Review Film TAG -RIARU ONIGOKKO- (2015)

Udah lama nggak bahas film selain keluaran Hollywood. Berhubung gue sempet sakit beberapa minggu dan nggak ada hal lain yang bisa gue lakuin selain tiduran di kasur and nonton film, akhirnya sekalian deh gue cek film yang sebetulnya udah lama nangkring di dalam koleksi gue, tapi belom sempet buat ditonton. Film yang asalnya dari negeri Matahari Terbit yang sempet heboh di kalangan netizen pecinta film berdarah-darah alias gore fest.

Mungkin kalo memang penggemar berat sutradara Jepang yang bernama Sion Sono, nggak akan melewatkan film yang satu ini. Pasalnya, lagi-lagi di sini Sion-sensei akan memamerkan kepiawaiannya dalam membuat film-film bloody absurd dengan sentuhan khasnya. Kalian pasti pernah juga nonton film Sion-sensei sebelumnya di tahun 2014 yang berjudul TOKYO TRIBE (2014) atau SHINJUKU SWAN (2015)? Keduanya memiliki ciri khas kental dan keunikannya masing-masing. Walau begitu tetap berasa sekali signature dari Sion-sensei dalam gaya penyajian kisahnya. Tak begitu berbeda dengan film ini, TAG (2015) atau dalam bahasa Jepangnya berjudul RIARU ONIGOKKO (2015). Not his best piece, tapi tetep punya keseruan tersendiri untuk disaksikan. Yuk, simak terus review gue untuk film TAG -RIARU ONIGOKKO- (2015) berikut ini.


TAG -RIARU ONIGOKKO- (2015) bisa dibilang punya isi cerita yang cukup unik (atau absurd) secara keseluruhan. Kisahnya dibuka dengan adegan sekelompok pelajar yang sedang melakukan perjalanan darmawisata menggunakan bus. Selayaknya remaja yang berbahagia, mereka saling bernyanyi, bercanda, perang-perangan bantal sampai bulu angsanya berterbangan ke mana-mana (oke, yang ini nggak wajar). Tersorotlah seorang cewek semi bule bernama Mitsuko (Reina Triendl) yang sedang mengambil alat tulisnya yang terjatuh di lantai bus, sesaat kemudian angin aneh menerpa dan membuat bus tersebut terbelah menjadi dua bagian secara horizontal berikut para penumpangnya. Cuma Mitsuko yang selamat dalam kejadian tersebut, sementara teman-temannya udah berubah layaknya bongkahan daging potong. Mitsuko yang shock langsung lari sejauh-jauhnya ke dalam hutan dan mencuci muka di sungai. Mengganti pakaiannya dengan pakaian salah satu mayat yang masih bersih dan berlari kembali hingga sampai ke sebuah sekolah. Di sekolah, Mitsuko yang ketakutan dijaga oleh sejumlah sahabatnya. Awalnya, kejadian yang dialami Mitsuko terasa seolah hanya ada di dalam imajinasinya saja dan perlahan dirinya pun menjadi lebih tenang karena perasaan aman di lingkungan sekolahnya. Namun, kenyataan berkata lain. Sebuah kejadian terjadi di sana, dan menewaskan teman-temannya, membuat Mitsuko harus kembali berlari menyelamatkan diri dari maut. Namun, anehnya, setiap kali ia berlari, ia akan sampai pada satu titik di mana dirinya akan berganti peran menjadi orang lain dan menghadapi tantangan yang berbeda pula. Seperti menjadi Izumi (Erina Mano) dan Keiko (Mariko Shinoda). Satu orang teman Mitsuko juga selalu muncul dalam peran yang aneh sebagai pendukung Mitsuko dalam menghadapi segala rintangan. Pelan-pelan, petualangan mengerikan Mitsuko pun lama-kelamaan terasa seperti sebuah video game. Apa sebetulnya yang sedang dihadapi oleh Mitsuko? Di mana sebetulnya ia berada? Apakah di dunia nyata ataukah di dunia lain? Well, saksikan sendiri filmnya kalau belum pernah nonton ya!

(Warning! Graphic content)
Angin yang amat sangat nakal. Menyerang bus yang isinya cewek semua.



