Review Film LA LA LAND (2016)

LA LA LAND (2016) movie review by Glen Tripollo
Bisa dibilang gue nyaris ngga pernah nonton film ber-genre drama romantis apalagi dengan sisipan musical di bioskop. Tapi, jujur aja informasi soal film ini berhasil menyabet banyak penghargaan dan juga masuk ke dalam lebih banyak lagi nominasi penghargaan bikin rasa penasaran gue tergelitik. Apa bener sih film ini layak mendapat penghargaan segitu banyaknya? 

Terus, yang menjadi daya tarik berikutnya dari film ini bukanlah lewat sosok bintang yang memerankannya duluan (karena gue bukan fans Ryan Gosling maupun Emma Stone), melainkan sutradaranya, Damien Chazelle, yang sebelumnya berhasil bikin gue ketagihan lewat film drama musical WHIPLASH (2014)Yes, film itu berhasil merasuk banget ke dalam hati gue (lebay), berhasil nge-hook gue lewat lagu-lagu yang dimainkan, dan juga kualitas akting pemainnya yang luar biasa. 

Lantas, bagaimana dengan film Damien Chazelle yang satu ini? Yang pasti berkat nama beliau, gue jadi naruh harapan yang sangat tinggi buat film ini. Yuk, simak terus review film LA LA LAND (2016) ala gue berikut ini.

LA LA LAND (2016) menceritakan dua orang seniman berbeda bidang yang sama-sama memiliki mimpi. Sebastian (Ryan Gosling) adalah seorang pianis Jazz yang bermimpi untuk membangun klab classic Jazz demi menjaga budaya Jazz agar tidak punah ditelan zaman. Sedangkan, Mia (Emma Stone) adalah seorang wanita yang memiliki cita-cita untuk menjadi aktris, berakting baik untuk film maupun seni teater. Lewat musik Jazz, mereka berdua bertemu dan akhirnya memiliki keterikatan satu sama lainnya. Bersama-sama mereka berjuang membangun mimpi, saling memberikan dukungan, dan menjalani hidup yang bahagia bersama-sama. Namun, menggapai mimpi tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada intrik, konflik, dan keadaan yang seolah-olah menguji seberapa besar tekad mereka dan seberapa banyak pengorbanan yang siap mereka lakukan demi menggapai mimpi tersebut. Lantas, apakah akhirnya mimpi mereka tercapai? Gue saranin kalian mending tonton sendiri secepatnya untuk tahu kisah lengkapnya.

Kayaknya gue nggak bakalan bisa menjelaskan panjang lebar tentang film ini, karena bagi gue film ini sangat bagus dilihat dari berbagai sisi. Tapi ada beberapa poin khusus yang gue rasa cukup penting buat dibahas.

Mainstream story, outstanding presentation
Yep, kalo mengambil inti kisah film ini, sebenernya sangat mainstream di genre-nya. Intinya adalah tentang orang yang sedang berusaha menggapai mimpi dan ditambahin elemen percintaan sebagai alat pembangun konflik tambahan. Apakah cinta di sini bakal jadi bahan bakar semangat buat meraih mimpi, atau justru jadi penghalang seseorang untuk berkembang? Bagaimana dengan pengorbanan, sebesar apa pengorbanan seseorang demi cintanya dan demi mimpi-mimpinya? Udah biasa banget. Tapi hebatnya film ini dikemas dengan sangat baik dan berkelas. Outstanding presentation, dan hal tersebut bisa tercapai karena setiap bagian dari film ini digarap dengan sangat-sangat baik dan didukung dengan performa para pemainnya yang juga sangat-sangat baik dalam mendalami perannya.

Soal sinematografi misalnya. Bagaimana pengambilan gambar dengan angle yang pas dan pemilihan kamera yang sesuai, ditambah dengan pengeditan tone yang mendukung feel di dalam filmnya dapat menjadikan film ini begitu nyaman untuk dilihat tanpa mengganggu mata. Pengambilan gambarnya terbilang indah, di beberapa bagian adegan malah terkesan unik dan nggak biasa. Hebatnya sebagian besar adegan yang merupakan sequence panjang dengan banyak dialog, banyak gesture, perubahan emosi, dan berpindah-pindah tempat dari satu titik ke titik lainnya dilakukan dengan satu sorotan tanpa cut.

Dari sisi akting para pemainnya, semuanya keren, kecuali John Legend yang kaku banget (wajar lah ya karena basic dia itu penyanyi, bukan aktor). Gue sendiri bukan penggemar Ryan Gosling dan Emma Stone, sampe akhirnya gue ngeliat akting luar biasa mereka di film ini, pandangan gue sama mereka berdua pun berubah. Emma Stone yang gue tau dari film-film mainstream macem THE AMAZING SPIDER-MAN 2: RISE OF ELECTRO (2014) pun akhirnya jadi gue notice dan masuk ke dalam daftar aktris yang ternyata seriously talented versi gue, begitu juga dengan Gosling yang selama ini cuma gue tau dari akting mediocre-nya lewat film-film bernuansa komedi. Nah, karena kualitas inilah, chemistry antara karakter Sebastian dan Mia bener-bener kerasa dan bikin penonton bercampur aduk perasaannya melihat perkembangan kisah mereka. Cara mereka menghayati peran, berdialog, dan peralihan emosi sebagai akibat dari dialog yang mereka lakukan pun terasa sangat natural dan kayak bukan scripted film. Kampret emang, keren abis. Nggak salah lah ternyata baru gue tau kalo Gosling menang Oscar, sementara Emma Stone pernah menjadi nominee Oscar.

