Review Film THE 5TH WAVE (2016)

THE 5TH WAVE (2016) movie review by Glen Tripollo
Hal pertama yang mendorong gue nonton film ini adalah karena penampakan Chloe Grace-Moretz yang gede banget di posternya. Gue masih belom ada gambaran waktu itu, film ini tentang apa, kecuali soal invasi alien. Karena kebetulan gue suka Chloe, suka juga film-film bertemakan invasi alien seperti ini, gue putuskan buat nonton. Yah, waktu itu juga kebetulan temen gue dari Bali dateng ke rumah dan langsung ngajakin nonton film ini. Terus gimana dengan filmnya? Yuk, lanjut baca review film THE 5TH WAVE (2016) ala gue berikut ini!

THE 5TH WAVE (2016), menceritakan invasi alien ke bumi lewat beberapa tahapan penyerangan. Tujuannya adalah untuk mengambil alih bumi dan memusnahkan seluruh umat manusia. Untuk itu, ada beberapa langkah yang dilakukan mereka. Pertama, mereka meledakkan gelombang elektromagnet yang mematikan seluruh perangkat elektronik dan juga listrik di bumi. Bumi jadi dilanda kegelapan, nggak ada kendaraan, dan memaksa manusia untuk keluar rumah, mencari jalan dan makan untuk bertahan hidup. Kedua, mereka membuat gempa bumi yang menjadi pemicu terjadinya bencana alam lainnya. Kota besar dilanda tsunami dahsyat, menyapu sebagian besar manusia. Tapi tetep, masih ada beberapa manusia yang berhasil bertahan hidup dari bencana tersebut. Maka mereka pun melancarkan serangan ketiga, yaitu lewat wabah penyakit flu burung yang telah dimutasi hingga menjadi lebih kuat dari yang seharusnya. Tetap saja manusia memiliki kondisi tubuh yang beda-beda, ada yang akhirnya sembuh ada juga yang benar-benar kebal. Demi menghabisi yang tersisa, mereka pun akhirnya turun dari kapal induk dan memburu setiap manusia yang berkeliaran tanpa arah.

Nah, tersebutlah Cassie Sullivan (Chloe Grace-Moretz), seorang remaja SMA yang kehidupannya jadi berubah drastis 180 derajat. Tadinya punya ayah dan ibu yang akhirnya tewas hingga akhinya meninggalkan dirinya bersama dengan adik laki-lakinya yang masih kecil, Sam Sullivan (Zackary Arthur). Sebuah adegan pun membuat Cassie terpisah dengan Sam. Sam dibawa oleh para tentara ke pangkalan militer untuk dididik sebagai prajurit muda dan memerangi alien yang diduga telah berada di antara para manusia dengan mengambil wujud manusia biasa dengan semacam parasit menempel di otaknya. Cassie berjuang sendiri bertahan hidup demi menjemput sang adik, hingga dirinya bertemu dengan laki-laki misterius, Evan Walker (Alex Roe) yang menyelamatkannya ketika kaki Cassie tertembak. Sementara itu di pangkalan militer Sam bertemu dengan Ben Parish/Zombie (Nick Robinson), teman SMA sekaligus juga love interest kakaknya. Sebuah kisah cinta segi banyak pun terbentuk di sini, menghiasi konflik utama yang berupa misi untuk melawan kembali para alien yang berusaha merebut bumi. Selanjutnya silahkan tonton sendiri aja ya!


Ternyata adaptasi dari novel young adult
Yang mana akhirnya gue tahu kalo film semacam ini pasti bakal ada sequel-nya--hanya jika berhasil menyedot banyak perhatian penonton. Diangkat dari novel yang berjudul sama karya Rick Yancey yang terbit di tahun 2013, dengan rating nilai yang cukup tinggi di Goodreads. Nggak aneh kalo pada akhirnya menarik perhatian produser film untuk segera mengadaptasinya ke dalam sebuah film skala besar seperti ini. Yah, pantas aja sih dari segi premise yang sebenarnya menjanjikan, gaya penyampaian kisahnya itu mengingatkan gue sama beberapa film-film lain yang juga diangkat dari young adult novel, seperti DIVERGENT, THE HUNGER GAMES, hingga TWILIGHT dan THE MAZE RUNNER. Bagaikan beberapa elemen yang ada di novel-novel tersebut dijadikan satu dan menjadikannya sebuah kisah baru. THE 5TH WAVE (2016) ini. Entahlah bagaimana dengan versi novelnya sendiri, karena gue belum pernah baca. Tapi yang jelas, akhirnya gue tau formula mainstream dari kisah-kisah sejenis ini. FYI, kalo belom tau, film ini kemungkinan besar akan dibuatkan sequel dengan judul THE INFINITE SEA dan juga THE LAST STAR.

Great disaster special effect, but just that~
Special effect di film ini ngga semuanya pantas diacungin jempol. Tapi untuk penggambaran singkat bencana alamnya bener-bener bagus dan terkesan real. Selebihnya masuk kategori standar. Mulai dari teknologi X-ray yang dipakai tentara untuk mendeteksi alien, berasa banget kayak sekedar tempelan animasi secara kasar dan kurang nge-blend. Akhirnya jadi keliatan kayak video game.