98% yang tampak dalam film ini adalah perempuan. 80% schoolgirl, sisanya wanita dewasa
Entah kenapa kok rasanya kayak statistik bokep, lagipula gue nggak bener-bener sedetail itu sampe melakukan perhitungan. Sudahlah, yang jelas film ini memang dipenuhi sama perempuan. Setting sekolah Mitsuko adalah all girl school, mulai dari murid, guru, bahkan supir bus untuk darmawisatanya pun perempuan. Bukan cuma sekolah Mitsuko, ketika adegan beralih dari sekolah ke pesta pernikahan Keiko, tamu undangannya pun perempuan semua. Satu-satunya cowok yang ada di sana malah pakai topeng babi. Ditambah adegan ketika Mitsuko menjadi Azumi dan ikut lomba lari marathon, pesertanya hingga penontonnya pun perempuan semua. Sejauh mata memandang di setiap adegan, di sana pasti adanya perempuan. Jadi, gue ngerasain hal yang lumayan aneh di cerita film ini. Sengaja banget ini menceritakan sekumpulan perempuan yang berusaha menyelamatkan diri dari kejadian berdarah-darah. Tapi tenang, kalau kalian merasa jengah menyaksikan film yang dari awal sampe akhir berisi perempuan doang, ada kabar baik. Yaitu, sekumpulan pria akan muncul (dengan gaya busana super absurd) di lima belas menit menjelang ending. Oke, itu bukan kabar baik.

Feel yang dirasakan tentang film ini begitu aneh
Like I said many time before, film ini sebenernya aneh. Bisa dikatakan isi ceritanya begitu surealis yang  bakal bikin kita ngerutin dahi untuk bisa bener-bener memahami awal hingga pertengahan cerita. Namun, ngga peduli seberapa keras kita berusaha buat memahaminya, tetep aja kita baru bakal paham nanti menjelang ending. Karena film ini mengandung plot twist yang agak sulit untuk dijelaskan, dan juga twist-nya ini merupakan hal yang bisa dikatakan tiba-tiba, terlalu keluar jauh dari bayangan awal, atau bisa juga dikatakan maksa. Hahaha. Kalian akan merasa sama bingungnya dengan Mitsuko dan berusaha mencerna segala misteri yang tersebar di sepanjang cerita yang ternyata sebetulnya sama sekali nggak menyisakan petunjuk apapun tentang kesimpulan akhirnya.


Ini pas Mitsuko berubah jadi Keiko, dan mesti nikah sama pengantin babi (no pun intended)

Seolah sang sutradara dan penulis ceritanya mengajak para penonton untuk duduk manis dan enjoy an adventure full of madness. Sampai akhirnya kita sadar sendiri kalau keabsurdan dan kerumitan ceritanya justru memang sebaiknya dibiarkan saja seperti itu dan nggak perlu terlalu banyak menguras otak untuk memikirkannya terlalu mendetail.

Special effect yang nggak perlu diharapkan lebih
Penggemar film Jepang, terlebih yang mengambil tema fantasy dan gore, udah biasa banget lah pastinya ngerasain bagaimana special effect-nya dibuat. Dengan kualitas yang bener-bener tanggung mendekati keliatan bohongannya, seperti itulah kira-kira. Nggak jauh beda sama film horror gore lainnya, seperti yang kemaren sempet gue review, AS THE GODS WILL - KAMISAMA NO IU TOORI - (2014) atau bahkan film jadul macem BATTLE ROYALE (2010). Intinya, special effect nggak perlu diharapkan bakal bagus banget, tapi masih tergolong bisa dinikmati deh. Nggak ancur-ancur amat. Hehe.

Akhirnya yang bisa gue bilang soal film ini adalah: film ini jelas bukan konsumsi anak di bawah umur. Karena adegan sadis yang tersebar di mana-mana, badan terpotong, darah muncrat-muncrat, dan adegan yang kelewat absurd nan membingungkan juga nggak bakalan mungkin bisa dimengerti sama anak kecil. Lagipula tokoh di dalam film kebanyakan cewek, dan ada adegan yang menampilkan puluhan wanita yang mendadak membuka baju mereka dan memamerkan ekspresi silly face sambil mengguncang-guncangkan payudara besar mereka yang hanya tertutup bra. Sama sekali bukan tontonan yang sehat. Jadi, gue nggak merekomendasikan film ini untuk ditonton sama kalian, namun bagi siapa yang tetep penasaran (mungkin karena sudah pernah baca versi novelnya) gue sarankan tonton di waktu yang tepat dan di saat bener-bener pikiran sedang rileks. Kalau nggak, mungkin yang ada kalian semakin pusing sama pembawaan cerita film ini.

NB: Seperti yang sudah bisa diduga dari Sion Sono-sensei, film yang dibuatnya selalu aneh dan bikin greget, serta ada kandungan unsur "dewasa" baik tersirat maupun tersurat di dalam filmnya. Gue pribadi masih lebih menikmati film TOKYO TRIBE (2014) sih.

Score: 6,5/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team