Review Film TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES: OUT OF THE SHADOWS (2016)

Sukses dengan film perdananya, TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES (2014), walaupun pada saat itu film remake besutan produser Michael Bay ini sempet mendapatkan respon yang beragam soal redesign penampilan keempat kura-kura ninja, toh tidak menghentikan niat studio produksi untuk melanjutkan pembuatan film sequel-nya yang berjudul TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES: OUT OF THE SHADOWS (2016). Gue sendiri secara pribadi nggak menilai buruk kualitas film perdananya, bahkan gue sempat merasa kalau proses redesign karakter keempat kura-kura ninja merupakan langkah yang cukup brilian dan efektif walau memang agak riskan untuk dilakukan, terutama karena para fans sejati yang pastinya nggak akan terima begitu saja perubahan wujud dari keempat kura-kura. Sebenernya cuma gara-gara belum terbiasa aja sih kayaknya. Terus gimana dengan film terbarunya ini? Yuk, simak review film TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES: OUT OF THE SHADOWS (2016) ala gue berikut ini.

TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES: OUT OF THE SHADOWS (2016) masih punya fokus cerita yang nggak jauh dari film perdananya. Seperti yang kita tahu, kalo big bad villain para kura-kura, Shredder, di film pertamanya berhasil dikalahkan namun tidak sampai meregang nyawa, sehingga dirinya hanya dimasukkan ke dalam sel tahanan. Nah, kali ini Shredder (Brian Tee) memanfaatkan kejeniusan Baxter Stockman (Tyler Perry) untuk membantunya kabur dengan menggunakan alat teleportasi, sayangnya saat Shredder melintasi portal, dirinya ditarik oleh sesosok alien dengan wujud berupa otak raksasa berwajah masam dan berbadan robot bernama General Kraang (Brad Garrett). Kraang yang saat itu punya rencana ingin menguasai bumi meminta bantuan Shredder untuk mengumpulkan kepingan teknologi miliknya yang dapat membuat "jalan pintas" kapal luar angkasanya melintasi atmosfer bumi. Sebagai gantinya, Shredder meminta sesuatu sebagai alat untuk mengalahkan para Turtles. General Kraang memberikan cairan aneh yang mampu mengubah manusia menjadi makhluk mutan secara instan, begitu pula sebaliknya.


Shredder menggunakan cairan tersebut pada dua orang narapidana idiot yang dikenalnya saat sedang melarikan diri, Bebop (Gary Anthony Williams) dan Rocksteady (Stephen Farelly), yang masing-masing berubah menjadi sosok babi hutan dan badak yang tampak kokoh luarnya tapi super bodoh di dalamnya. April O'Neil (Megan Fox) menyaksikan perubahan ini dengan mata kepalanya sendiri dan berinisiatif dengan cara yang super nekat, mengambil sampel cairan tersebut hingga akhirnya dikejar-kejar oleh para ninja Foot Clan bawahan Shredder. Di sana, April ditolong sama Casey Jones (Stephen Amell), seorang police officer dan atlet hockey merangkap vigilante yang sedang dalam misi menangkap kembali Rocksteady dan Bebop. Casey pun bertemu dengan para kura-kura dan bekerja sama. Berhasil nggak sih mereka menghentikan Shredder? Bagaimana dengan rencana invasi bumi General Kraang? Yang jelas kali ini para kura-kura ninja sadar, bahwa untuk melindungi kota mereka tidak bisa selamanya berperang di dalam kegelapan. Sudah saatnya mereka menunjukkan diri di hadapan manusia lainnya.

Desain para Turtles yang lebih baik ketimbang film sebelumnya
Mungkin kalo melihat sekilas nggak terlalu keliatan perbedaannya, tapi ada satu ciri yang jelas dari penampilan para Turtles kali ini, pertama tone warna kulit mereka lebih light, lebih minim kerak kulit, dan gaya berpakaian mereka yang sekarang jauh lebih simpel dibandingkan film pendahulunya yang terlalu banyak memakai aksesoris. Karena ini film baru, gue belum bisa ngasih beberapa screenshot buat pembuktian, tapi kalo kalian cek di Google Images, kalian bisa membandingkannya sendiri. Mungkin ini juga yang membuat tampilan Turtles di film keduanya terasa lebih fresh dan lebih baik ketimbang sebelumnya. Gue suka dengan desain baru Turtles di film sebelumnya, tapi kali ini mereka berhasil menyempurnakannya. Terlebih, di sini Turtles lebih menonjolkan perbedaan karakteristik dan sifat masing-masing personilnya. Sangat berhasil karena didukung perbedaan tampilan fisik antar keempatnya. Berbeda dengan komik, kartun, dan film klasiknya yang semua kura-kura didesain serupa, hanya berbeda pada bagian warna topengnya aja. Gue inget banget dulu suka lupa yang mana Raphael, yang mana Michaelangelo, karena cuma bisa bedain lewat warna topengnya aja, kali ini jadi lebih mudah membedakan karena bentuk fisik mereka pun beda satu sama lainnya. So, dibandingkan film-film terdahulunya, juga berbagai format lainnya, Turtles di sini makin terasa lebih hidup dan lovable. Thanks to the great CGI effects~! Tapi tetep ya, soal baik buruknya re-design ini tergantung dengan selera kalian masing-masing.