Alur cerita yang agak gimana gitu, serta akting Chloe Grace Moretz dan yang agak kaku
Film ini dibuka dengan adegan solo Chloe Grace Moretz yang lagi lari-lari di tengah hutan hingga akhirnya sampai ke sebuah mini market di area pom bensin yang udah berantakan, ngambilin makanan, dan ketemu sama orang terluka yang dia tembak karena diduga alien. Selanjutnya, langsung flashback dan kembali lagi ke adegan terakhir dengan sedikit pengulangan, selanjutnya baru maju lagi. Gue nggak masalah sih sama gaya alur kisahnya, cuma di beberapa bagian jadi terkesan agak buang-buang waktu (adegan di awal tersebut) karena bakal lebih baik kalo dibuat alur maju saja terus, jadi penonton yang awalnya udah excited di awal, mendadak langsung disuruh tarik napas lagi nonton adegan awal mula terjadinya serangan alien dari gelombang pertama. Kecepatan alur juga agak melambat setelah kembali ke present time, membuat film berdurasi 112 menit ini berasa kayak film 130 menit. Sial banget sampe berasa pegelnya. Hehe, itu artinya beberapa adegan memang terasa kurang seru untuk disaksikan. Baru ketika setengah jam terakhir menjelang ending, di sanalah hal-hal exciting mulai dimunculkan. Ditambah plot twist yang sebetulnya udah bisa ketebak banget dari awal (berhubung gelagat karakternya mencurigakan), unsur shocking-nya jadi ngga berasa lagi.

Sebetulnya yang paling nyebelin adalah kenyataan bahwa di tengah-tengah tema penyelamatan adik di tengah-tengah kondisi diinvasi oleh alien ada unsur romance yang berpotensi berkembang jadi kisah cinta segiempat dengan aura-aura khas TWILIGHT. Semoga ke depannya (kalau dibuat sequel) perkembangan karakter Cassie Sullivan ini nggak jadi seplin-plan dan senyebelin Bella Swan.


Hal nyebelin kedua adalah terlalu gampangnya Cassie menembus pertahanan musuh dan mengambil kembali adiknya yang semula terpisah dengan dirinya. Ditambah Cassie punya perawakan tubuh yang "mini" untuk anak-anak seumurannya, melawan mereka yang seharusnya bertubuh kuat, rasanya terlalu mudah. Terus juga pertemuan Cassie dengan Zombie a.k.a. Ben Parish yang super duper kebetulan. Jangan lupa juga kalo di sini banyak sekali plothole yang bertebaran.

Selanjutnya adalah akting dari Chloe Grace Moretz sendiri yang berasa kaku di sini. Gue nggak tau apa dia beneran grogi adu peran sama aktor pendatang, Alex Roe (Evan Walker), yang jelas gimmick-nya berasa banget anehnya. Bahkan gue mesti acungin jempol sama Zackary Arthur (Sam Sullivan), yang kebagian jadi adik Cassie, aktingnya jauh lebih natural. LOL. Tapi, nggak apa-apa lah, karena ke-cute-annya, Chloe gue maafkan. #eh


Akhir kata, film ini enjoyable, but not that awesome. Bukan film adaptasi novel yang baik sampai bisa bikin gue excited macam THE MAZE RUNNER (2014), bukan juga yang super mengecewakan kayak THE MORTAL INSTRUMENTS: CITY OF BONES (2013). Yah mari kita harapkan yang terbaik di kelanjutannya. Sebagai pedoman orangtua, film ini aman kok disaksikan sama segala kalangan dan umur. Yang perlu diwaspadai ya cuma adegan kissing aja yang udah lumrah ada di film bertemakan remaja seperti ini. Lagipula kalo liat di bioskop beberapa adegan sepertinya ada yang di-cut sih. Jadi makin aman.

Best scene:
Adegan ketika gelombang ke-2 terjadi, yaitu bencana alam. Walau penggambarannya singkat, tapi bener-bener berhasil bikin gue tegang.

Score: 7,5/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

3 komentar:

  1. Wajar film adaptasi susah diikuti klo blm baca bukunya,tapi daripada hunger game aku lebih pilih ini meski agak bosan lihat anak-anak latihan militer,aq sudah baca ke tiga bukunya dan kecewa karena endingnya sama banget sama divergent, heran aja buku populer kok endingnya nyontek. Tp positif nya gak ada Cinta segi tiga di sini, dan aku lebih setuju evan yang menembak casey, tp di versi filmnya kemarin agak beda ahirnya malah jadi drama yang gak penting ugh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yep, saya belum baca bukunya. Tapi kalo saya sih punya pemikiran kalo film adaptasi novel yg bagus itu yang bisa bikin enjoy penonton awam walau belom baca novelnya.. :D

      Hapus
  2. menurut ku perfect bgt ko . aku suka . bhkan aku blm baca bukunya . asli pemaninnya juga ga kaku . bagus bagus aja tuh . wkwk

    BalasHapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team