhirnya gimana seh? Bisa di critain ga? Nonton setengah filmnya rusak hiks hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. *SPOILER*
      Akhirnya si Keanu ditanem di dalem tanah. Kepalanya doang yang nggak dimasukin ke tanah. Jadi setelah seminggu dalam keadaan seperti itu, ya tebak aja sendiri. hihi.

      Hapus
  2. Nggak rugi kok gak nonton..bikin sendiri aja.ending nya. Orang Udh ketebak dari awal..Haha

    BalasHapus
  3. Barusan nonton film ini, barusan aja sambil makan sahur... entah mau ngedeskripsi'in film ini mau yg bagus apa jelek, aku rasa ini dibawahnya jelek... sumpah garing banget -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh nontonnya sambil sahur... hihihi

      Hapus
  4. Endingnyaaa gt doang... Hadeh. .sayangg aja aktor se terkenal itu main film bginian.... Gaknjelasss bggt ni film..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keanu Reeves emang dari dulu kayaknya kalo pas main film bagus, bagus banget. Yang sampah, ya jelek banget. Hahaha..

      Hapus
  5. Barusan banget liat film ini dan nyesel

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaha. Kesel ya liat Keanu ngga berdaya gitu. Cupu banget kayaknya jadi cowok.

      Hapus
  6. njay tpi jangan salah dia di jhon wick 2 beda 360 derajat ama perannya di film ini :D

    BalasHapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team