Review Film IT FOLLOWS (2015)

IT FOLLOWS (2015) movie review by Glen Tripollo
Kali ini gue mau bahas film horor yang udah gue tonton sejak tahun lalu, tapi entah kenapa mood gue buat nulis review-nya ngga pernah muncul. Sampai akhirnya gue memutuskan buat nonton ulang and menyelesaikan tulisan gue ini. Mungkin bisa dikatakan film ini adalah pertama kalinya gue bener-bener ngeliat Maika Monroe di dalam film (sebelumnya doi ada di THE GUEST (2014) tapi gue kurang ngeh kalo itu dia) Pokoknya setelah film ini, gue jadi sering ngeliat doi nongol di berbagai film-film mainstream kayak THE 5TH WAVE (2016) sama INDEPENDENCE DAY: RESURGENCE (2016). Well yeah, back to the topic! Jadi gimana film yang satu ini? Yuk, simak terus review gue untuk film IT FOLLOWS (2015) berikut ini.

"IT FOLLOWS (2015)" menceritakan seorang gadis remaja bernama Jay Height (Maika Monroe) yang punya pacar bernama Hugh (Jack Weary). Sesuatu mengenai Hugh pun sebetulnya masih misteri bagi Jay, but, namanya cinta buta ala barat, mereka pun melakukan seks di dalam mobil. Kejadian aneh pun dialami oleh Jay pasca melakukan hal tersebut. Tiba-tiba dirinya jadi bisa melihat penampakan sosok orang-orang tak dikenal dan mencurigakan yang berjalan dengan lambatnamun sama sekali tak pernah berhentimengikutinya ke mana pun dirinya pergi. Sosok yang mengikutinya ini bisa berubah jadi siapapun yang dikehendakinya, memberikan teror di mana pun Jay berada hingga mengancam keselamatan dirinya. Hugh yang sebetulnya merasa agak bersalah dengan apa yang dilakukannya memberitahu bahwa apa yang dilihat Jay adalah perwujudan dari sebuah kutukan aneh yang bisa berpindah melalui hubungan seksual. Hugh selama ini sudah berjuang keras melarikan diri dari sosok-sosok aneh tersebut hingga akhirnya memanfaatkan Jay untuk melepaskan kutukan tersebut. Lantas bagaimana nasib Jay? Terlebih yang bisa melihat perwujudan kutukan itu hanyalah Jay seorang. Kalau belum pernah nonton, silahkan tonton sendiri buat tau jawabannya ya! Hehe.

Didapuk sebagai the new type of horror
Yup, ketika awal mula perilisannya, gue inget banget di dunia maya banyak yang bahas film ini hingga memberikan predikat the new type of horror untuk film ini. Tapi apa bener begitu? Mungkin bisa juga dikatakan begitu, karena horror yang mengandung makna satir dan benar-benar menyindir kehidupan remaja masa kini baru gue temukan di film ini. Ini ibarat menganalogikan suatu hal yang negatif di kehidupan masa kini dengan suatu hal yang horor. Sumber rasa takut di sini memang berasal dari kutukan yang berwujud dan bergerak mengikuti targetnya, tapi rasa anziety, takut dan cemas yang ditekankan di sini lebih seperti menggambarkan dampak psikologis dari perbuatan yang sudah dilakukan oleh si tokoh utama. Jadi, apa benar ini tipe baru horor? Gue rasa ya. Not the best horror thou, tapi dari segi penyampaian dan isi cerita, ditambah gaya sinematografi yang dipakai, gue rasa film ini pantas menyandang gelar tersebut.

Ini adegan di mana Jay baru selesai di-exe sama Hugh, dan ditunjukkan kutukan apa yang bakal menghantuinya

It's a personification of Sexually Transmitted Diseases (STDs)
Secara pesan moral, memang sebetulnya film horor ini berasa banget ngasih didikan kepada para remaja, khususnya remaja yang suka melakukan seks bebas. Di sini kutukan ditularkan secara seksual, membuat perasaan cemas dan takut dan perasaan bersalah merundung si pelaku. Persis seperti efek psikologis setelah melakukan hubungan badan dan kemudian merasa cemas apakah dirinya sudah tertular penyakit menular seksual atau tidak. Lebih jauh lagi soal kutukan tersebut yang mana bila si korban tidak mampu melarikan diri, maka perwujudan makhluk yang berupa manusia-manusia random itu akan membunuh si korban. Persis seperti orang yang takut tertular dan kemudian dibayang-bayangi kematian. So, dari sisi ini, gue anggap ini adalah pesan moral yang benar-benar positif dengan target penonton para remaja agar lebih berhati-hati dalam pergaulan.

Elemen gore-nya dikit, malah banyak nudity
Ada satu hal yang agak mengganjal dalam film ini, terutama cara penyampaian kontennya. Saat film ini dimulai, penonton akan disuguhin adegan seorang cewek (entah siapa) yang tiba-tiba lari keluar rumah seperti ketakutan dikejar-kejar sesuatu. Cuma pake hotpants sama tanktop, kasian banget gue liatnya. Dan ya, ujung-ujungnya dia seperti stuck di satu tempat, dan akhirnya mesti menerima nasib berupa kematian tragis.

First victim dalam film ini. So disturbing.

Tapi yah, elemen gore-nya sejauh yang gue inget cuma sampe situ aja. Ke depannya beneran mild (dari sisi gore-nya aja ya). Nah, walau elemen gore-nya nggak kelewatan, ditambah pesan moral tersirat yang cukup bagus buat jadi pelajaran, tetep aja film ini ngga bisa dinikmati sama semua umur. Ini karena cukup banyak adegan yang menampilkan ketelanjangan tanpa sensor. Walau kebanyakan nude scene ini dilakukan sama si kutukan, seperti misalnya si kutukan ini mengambil wujud seorang wanita yang sepertinya terluka parah setelah diperkosa. Wanita itu berjalan pelan mengikuti Jay tanpa mengenakan sehelai benang pun. Dan masih ada beberapa contoh lainnya yang bakal kalian temuin di dalam film. Berkat hal tersebut, wajar kalo film ini dikasih label R-rated. So be wise ya, Guys. Kalo masih di bawah umur ya mendingan jangan coba-coba nonton dulu. Nanti aja kalo udah gede.

So, is this movie so good?
Kesan pertama yang bisa gue rasain dari film ini adalah kreatif. Yup, issue dunia nyata yang memang lagi jadi issue penting, khususnya dalam hal pergaulan remaja di dunia barat (yang makin ke sini orang kita pun mulai banyak ikut-ikutan) dibikin jadi ide cerita horor menurut gue sangat kreatif. Yang gak terduga pun berasal dari style cinematography yang agak ngga biasa diterapkan di film ini. Elemen mencekam dan apa-apa yang dirasakan si tokoh utama lumayan tersampaikan pada pikiran penonton. Gue bisa bilang kalo Maika Monroe cukup berhasil menghidupkan karakter Jay di sini. Yang menjadi kekurangan adalah film ini di beberapa bagian terasa begitu lambat, dan bagian ending yang gue rasa agak sedikit absurd. Sementara secara keseluruhan film ini tergolong ringan dan mudah dimengerti. Ada sedikit plot twist, tapi nggak begitu wah kok, biasa aja. Memang pada akhirnya yang mesti diwaspadai adalah konten dewasa yang begitu kental. Definitely, not suitable for children under 18. So, I think this movie was good, apalagi nyaris ngga ada elemen jump scare. Worth to try di kala luang.

Score: 7,5/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team