Best musical performances, best scores, and even best choreography
Sebetulnya gue agak jarang menikmati film-film musical, sebut aja macem INTO THE WOODS (2014), nah film ini simply berhasil nge-hook gue lewat adegan musical epic di pembukaan filmnya, artinya ini adalah the best musical performance bagi gue, bikin gue penasaran sama keseluruhan isi film. Dan ternyata keberhasilan pertunjukan musical ini bukan cuma di awal saja, melainkan keseluruhan adegan musical yang disajikan terasa fun to watch, to listen, and to enjoy, dengan koreografi keren dan ngga membosankan. Boro-boro ngantuk, pokoknya pandangan mata gue tertuju terus ke layar bioskop. Bahkan tanpa sadar gue ngegerakin jari and kaki nikmatin setiap beat musik yang dinyanyikan. Adegan musical ini tampaknya juga dibuat dengan sekali shoot dari awal sampe akhir performance, tanpa cut. How professional they are?? Gue berkali-kali nunggu pergantian pola sorotan kamera yang menandakan kalo di situ pasti di-cut, tapi ternyata the camera keep roll on, no cut, and gue muntah pelangi karena puas banget liatnya. Suara Emma Stone sama Ryan Gosling sebetulnya nggak bisa dikatakan bagus banget pas nyanyi, tapi bisa dikatakan sangat pas dan sesuai untuk lagu-lagu Jazz and Ballad yang mereka nyanyikan.

Gue baca artikel kalo katanya performance Gosling di film ini saat memainkan piano asli tanpa menggunakan hand-double. Jadi lagu yang dimainkan sudah direkam terlebih dahulu dari permainan musisi Jazz pro sungguhan, kemudian Gosling menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mendalami teknik penjarian si musisi. So, karena penjarian Gosling terlihat perfect, gue yakin aslinya pun dia bisa memainkan lagu tersebut. Gue pikir juga bagaimana mau memakai hand-double? Wong kameranya aja bergerak-gerak dinamis tanpa skip ke berbagai sisi menyorot Gosling dan permainannya. Ditambah gesture dan ekspresi Gosling yang natural saat memainkan musiknya cukup membuktikan kalau dia bener-bener paham sama apa yang dia lakukan. Keren abis lah. Satu lagi yang keren, Gosling and Stone tap dance bareng like a pro.


Pemilihan musik untuk film ini juga pas banget, lagu-lagunya nggak ada yang nggak enak didenger, dan punya lirik yang bercerita. Film ini membuat film musical sekelas PITCH PERFECT (2012) jadi sekedar film permen bersenjatakan lagu-lagu populer saja. Jauhlah kelasnya. Yang ini high class dan elegan banget. Bagaikan beragam film yang membahas kehidupan seniman (dancer, musician, actress) di-blend jadi satu dalam satu package yang unik dan luar biasa menarik, ditambah dengan konflik yang realistis dan suguhan romansa yang dramatis. Ibarat makan paket combo yang menu apapun ada, tapi porsinya pas dan nggak bikin kekenyangan atau kurang kenyang. Sangat cocok dan pas mendapatkan begitu banyak penghargaan internasional.

Nah, buat para orangtua yang mau nonton sambil bawa anak-anak, gue cuma mau bilang tolong dijagain putra-putrinya karena film ini cukup banyak menampilkan adegan kissing, tapi in a mild way kok. Gue mesti acungin semua jempol gue buat sang sutradara sekaligus screenwriter-nya, Damien Chazelle, yang udah berhasil dua kali berturut-turut bikin gue tercengang sama karyanya yang bernuansa jazz. Definitely waiting for his next masterpiece.

NB: Buat yang nggak tau kenapa judulnya LA LA LAND, itu adalah istilah untuk menyebut Los Angeles atau Hollywood, terutama merujuk pada orang-orang dan lifestyle orang-orang yang tinggal di dalamnya. Selain itu diartikan juga sebagai kondisi nyaman (menyenangkan) alias zona nyaman atau dunia mimpi. Well, the ending will be definitely an obvious concept of La La Land.

Score: 9,9/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

3 komentar:

  1. Saking terpesonanya, aku sampai nggak mencari artinya LA LA LAND. Kupikir itu cuma LA (singkatan dari Los Angeles). Ternyata ada arti lainnya juga. Dan artinya semakin menambah kesukaanku terhadap film ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kaget, baru aja mampir ke blognya, eh udah dikunjungin balik. Haha.
      Thanks ya kawan udah menyempatkan mampir di blog film ala kadarnya ini. :)

      Hapus
  2. Wah wajib nonton inih, oia om nanya dong, ryan gosling ma ryan reynolds itu sodaraan gak siy? kok mirip yah wehehe

    BalasHapus

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team