 

Banyak karakter komik yang diperkenalkan di sini sekaligus.
Nah, apalagi yang bikin film adaptasi komik menjadi super excited untuk dinantikan selain karena menunggu penampilan demi penampilan versi live action dari karakter-karakter pendukung dan villain di dalam film? Di sini juga sama. Ada banyak karakter komik yang mulai diperkenalkan di sini. Mulai dari Casey Jones, lalu Rocksteady and Bebop (musuh bebuyutan para kura-kura yang sangat ikonik setelah Shredder tentunya), terus juga General Kraang yang menggemaskan. Belum lagi ada Baxter Stockman, yang mana para fans pasti tahu kalo ke depannya dia bakal bermutasi jadi makhluk berbentuk lalat dan beraksi melawan para kura-kura memanfaatkan berbagai teknologi ciptaannya (semoga kita bisa liat doi dalam bentuk ini di film selanjutnya). Cukup banyak karakter komik muncul dalam satu film, membuat film sequel-nya ini lebih comical dan terasa banget adaptasinya dibandingkan film pertamanya.

Plot simpel yang mudah dimengerti dan diikuti
That's why gue juga nyebut film TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES: OUT OF SHADOWS (2016) ini sebagai popcorn movie.Plot teramat sangat sederhana, no plot twist, alurnya selalu maju, good guys versus bad guys, bagaikan nonton TV Series POWER RANGERS, yang mana memang intinya ceritanya bener-bener dibuat untuk anak-anak. Mari kesampingkan dulu adegan Megan Fox nyamar jadi schoolgirl gaul yang lumayan bikin gerah para remaja *uhuk* gue juga *uhuk*, kalo adegan itu diilangin, film ini bener-bener jadi pure kids movie. Intinya, memilih film ini untuk dijadikan tontonan keluarga merupakan pilihan yang tepat. Karena santai, seru, tapi nggak perlu pakai mikir.



Fight scene para Turtles yang sedikit
Perbedaan lainnya antara film perdana dan sequel-nya ini adalah suguhan fighting scene. Kalo di film perdananya, diperlihatkan cukup banyak adegan bertarung para Turtles melawan para ninja Foot Clan di dalam kegelapan, bayang-bayang malam, setidaknya para penonton disajikan adegan yang dengan jelas menunjukkan kehebatan dan kelincahan para Turtles dalam menghajar lawan-lawannya. Beda lagi dengan sequel-nya. Gue ngamatin dan nyoba inget-inget lagi adegan berantem di sepanjang film. Kebanyakan dilakukan justru sama April O'Neil dan Casey Jones. Sedangkan porsi pertarungan para Turtles yang murni menunjukkan skill berantem mereka cuma bisa dilihat pada adegan final battle melawan General Kraang. Ini serius, selebihnya para Turtles cuma diperlihatkan melakukan adegan-adegan seru nan menegangkan seperti menghindari tembakan tank, lompat dari pesawat, dan jatuh di air terjun. Bahkan nggak ada adegan bag big bug secara langsung antara Turtles dengan Bebop dan Rocksteady. Cuma lari, salto, menghindar, dorong-dorongan. Well, khusus untuk fighting scene, gue ngga begitu puas karena satu-satunya fight scene pun ternyata berakhir dengan gitu doang. Jadi, kalo kalian nonton ini dengan mengharapkan aksi para Turtles yang melibas musuhnya dengan lincah, mending lupakan.

Penggemar komik dan animasi Ninja Turtles pastinya udah fully aware kalo mereka punya musuh dari berbagai kalangan, mulai dari ninja, ilmuwan berteknologi alien, mutan, hingga alien itu sendiri, nah tapi entah kenapa tetep aja gue ngerasa sedikit kaget sama dunia versi live action di film keduanya ini. Kemunculan General Kraang yang tiba-tiba, bikin otak gue telat memproses keberagaman jenis musuh-musuh para Turtles. Ditambah ekspresi Shredder yang biasa banget waktu pertama kali liat General Kraang, seolah bertemu alien adalah hal yang lumrah, padahal di film sebelumnya, nggak ada clue kalo Ninja Turtles universe juga melibatkan makhluk-makhluk luar bumi, hanya menonjolkan teknologi bio-chemistry bernama Mutagen doang. Jadi, yah, gue seperti loading sejenak menyerap adegan General Kraang, sebelum akhirnya sadar, "Ah, iya... musuh Turtles kan ada alien juga."

Overall, gue bisa bilang konflik di film keduanya ini lebih massive, karena melibatkan banyak karakter baru, special effect juga jauh lebih nendang ketimbang yang pertama. FYI, buat yang mau nonton versi 3D, sebetulnya bagus kok, efek 3D (keluar layar) berasa dan tersaji baik. Namun, untuk menikmati adegan-adegan cepat yang melibatkan pergerakan kamera yang luar biasa musingin, lumayan bisa bikin kalian mual. Mendingan nonton versi standard aja sih gue bilang. Selain adegan Megan Fox iket kemeja, nggak ada lagi adegan yang mesti dikhawatirkan. Cocok banget buat ditonton sama keluarga dan juga penggemar Stephen Amell di TV Series ARROW. Tingkat komedi di sini masih sama dengan yang pertama, bedanya di sini (mungkin karena lebih light dan lebih banyak comic references-nya) jadi berasa sedikit komikal. But, in a good way.

NB: Secara keseluruhan gue bisa bilang film keduanya ini lebih baik ketimbang yang pertama, hanya saja nggak ada adegan yang sepertinya bisa terus nempel di ingatan kayak adegan Turtles beatbox di dalam lift. Tapi, ekspresi Raphael saat lompat dari pesawat itu gold banget... :)) Oh ya, satu lagi, ngeliat nasib tokoh-tokohnya di film ini, gue rasa dua tahun lagi bakal muncul sequel selanjutnya~!

Score: 8/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team